Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD133. Adu argumen


__ADS_3

Bang Daeng gelapakan seperti ikan di atas darat. Sesekali suaranya keluar begitu lepas. Ini kepuasan tersendiri untukku, aku bisa membuatnya sampai demikian.


"Jangan terlalu cepat, Abang udah gak lama lagi." ia menahan pinggangku agar tidak bergerak.


"Inalillahi." ucapku kemudian.


"Mau keluar, Bondeng! Betul-betul ya Adek ini!" bang Daeng langsung menggulingkan tubuhku.


"Berapa lama lagi Adek butuh waktu buat bisa keluar? Abang udah mandi keringat."


Padahal dari tadi aku tidak bergerak.


Ia memasukiku lagi dari samping. Aku mencoba rileks, saat dirinya menekan untuk semakin dalam.


"Uhh." sebelah kakiku langsung terangkat, posisi bang Daeng berada di belakangku. Ini adalah posisi sendok.


"Gak kocar-kacir, kita ulang lagi. Gak puas betul Abang. Durasi, oh durasi." aku dipompa olehnya.

__ADS_1


"Ya, cobalah buat aku kocar-kacir." sahutku kemudian.


"Ohh, nantangin rupanya?" bang Daeng menghentakkan goyangannya.


Aku tertawa renyah, dengan posisi yang masih sama. Aku pasti akan mencuci rambutku kembali, sebelum sholat dzuhur tiba. Semoga, ibadahku dan bang Daeng membuahkan hasil. Semoga, kali ini Yang Kuasa menitipkan nyawa di rahimku.


~


"Aku minta cerai!" aku menangis tergugu, saat melihat dirinya bertukar pesan dengan Putri.


"Ngomong apa sih?" kami sudah beradu argumen tiga puluh menit yang lalu.


"Abang bilang, Abang udah tak ada hubungan sama Putri. Sekarang, malah kalian tuker kabar." aku kembali menarik masalah yang membuatku seperti ini.


"Bentar-bentar." ia malah mengutak-atik ponselnya.


Apa lagi kalau dia tidak tengah membalas pesan dari Putri itu.

__ADS_1


"Ya... Tolong undur jadwal. Kita belum bisa langsung berangkat ke Palembang. Ada sedikit masalah di kos-kosan." bang Daeng berbicara seseorang dengan seseorang.


Lalu ia meletakkan lagi ponsel baru, yang baru dibeli dua hari itu. Kini sudah habis masa libur kami, pagi ini kita diminta langsung bertolak menuju ke kota Palembang. Namun, chat itu membuat hatiku hancur dalam sekejap.


"Sini Abang peluk." ia langsung merengkuh tubuhku begitu saja.


"Aku tau, Abang di Batam itu sama Putri kan? Abang kerja di walet lagi kan?" tubuhku kemudian.


"Abang udah jelaskan, Abang masukin barang ke Singapura. Kan deket aja itu dari Batam, cuma lima belas kilo meter. Putri cuma nanya kabar aja, chat biasa. Udah ala-ala minta cerai. Padahal, KK aja belum jadi. Kalau betul Abang keluarkan kalimat talak buat Adek, coba Adek bisa apa? Mau kabur ke mana lagi? Mau pulang ke mana lagi. Apa mau ngulangin hal yang sama?" bang Daeng begitu sombongnya padaku.


Aku mendorong dadanya, lalu aku semakin memojokkan tubuhku di tembok.


"Mulut lancang betul! Cerai! Cerai! Cerai! Apa Adek kira, itu gampang diucapkan laki-laki? Mangge aja nyesalnya seumur hidup, karena ngeluarin kata itu. Abang punya prinsip menikah sekali seumur hidup, mau itu cerai mati, atau cerai pisah. Kau yang diusahakan, dinanti-nanti, malah dengan mudahnya minta cerai. Kalau memang Abang salah, ya tegur. Ingatkan, lalu luruskan kembali. Kalau memang Abang terlalu jauh dan susah balik lagi, Adek usahakan itu. Ambil hak Adek, ambil milik Adek, ambil suami Adek kembali. Dengan Adek kemarin cerai, biarin orang ketiga nikah sama suami Adek. Abang udah paham di situ, Adek adalah orang yang gak bisa jaga keutuhan rumah tangganya. Abang tau itu, harusnya pun Abang gak ambil resiko buat nikahin Adek. Karena bakal ada begini-begini nih, apa-apa minta cerai. Kalau bukan karena hati, kalau bukan karena perasaan, Abang gak bakal opsi buat nikahin Adek." ia kini berbalik bersuara nyaring padaku.


Tangisku semakin pecah. Aku menangkap, bahwa ia menyesal telah menikahiku.


...****************...

__ADS_1


Jebret-jebret 🤦


__ADS_2