
Apa ini rahasianya, membuat mamah Dinda bisa sehebat ini? Ternyata, ia mempelajari semuanya. Mulai dari akibat, resiko, sudut pandang, hingga pembalasan.
Aku jadi teringat ucapan bang Daeng. Ia pernah berkata 'kenapa aku, sampai ia bisa demikian?' yang artinya, kita diminta untuk introspeksi diri juga.
Menilai dan menyadari kesalahan diri kita sendiri, itu lebih baik dari pada menghakimi kesalahan pasangan kita.
Bagaimana aku padanya, sampai ia bisa demikian? Jangan melulu membatin menanyakan kenapa dia sampai melakukan hal demikian. Karena, jawabannya itu pasti karena kita. Kitalah penyebab mereka melakukan tindakan fatal.
Berbagai macam sudut pandang sebenarnya. Bisa juga, memang laki-laki itu tamak dan tidak bisa berkomitmen.
Namun, jika kita berpikir demikian. Diri kita tidak akan pernah berubah, diri kita tidak akan menjadi lebih baik.
Dengan kita menyadari kekurangan kita, baiknya kita segera perbaiki. Agar kita menjadi orang yang lebih baik lagi dan yang paling terbaik. Yang terpenting, pasangan kita akan menyesal telah melakukan langkah yang salah. Karena kita menjadikan pengkhianatan satu kesalahan suami, sebagai penilaian akan diri kita sendiri.
Semangat untuk para wonder woman di luar sana. Kekuatan ada pada diri kita sendiri, perubahan dimulai dari diri kita sendiri.
~
"Mas Givan sayang." aku tengah selesai menuntaskan rinduku padanya.
Alhamdulillah, kami bermandikan air l*ur. Eh, keringat maksudku.
"Hmm?" matanya sudah terlihat nyaman, tetapi ia belum terpejam.
"Kita tak pernah nyambung dua ronde." aku menyangga kepalaku dengan tanganku.
Aku miring menghadapnya. Mas Givan sudah nyaman merebahkan kepalanya di atas bantal.
Ia memutar posisi tubuhnya menjadi miring menghadapku, "Kalau siang main, terus malem main, subuh juga main, itu dihitungnya apa?"
Eh, benar juga sih. Tapi bukan seperti itu maksudku.
"Coba ceritakan sedikit pengalaman kau ngerasain se*s dengan laki-laki lain, lepas kita pisah kemarin."
Huft....
Itu adalah jalan menuju perkelahian.
"Nanti aku dicekik sama Mas kalau cerita begitu." aku yang kini merebahkan kepalaku di bantal.
__ADS_1
Mas Givan terkekeh kecil, "Bener aku nanya aja. Nyobain siapa aja? Terus apa yang pengen kau coba bareng aku. Mungkin kau rindu cara laki-laki itu main, karena jelas tak mungkin sama dengan cara aku."
Jelas lah, ia main menekan-nekan kepalaku saja.
"Maksudnya nyobain siapa aja itu apa?" aku meliriknya kesal.
"Tinggal jawab lah, Canda. Aku tak suka kau malah banyak tanya." alisnya menyatu.
"Daengku aja, tak ada laki-laki lain." seingatku sih memang cuma bang Daeng yang sukses membuatku seperti ikan yang menggelepar.
"Masa? Raka? Ardi? Ghifar?" nama adiknya selalu ia tarik.
Aku mengangguk, "Main begituan cuma sama bang Daeng, itu pun setelah nikah. Pagi akad, malamnya aku gituan sama dia. Ya memang sih, sebelum nikah pernah ada aktivitas pelepasan juga. Tapi tak sampai se*s, cuma dio*al aja gitu. Raka tak pernah ngapa-ngapain. Sama Ardi, cuma pegang aja. Ghifar juga, cuma sebatas pemanasan. Karena, punya dia itu ngembang nih. Ngembangnya aja tuh udah cukup besar, Bang. Sayangnya, tak bisa keras. Jadi susah dipakai untuk pencoblosan."
Ia malah terkekeh geli, "Serius?" hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Aku mengangguk mantap.
"Besar siapa di antara orang-orang itu sama aku?" mas Givan menunjuk wajahnya sendiri.
Aduh, bagaimana ini? Aku takut ia marah.
"Jawab dong." mas Givan meraup wajahku.
"Masa aku kalah sama Ghifar lagi?" wajahnya langsung cemberut, "Kalau dibandingkan punya Ardi, Lendra sama aku sih? Besar mana?"
Harusnya ia mengganti pertanyaan dengan, lebih panjang siapa. Kalau besar, ia kalah semua. Jika panjang, ia pemenangnya.
"Canda!" mas Givan menuntut jawaban.
Aku harus menambahkan kalimat, agar ia tidak marah.
"Besar Ardi, tapi dia sedikit pendek. Bang Lendra, dia besar dapet, panjang juga dapat. Kalau Mas Givan, besar kepala, menang panjang aja. Tapi oke kok, Mas. Mirip-mirip mikrofon, jadi kek lagi karaoke, padahal sih lagi karokoe."
Tawanya lepas. Aku jadi ikut tertawanya saja. Waktu berharga itu seperti ini, di mana kita bisa bergurau dan mengobrol tanpa p*kaian.
Entah konsepnya bagaimana. Hanya saja, waktu yang tepatnya seperti ini. Mas Givan jinak, setelah ia merasa plong.
"Kalau skill deh, menang mana?"
__ADS_1
Pertanyaan apalagi ini?
Hufttt, aku sejak tadi menarik nafas dalam-dalam untuk menjawabnya.
Jika boleh jujur. Ghifar condong ke bermain dengan kelembutan. Ia sering menanyakan apa dia menyakitiku, apa aku nyaman, apa ini enak. Jika permainan lebih lanjut, aku kurang tahu juga.
Kembali ke skill. Kalian tahu siapa pemenangnya? Ya, bang Daeng.
Ia seperti tahu kira-kira. Ia tahu, bahwa posisiku harus begini, agar tidak sakit. Meski gerakannya suka mengagetkan, tetapi itu seperti daya tarik tersendiri. Dikagetkan, seperti mendapat sebuah surprise.
Untuk Ardi. Aku tidak tahu juga. Tanyakan saja ke Aini. Karena denganku kemarin, hanya sebatas sering berciuman saja.
Jika mas Givan. Aku lebih sulit mendeskripsikannya lagi. Karena ia adalah bentuk manusia yang tidak sabar. Egois dan mengulur-ulur waktu. Aku memberitahunya bahwa aku sudah dekat, ia pasti malah menyudahinya dan mencari putar balik, agar semakin lama waktu yang ditempuh.
"Menang Daengku."
Nyata, mas Givan langsung meraup wajahku dan mengunyel-ngunyel pipiku.
Aku mencubitnya, semampu tanganku meraih.
"Orangnya nanya-nanya, tapi tak mau kalau jawabannya bukan dirinya." aku menarik pipinya cukup kuat.
Ia tertawa geli, "Aku kan suami kau, puji sedikit lah."
"Tapi memang Mas kalah lah dibanding bang Daeng. Mungkin jam terbangnya lebih banyak Mas, tapi ilmunya lebih banyak dia." bukan aku memuji.
"Kan Gue bayar. Bodoh amat si perempuan puas tak, yang penting Gue puas. Cuma sama kau aja, aku penuh pertimbangan dan kira-kira. Salah gerak, nangis. Salah narik, nangis." mas Givan merenggangkan tubuhnya.
Uapannya pun begitu lebar. Mas Givan seperti susah dilanda mengantuk.
Tapi benar juga. Mas Givan membeli perempuan, untuk kebutuhannya. Jika bang Daeng, mereka sama-sama butuh.
"Eh, Mas. Enak kali ya, kalau mamah papah bisa sama-sama lagi?" aku mengusap dagunya.
Mas Givan memandangku, "Memang tadi mamah bilang apa, pas ngobrol sama kau?"
"Mamah bilang terserah papah. Papah minta mamah balik, bakal dipikirkan. Tapi itu papah harus jujur, terus apa tuh? Ya pokoknya, mereka perlu ngobrol dulu gitu."
Mas Givan terdiam, ia seperti tengah berpikir keras. Mas Givan pasti tahu, bagaimana ibunya mencintai papah Adi. Ia tak mungkin menjadi setega itu, untuk memisahkan kebahagiaan ibunya.
__ADS_1
"Ya udah. Nanti kita.....
...****************...