Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD69. Tunangan


__ADS_3

"Kita putus!"


Yes, aku berhasil.


Namun, aku malah tidak percaya dengan bang Daeng yang menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Maaf, Put. Jangan putusin aku."


Rahangku sampai terjatuh. Kenapa bang Daeng malah enggan untuk berpisah?


"Putus atau tunangan?!" ujar Putri, dengan menatap tajam bang Daeng.


Aku ingin enyah saja dari sini. Aku tidak suka dengan bang Daeng. Ia dibantu, tetapi malah enggan diputuskan.


"Mana bisa kek gitu?! Aku belum siap!" bang Daeng sudah tidak lagi memasang tangannya di depan dada.


"Putus atau tunangan secepatnya?!" bentak Putri.


"Iya, iya. Tunangan! Tapi nanti."


Detik itu juga, aku langsung membanting pintu kamar ini. Lalu aku segera menguncinya.


Apa-apaan ini?

__ADS_1


Susah-susah aku beralibi, malah mereka akan bertunangan! Bukannya cepat bang Daeng memilih putus saja. Padahal jelas, hubungan mereka sudah tidak sehat.


Bang Daeng lebih dekat padaku, ketimbang dengan wanita itu.


Sudahlah! Aku sudah tidak mau tahu apa-apa lagi.


Bang Daeng begitu serakah.


Ya, serakah adalah sebutan yang pantas untuknya.


Aku belum yakin, apa lagi meraba tentang perasaanku sendiri. Karena kini, aku masih dalam masa iddah.


Tapi dari kejadian ini, aku bisa memahami bahwa bang Daeng kemarin hanya bermain-main denganku. Ia hanya sebatas iseng padaku, bukannya benar memberi harapan untukku.


Mungkin, saat pekerjaanku sudah kembali. Aku hanya akan bersikap profesional saja. Aku akan mencoba tak acuh seperti kak Raya. Berbicara, ketika diajak ngobrol saja. Diam dan fokus pada ponsel, atau pekerjaan saja, saat tengah diganggu olehnya.


Kebaikannya seperti banjir di musim penghujan. Datang tak terkira, tetapi hanya untuk menghanyutkanku dan membuat panik hatiku. Setelahnya, banjir itu kembali surut dan mengalir di tempat yang semestinya.


Sungai, sama dengan untuk posisi Putri.


Putri adalah tempat bang Daeng untuk mengalir.


Sudahlah, sudah kesal aku.

__ADS_1


Aku memutar MP3 dengan volume full. Tak sudi rasanya mendengar raungan dan des*han dari kamar bang Daeng.


Tentu, memang dari kamar mana lagi?


Kamar bang Dendi tidak berpenghuni. Kamar paling ujung, kamar Rendi bede sabu pun masih kosong. Di lantai bawah, hanya kamar ini yang terisi. Jika bang Daeng tengah tugas perjalanan.


Padahal tadi dirinya terlihat risih, tetapi malah memuaskan Putri hatinya itu. Rasanya tak mungkin video dewasa, menciptakan bunyi keciprakan yang amat mengganggu telinga. Itu pasti real action, bukan lagi tengah menonton.


Lepas aku stabil, budi-budinya pun sudah kubalas seribu kali lipat. Aku akan pindah dari pekerjaan ini saja. Meski aku tahu, pekerjaan ini sangat cukup untukku. Tapi, aku tidak nyaman dengan siluman penghuni sungai yang terlihat tak berarus itu.


Terbukti hari ini. Nyatanya, arusnya begitu deras sampai membuat Putri becek-becekan.


Sudah tak paham lagi aku, apa yang ada di kepalanya otaknya.


Masa itu pun, aku yakin bang Daeng tidak benar-benar menolak selang*angan Putri. Hanya saja, ia malu padaku dan kak Raya.


Waktu dengan Venya pun, rasanya ia bukan benar-benar menolak. Bisa jadi, adu argumen saat itu malah tengah beraktivitas mengadu kelam*n. Ia menyamarkan dengan suara kencangnya, agar aku menyangka bahwa ia benar-benar sedang bertengkar dengan Venya.


Licik memang bang Daeng ini. Lebih lagi, malah dipelihara dan dibudidaya olehnya.


...****************...


Benar gak sih tuduhan Canda? Daeng begitu kah? Atau, di balik semuanya ada rencana Daeng lagi 🤔

__ADS_1


__ADS_2