Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD373. Menjaga anak-anak


__ADS_3

"Hoekkkkkk...."


Aku kembali meludah, karena tidak bisa memuntahkan apapun. Aku tidak tahan bau udang ini, rasanya begitu meng*cok perutku.


"Apa sih?"


Aku segera menoleh, pada seseorang yang mengusap punggungku.


"Mual, Mas." aku kembali membasuh bibirku dengan air yang mengalir.


"Gih, jaga anak-anak aja. Biar aku yang bersihkan udang." tangan mas Givan langsung bekerja.


Aku mengangguk, kemudian berjalan ke arah dispenser. Aku ingin menambahkan air hangat, agar rasa mualku lekas mereda.


"Ya, Mas." aku meninggalkannya di dapur, dengan membawa segelas air hangat.


Mamah Dinda membeli udang di mana ya? Kenapa bau udangnya begitu menyengat? Seperti udang yang lama tidak dimasak. Tapi, kepala udang tidak berubah warna menjadi oren. Tandanya, udang itu masih segar.


Aku mendengar suara tawa pelan, "Udah ada cucu malahan."


Sifat kepo langsung melambung. Aku melongok sedikit, dari pintu samping yang setengah terbuka.


Papah Adi?


Menelpon dengan siapa beliau? Kenapa wajahnya sampai dihiasi senyum yang begitu manis.


"Biyung... Adek Enceysa tak mau kasih pinjam Hadi."


Aku segera meluruskan pandanganku, pada anak kecil yang masih menggendong ransel karakter jerapah itu. Padahal kosong ransel itu, tapi Hadi enggan melepasnya.


"Yuk ke depan yuk?" ajakku dengan menggandeng Hadi.


Aku takut mengganggu mamah Dinda yang tengah beristirahat. Kasian beliau, tidak tidur sejak semalam. Entah aktivitas apa di luar sana bersama Ghifar dan Kin. Entah pengobatan apa yang Kin jalani, sampai menyita waktu mamah Dinda.


Tak lama kemudian, mas Givan selesai dengan udangnya. Ia langsung tancap gas, dengan dokumen yang sudah aku tanda tangani. Bukan peralihan hak milik, hanya surat kuasa biasa. Ya, di mana mas Givan tidak bisa menjual asetnya secara langsung. Aku pun, memiliki hak untuk melakukan apa saja dengan aset-asetnya.


"Kak Key mana sih?" anaknya Zuhdi ini lancar bertanya, membuat rasa kantukku sirna.


"Sekolah, Hadi. Nanti jam sepuluh pulang. Bang Chandra, kak Key, kak Jasmine, kak Kal juga."


Kal sudah PAUD. Sedangkan saudara yang lain, mereka masuk taman kanak-kanak. Aku tidak pernah memikirkan Chandra untuk PAUD. Karena menurutku, TK saja sudah cukup. Jika Kal, planning pendidikannya sudah terencana oleh ibunya. Mungkin karena hal itu, Kin disebut sebagi ibu yang terbaik.

__ADS_1


Aku mendengar cerita, Kal akan masuk pondok pesantren saat ia masuk SMP. Sedangkan paman-pamannya, sedang proses masuk pondok pesantren. Baru Gavin saja, ia masuk SMP tahun ini. Tapi ia dipesantrenkan oleh mamah Dinda dan papah Adi. Pondok Pesantren Da*ul Ami* G*ntor 10 Aceh Besar, pondok pesantren yang sering dibahas oleh mamah Dinda dan papah Adi.


Jarak dari tempat kami, ke pondok pesantren yang menjadi tempat mencari ilmu Gavin. Berjarak sekitar enam jam, begitu jauhnya ia dipesantrenkan. Tapi memang ilmunya harus seperti itu. Anak laki-laki jangan dipesantrenkan di kota sendiri, semakin jauh jaraknya dari rumah, semakin bersungguh-sungguh anak itu menuntut ilmu. Juga ia tidak akan berpikir untuk kabur, karena jaraknya yang jauh.


Tapi ngomong-ngomong, aku pun dipesantrenkan cukup jauh. Sekitar tujuh jam perjalanan, dari kampung halamanku di Solo ke pesantrenku dulu di Cirebon. Santriwati abadi, aku sejak MI atau SD sudah dipesantrenkan sampai kuliah semester dua. Setelah itu aku menikah, kemudian di boyong ke Aceh Tengah ini. Jauh sekali memang, bahkan tak pernah terpikir sebelumnya. Mana aku tak pernah mudik lagi, sejak menikah dulu aku di sini-sini saja. Kabur ke Padang pun, kini kembali lagi ke Aceh Tengah.


Hafizah Qur'an, jejak rumah tangga pernah bercerai. Padahal aku tahu, perceraian itu adalah perkara halal yang dilarang. Namun, aku malah dua kali melakukannya. Otakku tak terkoneksi dengan hatiku. Otakku paham dengan hukum tentang perceraian, tetapi hatiku saat itu memaksa untuk berpisah saja. Ya mungkin seperti ini, perempuan sampai disebut sebagai tulang rusuk yang bengkok.


Trek.... Trek.....


"Hai..... Kari Ayam." Hadi berlari ke arah pagar.


Terserah Hadi saja sudah, Kafi menjadi Kari Ayam.


"Adi....." Ceysa berlari menyusul Hadi.


Sepertinya, anak-anak itu kesusahan membuka kunci pagar.


"Bentar-bentar!" aku berjalan ke arah pintu gerbang.


"Kari mau main ya?" tanya Hadi pada bungsunya Ghifar.


"Apa sih?! Kapi, Kap, Kap." terang Kaf, setelah pintu pagar aku buka dan Kaf masuk.


"Khap, Khap." ujar Ceysa dengan manggut-manggut.


Aku melihat Ceysa, seperti melihat anak ayam yang mengekori induknya terus. Ceysa selalu mengikuti langkah kaki Hadi. Mana dress-nya kebesaran, di bagian bahunya melorot sebelah.


"Sawadikhap." Hadi malah ikut manggut-manggut seperti Ceysa.


Anak-anak ini begitu receh. Ada saja tingkah lucunya.


"Mama papa aku bobo, Yung." Kaf sering berbicara dengan nada pelan dan lembut.


Seperti papanya itu.


"Kaf izin tak main tuh?" aku membiarkan mereka bermain sepeda roda tiga dan mobil mainan berukuran besar yang bisa dinaiki.


"Kap tulis gambal, Kaf ain di nenek."


Aku hanya mengangguk, kemudian duduk di teras rumah. Aku memperhatikan mereka, sampai menguap beberapa kali.

__ADS_1


Tiba-tiba, aku melayang. Aku terkejut bukan main, dengan meraih apa saja yang bisa aku gapai.


"Tidur di kamar! Ini bukan rumah kita!"


Aku langsung mengganduli leher mas Givan.


"Aku tak tidur kok."


"Tak tidur, tak tidur! Kau sampai ngeces!" aku mendapat lirikan tajam itu.


Aku sudah direbahkan di atas tempat tidur kami. Kemudian, aku mencekal tangannya.


"Mas...." aku menahannya.


"Mau jemput Chandra, tadi ke sana belum pulang sekolahnya. Anak-anak udah dijaga papah. Kau lanjut tidur aja udah." mas Givan melepaskan tanganku.


Kemudian, ia berjalan dan mengambil sesuatu di nakas.


"Mas.... Ikut. Katanya mau makan di luar." rasa kantukku sudah hilang.


Tadi pagi aku dipaksa makan bubur ayam di depan posyandu. Mau tidak mau, karena mas Givan memaksa aku untuk makan lebih dulu.


"Mamah belum bangun, Canda." ia duduk sejenak di tepian ranjang, dengan membaca dokumennya.


Itu adalah dokumen lain, bukan dokumen yang tadi sempat aku tanda tangani.


"Putri itu gimana ya? Udah pulang, datang lagi. Kirain tuh udah selesai, debat terus tak ada udahnya." mas Givan mengajakku berbicara, atau menggerutu?


"Masalahnya tuh apa, Mas?" aku bangkit, lalu mengusap bahunya.


Mas Givan melirikku sekilas, "Tak paham lagi. Tak jelas loh, Canda. Di narik masalah, perjanjian awal itu. Yang aku kasih badan, kalau aku gagal bisnis. Ini dalam arti sederhana, aku bakal nikahi dia, itung-itung dia beli aku dari uangnya yang bantu bisnis aku itu. Bisnis aku lancar, badan aku juga dia udah nyicipin. Yang artinya kan, perjanjian itu batal kan? Karena bisnis aku jalan nih, aku juga ganti semua uang dia. Menurut kau, titik permasalahannya itu di mana?" mas Givan menjeda kalimatnya, "Berbual dari A sampai Z, bawa-bawa kau, bawa-bawa anak-anak. Menurut aku, ini tak ada sangkut pautnya. Tarik lagi dia tentang pembahasan masalah panai itu, uang itu udah aku ganti loh. Aku bulatkan semua, dengan total uang dia yang masuk ke bisnis aku. Kalau toh 20 milyar katanya, dari uang mamah tuh masuk sekitar dua puluh lima milyar tiap bulan buat cover utang aku ke Putri. Satu bulan aja, aturan udah lunas dong masalah panai itu?"


"Memang Putri ada di mana sekarang, Mas?" aku menelan ludah, mendengar cerita suamiku.


Berapa lama lagi ia harus menyicil, jika setiap bulan dicicil senilai dua puluh lima milyar? Aku ikut pusingnya saja. Aku teringat ucapan bang Daeng, yang mengatakan mas Givan banyak hutangnya.


"Ada di.....


...****************...


Aduh wong ganteng, akeh utang e 😢

__ADS_1


__ADS_2