
"Pah...." aku menjenguk papah yang sudah kembali ke rumah Kinasya.
"Hmm?"
Ya Allah, kurusnya beliau. Kemana perginya biceps gagah itu? Pasti beliau tidak kuat menggendongku, saat aku melahirkan nanti.
Ya, mungkin saja ada drama seperti biasa. Papah Adi kan sering menggendong-gendong menantunya ini.
"Pah, sehat dong Pah." aku langsung bersandar di lengan beliau.
"Papah sehat." beliau duduk di sofa ruang tamu rumah Ghifar.
"Iya, Papah bulan depan harus jagain aku di rumah sakit. Jadi Papah harus sehat." aku memeluk lengan ringkih ini.
Kecot sekali pak tua ini. Papah Adi langsung terlihat begitu tua dan lemah, setelah ditinggal istrinya empat bulan.
Lihat mamah Dinda. Beliau tetap saja mo*tok. Bahkan, kini namanya dikenal banyak orang lagi. Satu dua dengan Yuni Shara lah, kulit mamah Dinda tidak lekang oleh waktu seperti Yuni Shara.
"Jangan ngomong jelek, Canda." papah mengusap kepalaku.
Aku mendongak menatap beliau. Di lihat dari sisi mana saja, papah Adi tetap terlihat lemah. Sekali tendang, sepertinya langsung mental sampai pulau Weh.
"Papah tak tau ya berarti?" papah Adi langsung menggeleng cepat.
Ia menegakkan punggungnya, kemudian mengambil gelas yang airnya berwarna hijau. Seperti ramuan nenek sihir. Tapi, dari baunya itu seperti air rebusan seledri.
Otomatis, pelukanku pada lengannya lepas. Aku kini berganti memeluk bantal sofa.
"Pah, aku tuh nanti mau disesar. Dari kandungan tujuh bulan, sampai sekarang aku USG rutin. Vonisnya tetap sama. Bayi aku besar, pundaknya tak bisa keluar dari serv*ks. Belum lagi plasenta previa, jalan lahirnya tertutup ari-ari." aku rutin pergi USG dengan ibu atau Ria.
Trek.....
__ADS_1
Dudukan gelas itu berbenturan dengan meja kaca. Kemudian, beliau menatapku dengan mata yang terlihat lebih besar. Karena tubuhnya mengecil, membuat matanya pun terlihat sebesar mata ikan asin.
"Bilang ke mamah kau, Canda. Kau diam-diam aja, kek tak punya orang tua."
Heh?
"Mamah udah tau. Tapi belum ada pembicaraan lanjutan, mamah masih sibuk. Hari itu cuma bilang, bahwa mungkin plasentanya bisa bergeser." aku agak-agak lupa dengan scene ini.
"Ya Allah." papah Adi mengusap-usap perut besarku.
Kalian pasti tidak percaya, bahwa janinku sekarang memiliki berat badan empat ribu lima ratus gram. Ya, seberat empat setengah kilo.
Alhamdulillah bayiku sehat. Tapi pasti ia begitu raksasa, saat baru keluar dari perutku.
Aku menggoyangkan lengan beliau, "Papah dong ngomong ke mamah." aku mungkin bermuka dua di sini.
"Ngomong apa?" beliau malah menyandarkan punggungnya kembali.
Papah Adi melirikku sekilas. Kemudian, beliau memalingkan pandangannya ke arah lain kembali.
"Biar mamah yang ceraikan Papah, Papah tak mau proses. Papah udah ngomongin ini ke mamah, waktu Papah jemput mamah. Mamah di situ lagi sama laki-laki lain. Tak ada pembelaan juga dari mamahnya." pantas saja beliau diam saja, saat pulang seorang diri masa itu.
Ternyata, beliau sedang di ambang kekecewaannya.
"Mungkin itu orang dari studio lagi, rekan kerja mamah. Soalnya aku di sana beberapa hari, memang ramai laki-laki datang, tapi dari pihak studio semua." papah Adi langsung menoleh ke arahku.
"Kalau memang kek gitu, harusnya mamah jelasin ke Papah. Itu mamah diam aja. Kek kemarin aja, sendirinya sibuk terus. Katanya kalau mau ngomong, ya tinggal ngomong. Papah tersinggung, Papah tak merasa dihargai. Padahal bela-belain sehatin badan biar nemuin mamah kau. Tapi, sampai sana tanggapannya datar aja."
Ya ampun, apa aku perlu mengatakannya? Ya, hitung-hitung sebagai booster untuk papah.
"Mamah tuh mau Papah bujuk, Papah usahain mamah. Bukannya Papah welcome sama ibu Bilqis itu. Menurut aku, ibu Bilqis itu tak ada apa-apanya sama mamah. Kalau Papah suka sama ibu Bilqis karena popularitas. Mamah di sini lagi mulai merintis popularitasnya. Mamah jadi model baju abaya begitu. Baju yang dipakainya ribet gitu nah. Nama mamah pun dikenal lagi, sebagai penulis yang lama vakum. Usaha PO pakaiannya pun, nanti akan merambah ke konveksi rumahan. Nanti sama aku katanya, buat kesibukan aku. " aku menerangkan tanpa jeda.
__ADS_1
Aku sampai ngos-ngosan sendiri.
"Papah tak begitu jauhnya sama Bilqis. Tak suka dia karena popularitas juga. Papah yang dari dulu pengen popularitas mamah redup, masa iya Papah cari perempuan yang popularitasnya tinggi?"
Dengan ucapannya seperti ini, berarti papah memang benar membenarkan hubungannya dengan ibu Bilqis kemarin.
"Terus Papah suka ibu Bilqis karena apa? Apa tak ada yang sama dari mamah?" tanyaku kemudian.
"Tak suka, sedikit tertarik aja." jawaban macam apa itu? Tak ada bedanya menurutku.
"Ya udah lanjutin aja sama ibu Bilqis. Aku cuma ngasih tau Papah, kalau mamah besok sampai. Kalau memang mau cerai, mamah minta Papah yang proses segera. Kalau mau balik, ya silahkan diobrolkan. Mas Givan pun udah kasih wejangan itu. Udah bolehin Papah ngobrol sama mamah. Kalau memang Papah yang pengen mamah proses cerai, mamah pun demikian. Ya udah, biar kita anak-anak aja yang ngurus perceraian. Terus nanti gimana enaknya kan gitu? Papah ikut siapa, terus mamah ikut siapa. Terus kita semua selesai. Tak ada saudaraan lagi, karena mas Givan tak ada sangkut pautnya sama keluarga ini. Aku ya ikut suami, yang kemungkinan terbesarnya mamah ikut anak sulungnya juga. Mungkin pun kita jual rumah yang di sini, kita pindah ke Kalimantan Timur aja. Anak-anak juga sama, ibu sama Ria pun aku bawa sekalian. Kita masing-masing aja. Papah dengan kehidupan baru Papah, mamah dan aku sama mas Givan." aku berbicara bercampur dengan emosi.
Rasanya begitu susah mengatur dan menasehati orang tua.
"Mana bisa begitu?" aku bisa melihat reaksi panik dari papah.
"Kenapa tak bisa? Kami bisa patungan, atau mas Givan pribadi yang ngajuin perceraian dari mamah untuk Papah. Sekali pun Papah maunya mamah sendiri. Itu mudah aja, bahkan kemarin mas Givan pernah ngomong tentang perceraian mamah sama Papah." biar saja, biar melek pak tua ini.
"Ini urusan orang tua, Canda. Anak-anak punya batasan." segala mengingatkan. Aku paham, aku hanya ingin mereka cepat kembali.
"Aku cuma ngasih tau aja. Mamah bilang keputusannya ini final di enam bulan, artinya dua bulan lagi. Kalau Papah masih mau gantung begini, ya udah jalan keluarnya anak-anak yang proses. Biar tak nambah dosa. Papah tak dihitung berzina sama ibu Bilqis itu. Mamah mau nikah lagi, atau mau menjanda free se*s pun, itu udah dosa mamah pribadi. Papah udah tak menanggung dosa mamah lagi, kalian resmi berpisah. Udah bukan urusan Papah lagi. Kalian udah bebas. Enak untuk diri masing-masing. Papah bebas, mamah juga bebas." ku mengerti ucapanku sedikit kasar.
Biarlah.
Papah jika tidak dibeginikan, beliau tidak akan mau mengerti.
Setelah mengatakan hal itu, aku beranjak pergi tanpa menoleh sedikitpun. Biarkan papah pusing lagi, lalu darahnya naik lagi. Lalu mati sekalian, biar aku tidak pusing begini.
Biar nanti anak aku yang ini, merasakan di ajak ke ladang bersama kakek barunya saja. Atau pinjam dato Yusuf, kakeknya Ceysa dan Jasmine.
Biar saja, aku gemas seperti ini. Papah Adi terlalu mengulur-ulur waktu.
__ADS_1
...****************...