
"Pakai pelayan kan biasanya, Tan?" tambah mas Givan.
Tante Shasha mengangguk, "Pelayan kan buat ngelayan Chic-Chic." jawab tante Shasha kemudian.
"Haikal tuh, Tan. Udah masuk ke ladang papah, malah dia minta berhenti sendiri. Papah sih terserah, paham bahwa megang ladang tanggung jawabnya besar. Pikir papah, mungkin Haikal tak mampu nanganinya." terang mas Givan kemudian.
Aku sudah fokus pada menu. Aku sudah menandai beberapa menu di dalam pikiranku. Aku akan membelinya juga untuk Giska dan mamah Dinda. Biar nanti aku bilang ke mas Givan, biar uangnya aku ganti.
Mas Givan dan tante Shasha pun asyik mengobrol. Mereka masih membahas tentang Haikal dan pekerjaannya.
"Tan, aku mau... Chic Shilin Chicken Reguler varian barbeque satu. Chic Crispy Chicken Skin kah Tan namanya?" aku menoleh padanya.
"Iya, kulit ayam. Jajanan anak kau itu. Kedoyanannya kulit ayam."
Aku malah dibuat melongo. Yang benar saja, Chandra doyan kulit ayam?
"Terus apa lagi?" tanya tante Shasha.
"Bikin yang biasa aku pesan aja, Tan. Canda kebanyakan melongo." mas Givan memasang wajah judesnya.
"Tak mau aku. Itu sih pesanan istri kau. Nanti, nanti... Kau makannya sama aku, pikiran kau di doi melulu." aku fokus kembali pada menu ini.
__ADS_1
Tante Shasha dan mas Givan melepaskan tawanya.
"Mak kau buat list nih. Hutang dulu katanya, besok papah anterin uangnya. Givan sama Canda mana mampu jajanin katanya." tante Shasha menunjukkan layar ponselnya padaku.
Aku langsung menangkap bacaan itu.
"Pesan banyak kah, Tan?" tanya mas Givan kemudian.
Tante Shasha mengangguk, "Banyak, lumayan. Ada sih harga tiga ratus ribuan." jawab tante Shasha dengan menuliskan sesuatu di buku kecil.
Mungkin ia tengah menyalin catatan dari mamah Dinda.
Saat aku pergi, tante Shasha belum memiliki warung jajanan seperti ini. Beliau berjualan salak pliek dan salak super tebai dulunya. Semacam manisan, tapi superstar-nya buah salak.
"Satu paket isi tiga ya, Tan?" aku masih membaca isi meni ini.
"He'em. Nanti dibawa aja struk pembayarannya ya? Bayarnya nanti pun tak apa." ia masih mengutak-atik ponselnya.
"Aku mau satu aja, Tan." aku ingin jajan sendiri.
"Apa?" aku melihat tante Shasha sudah bersiap dengan bolpoinnya lagi.
__ADS_1
"Chic Shilin Chicken Reguler, satu. Large-nya, satu. French fries, satu. Dori crispy, satu. Kulit ayam, satu. Saus barbeque, lada hitam, keju mozzarellanya satuan semua."
Aku mendapat lemparan tisu dari arah depan. Aku langsung meluruskan pandanganku, hingga terlihat jelas wajah masam mas Givan.
"Itu bukan satu, Bodoh! Satu buku kau acak satu persatu menunya." tukas mas Givan dengan lirikannya.
Tawa geliku terdengar, "Jadi salah lagi nih aku?" aku masih terkekeh.
"Ya udah deh, Tan. Aku utang dulu aja kek mamah, mas Givan keknya tak punya uang." ujarku dengan menyentuh lengan tante Shasha.
Tante Shasha tertawa renyah. Ia pasti ikut gelinya saja, saat keluarga juragan jajan dengan dibayar hutang ini.
"Mampu! Lancang kau!" mas Givan ikut melepaskan tawanya sembari berbicara.
"Nah... Gitu, dong. Coba dari dulu jajanin. Bertahan nih aku." ucapku sembari memandang wajahnya yang berubah-ubah ekspresi tersebut.
"Jangan ngomong apapun. Kalau tak mau nanti aku bawa ke tengah ladang."
...****************...
Dibawa? Ke tengah ladang? Ngapain? Serius? Awas kemasukan tanah. 😌 Congkel-congkelnya sudah 😝
__ADS_1