
"Lawan! Mulut kau ngomong! Jangan cuma abang-abang aja. Jadi perempuan, yang mulutnya pedas. Jangan cuma ngerengek abang-abang aja. Laki-laki gak akan lepaskan mangsanya, kalau keadaannya udah kek gini. Keluarin makian yang pantas, buat laki-laki yang ada di atas kau sekarang." ucap laki-laki yang berada di atasku sekarang.
Sebenarnya, ia dalam misi apa?
Ia sadar, tapi ia malah memintaku untuk memakinya.
"Kepastian." jawabku cepat.
Aku merasakan cengkraman tangannya pada pergelangan tanganku berangsur merenggang.
"Bodoh!" makinya cepat. Lalu ia langsung menegakan punggungnya kembali.
"Kalau kau minta kepastian, laki-laki pasti kasih itu. Tapi tidak dengan kebenarannya. Janji-janji manisnya pasti keluar semua, asal dia bisa ngelakuinnya sama kau sekarang juga. Yang cerdas coba, Dek! Kau jangan bodoh! Mau berapa kali lagi jadi janda!" ia menatap lurus dengan menyugar rambut kepalanya.
Aku mengusap air mataku yang sempat menetes, lalu aku menarik tangannya agar ia menoleh padaku.
"Abang nikahin aku aja. Aku takut dipaksa gini-gini, aku trauma. Aku tak apa dinikahin, asal jangan zina." ungkapku kemudian.
"Udah ya? Pergi dulu."
__ADS_1
Aku tak menyangka, ternyata kak Raya masih duduk di tepian tempat tidur. Ia berjalan pergi, meninggalkan ruangan ini.
"Dek..." aku mendapatkan usapan di pelipisku.
"Nikah itu gampang, tapi bagaimana nanti setelah pernikahan? Itu yang Abang pikirkan. Kalau kau memang gak mau jadi kek Enis, ya tepis perasaan kau. Sampai saat ini, Abang ini kasian terus sama kau. Coba tengok besok ke rumah keluarga besar Abang, Adek nanti coba masih ada rasa gak sama Abang. Semoga aja, bisa luntur itu rasanya."
Aku tertunduk malu, mendengar ucapan bang Daeng.
"Aku tak ada rasa sama Abang." aku mengalihkan pandanganku ke arah televisi yang menyala.
Namun, ia malah membawa wajahku agar menghadap padanya kembali.
"Kebaca dari mata kau. Dari hari kau minta Abang putusin Putri, itu udah nampak kau ada rasa sama Abang. Tolong, Canda. Jangan dilanjutkan perasaan itu, Abang bukan orang yang baik. Apa lagi, minta Abang nikahin kau."
Hatiku seperti terselimuti pilu. Apakah ini penolakan?
Aku meraba perasaanku lebih dalam. Mencoba memilah rasa yang berbeda pada tempatnya.
Aku tak mau mengakui itu, kalau memang dia adalah orang yang menarik rasa minatku.
__ADS_1
Aku menggeleng, aku ingin menepis kebenaran itu.
"Jangan sampai ada Enis-Enis yang lain. Demi Allah, Abang gak maksud buat ghosting dia. Bentengi lah hati kau, macam Raya. Jangan sampai perasaan kau lebih berkembang untuk Abang. Malah yang ada nanti kita saling menyakiti."
Aku memandang matanya, mencoba mencari kebenaran dari makna ucapannya.
Ungkapannya terlalu luas, aku tidak bisa memahaminya. Aku malah lebih penasaran, dengan laki-laki bertato ini.
"Ada apa sebenarnya? Udah putus kah sama Putri?" tanyaku kemudian.
"Enis pun tak tau tentang ini. Biar esok kau tau sendiri di sana. Hanya Putri yang tau tentang ini. Masa kejadian di kos Padang, Abang bawa Putri ke rumah Makassar. Putri langsung drop, langsung rujuk rumah sakit. Tapi lepas itu, dia tetap nerima Abang. Abang pikir, dengan ngasih tau yang sebenarnya. Putri bakal mundur teratur, tapi nyatanya dia sekuat itu pengen miliki Abang. Putri udah kek gini, dia udah mau tetap bertahan sama Abang, dengan mulut Abang yang pernah kasar sama dia. Rasanya... Abang terlalu tega, kalau harus ninggalin Putri dengan semua kelapangannya. Khawatir... Malah gak bisa nemuin perempuan kek Putri lagi."
Aku menahan tangisku, mendengarnya malah memuji wanita lain. Entah itu disebut apa, tadi ucapannya seolah meninggikan Putri.
Sebenarnya apa yang aku rasakan padanya? Aku tak mampu menjawab, aku tak mampu mengartikan rasa minat ini.
...****************...
Apa yang akan terjadi besok di rumah Makassar?
__ADS_1