Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD294. Tamu malam


__ADS_3

Malam harinya, selepas isya aku dikunjungi oleh pelaku yang membuat moodku buruk seharian ini. Ditambah lagi, Ria yang menguji kesabaranku. Ia selalu mengatakan nanti, jika diminta untuk segera mandi dan sholat.


Gemas betul rasanya hari ini.


"Dek.... Diam aja." bang Ardi mencolek pinggangku.


Ia tengah duduk di sofa favoritnya, dekat tralis besi.


"Hmm..." aku meliriknya sekilas, lalu aku kembali untuk diam bersedekap tangan.


"Ceysa..." panggil bang Ardi, pada gadis kecil kloningan bang Daeng itu.


"Eummm." Ceysa menoleh dengan mata yang selalu aku rindukan itu.


"Lagi ngapain?" tanya bang Ardi kembali.


"Mpe..." Ceysa kembali fokus ke layar yang menyala itu.


Ya, ia tengah bermain ponsel. Ia tengah melihat lagu anak-anak, yang sudah aku download.


"Jajan yuk?" bang Ardi mendekati Ceysa.


Ceysa menggeleng, ia tidak mau diganggu sepertinya. Jika sudah bermain ponsel, Ceysa kadang sampai pulas di tempatnya. Di mana pun ia tengah menonton ponsel, ia pasti terlelap di tempat itu juga.

__ADS_1


"Ceysa tak pengen jajan?" tanya bang Ardi kembali.


Ceysa menggeleng kembali. Ia benar-benar tidak ingin diganggu rupanya.


"Biyungnya ngambek, Ceysanya sibuk. Bete Abu." bang Ardi ikut bersedekap tangan sepertiku.


"Keknya... Kita istirahat aja dulu." aku sudah memikirkan matang-matang tentang ini.


Bang Ardi cepat-cepat kembali ke tempatnya, tepat di sampingku juga.


Aku benar-benar dilanda stress hati dan pikiran.


Pemasukan hari ini, benar-benar jauh dari target. Aku harus memikirkan usahaku ke depannya, agar aku tetap bisa menghidupi keluargaku.


Sehari, biasanya aku bisa menghasilkan pendapatan sampai satu juta setengah. Namun, hari ini hanya sampai tujuh ratus ribuan.


Bersyukur, sudah.


Alhamdulillah.


Namun, rasanya aku patah semangat saja.


Untuk kebutuhan anak-anak, seperti diapers dan cemilan yang aku stok. Lain-lain sebagainya, sampai dengan pakaiannya. Memang aku kadang-kadang, menggunakan dana yang sudah diberi ayah-ayah mereka. Ya siapa lagi, kalau bukan bang Daeng dan mas Givan.

__ADS_1


Namun, tetap saja lebih praktis menggunakan uang yang aku dapatkan dari toko. Karena aku tidak perlu bolak-balik ke ATM, yang letaknya lumayan jauh dari sini.


"Istirahat gimana?" bang Ardi menekuk satu kakinya, ia menghadap padaku.


Aku berkontak pandang dengannya, "Break, mungkin. Keknya, kita perlu yakini perasaan kita masing-masing." aku membuang wajahku ke arah lain, "Aku trauma, dengan laki-laki pembohong. Sekali kebohongan terkuak, keknya perasaan aku samar ke Abang." lanjutku kemudian.


Bang Ardi menyentuh lenganku, membuat tanganku yang saling bertolak ini luruh begitu santai.


"Apa?" aku memandang wajahnya kembali.


Aku bisa melihat semburat kepanikan di wajahnya.


"Kok gitu? Abang bohong apa memangnya?" alisnya menyatu.


Aku memijat pelipisku, kemudian aku menghempaskan tangannya yang masih mencekal lenganku.


"Yang pertama... Motor Abang, bocor ban. Tapi pagi tadi, Abang bilang sengaja tak bawa motor karena pengen lurusin masalah kita. Yang kedua... Tiga bulan lebih kita jalin hubungan. Tapi, dua bulan yang lalu Abang baru putus sama Aini." aku memandang dingin, "Itu baru yang aku tau, belum lain-lain yang tak aku tau." aku membuang nafasku kasar.


Ia menggenggam jemariku, "Adek tak percaya sama Abang?" tanyanya kemudian.


...****************...


Percaya aja deh, biar Abang seneng 😑

__ADS_1


1 episode lagi jam 3 nanti 😌


__ADS_2