
Aku tertegun melihat rumah yang begitu megah. Memang rumah keluarga mamah Dinda dan papah Adi pun semegah ini, malah lebih luas tanahnya. Tapi, milik keluarga bang Daeng memiliki pilar bak istana.
"Biasa aja kali!" mungkin bang Daeng sadar arah pandanganku. Aku begitu tak percaya melihat b*bi guling, yang ditusuk dari mulutnya sampai tembus ke bagian belakangnya.
"Non muslim mereka." tambah bang Daeng, ia tengah duduk di sampingku.
Aku sudah berkenalan dengan keluarga bang Daeng. Mereka memiliki urat wajah yang tegas semua. Bahasa sehari-hari yang mereka gunakan, adalah bahasa Makassar.
"Dikta di belakang sama Ferdi." ucap seseorang yang dipanggil nene oleh bang Daeng.
Dikta siapa?
Ferdi siapa?
"Yuk, Dek." bang Daeng menarik tanganku.
Aku mengangguk, lalu mengikuti langkah kaki bang Daeng.
"Bang Daeng, Bang Daeng... Nanti aku dikasih makan daging guling itu?" tanyaku lirih, saat mampu menyelaraskan langkah kakiku.
"Kalau doyan, ya makanlah. Abang sih gak kepengen, ingat semasa hidupnya itu b*bi." aku terkekeh geli mendengar jawabannya.
"Bebek, ayam pun. Mereka jorok lah, Bang." sahutku kemudian.
"Memang... Tapi, kau belum tau kan cara b*bi makan?" ia bertanya dengan menoleh padaku.
Aku menggeleng sebagai jawaban. Karena seumur hidup aku hanya tahu cara hidup ayam, sapi, bebek dan unggas lainnya.
"Eh, kok beda sama yang kemarin?" sapa seorang laki-laki, yang terlihat lebih dulu saat bang Daeng mendorong pintu tersebut.
__ADS_1
"Beda, ini perawan. Kemarin perawannya udah dimakan." jawab bang Daeng dengan terkekeh geli.
Aku tersenyum ramah pada laki-laki berjas putih tersebut. Ia terlihat rapi tanpa tato satupun.
"Daeng...." suara ceria tersebut, datang dari wanita yang berada di dekat kolam ikan. Sepertinya, ia tengah memberi makan ikan dalam kolam.
"Hai, Cantik. Sehat, Cantik?"
Aku melongo seperti orang bodoh, saat bang Daeng membungkukkan punggungnya. Lalu menyodorkan pipinya pada wanita tersebut.
"Sehat, Daeng." ia langsung menyambar pipi bang Daeng.
Lalu bang Daeng menoleh padaku, "Sini, Dek." tangannya terulur padaku.
Aku mengangguk, lalu menyambut uluran tangannya.
"Ini Canda, rekan kerja." bang Daeng membawaku ke hadapan laki-laki yang masih duduk.
"Hai, Canda. Aku Ferdi, ini Dikta istriku." laki-laki tersebut membawa wanita tadi dalam rangkulannya.
"Hai, Ferdi. Hai, Dikta." aku kurang paham cara menyapa mereka yang non muslim.
"Hai...." Dikta tersenyum ramah padaku.
"Sini duduk, Dek." bang Daeng menarikku untuk duduk di kursi rotan, yang melingkari meja. Tepat di sebelah kolam ikan.
Aku duduk di sampingnya, memperhatikan dua orang tersebut yang duduk di depan kami.
"Mau kejutan lagi kah kek kemarin? Janganlah, Len. Dikta pun syok, dia malah butuh obat lagi jadinya." ucap Ferdi pelan.
__ADS_1
"Kenapa, Yang?" Dikta seperti terheran-heran menatap wajah suaminya.
"Gak ada. Gih main-main lagi." Ferdi tersenyum manis, lalu menarik anak rambut Dikta ke belakang telinganya.
Dikta mengangguk, ia seperti anak kecil yang penurut. Meski dari perawakannya, ia seperti seumuran bang Daeng.
Dikta berjalan kembali di pinggir kolam. Kemudian ia mencelupkan tangannya, dengan pakan ikan yang berada di genggamannya.
"Dia adalah kesalahan fatal yang pernah Abang buat. Makannya Abang gak kaya-kaya, karena pengobatan Dikta baru selesai beberapa bulan silam. Itu pun, dibantu yang nikahinnya sekarang."
Aku menaikkan sebelah alisku. Aku tidak paham dengan pembicaraannya.
"Gak paham ya?" aku menoleh pada Ferdi, yang menimpali obrolan kami.
"Jadi gini... Benedikta Benoit." bang Daeng menunjuk Dikta yang tengah anteng di pinggiran kolam.
"Masa itu, Abang gak paham kalau yang bikin hamil itu cairan putih punya Abang. Dikta waktu itu masih SMP, Abang SMA. Kita sama-sama penasaran di situ, ditambah lagi Dikta ini teman main Abang. Bisa dibilang, kita kek best friend gitu lah. Praktek kan kita masa itu, beberapa kali sering main-main kek gitu. Karena gak paham cairan ini yang bisa bikin hamil, Abang buang selalu berceceran."
Aku mengangguk, aku mulai merasa sesak dan pedih di mataku. Ini memang bukan cerita haru, tapi aku merasa tersakiti dengan kebenaran ini.
Bukan tersakiti, tapi lebih tepatnya aku merasa tidak percaya.
"Bener-bener gak percaya Abang sendiri pun. Keluarga Dikta ke sini, mereka ngadu tentang kehamilan Dikta. Dikta pun ngaku, bahwa dia main-main kek yang ada di video dewasa sama Abang. Waktu itu Abang sama Dikta hanya paham main-main, bukan kebutuhan biologis yang Abang pahami sekarang." bang Daeng menghirup udara lebih banyak dari hidungnya, "Orang tuanya gak terima, mereka main polisi. Karena Abang di bawah umur, Abang gak bisa ditahan masa itu. Mereka ngerasa kek Dikta ini aib, jadi dilempar lah Dikta ke keluarga Abang. Abang pun harus sekolah, nikah pun belum boleh. Jadi, Abang sama Dikta gak nikah." ungkapnya kemudian.
Aku masih mendengarkan dengan seksama, bola matanya yang menjadi fokusku saat ini.
"Terus....
...****************...
__ADS_1
Ini pernah terjadi di real life. Aku lihat ceritanya di acara talk show gitu. Tapi bukan Lendra nama orangnya, entah siapa gitu. Hal ini, masih ada sangkut pautnya dengan edukasi se*s. Nanti diulas lagi lebih lengkapnya, sabar ya 🤗
Tungguin sore lagi ya kak, seperti biasa jam tiga sore. 😁