Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD156. Kelelahan


__ADS_3

Terlihat ia seperti kaget. Namun, ia malah lanjut menggenjotku.


Aku menyentuh tangannya yang berpegangan pada bahuku, "Ada kak Anisa, Bang." ucapku lirih.


Karena aku khawatir kak Anisa mendengar suaraku. Ia pasti tersinggung, jika tahu kami ada di dalam. Tapi enggan membukakan pintu untuknya.


"Biarin." jawab bang Daeng tanpa memperdulikan tamu yang datang.


Ia malah mengkombinasikan goyangan yang ia bisa. Aku bagai terkoyak kenikmatan, rasanya begitu sulit menahan suaraku.


Tok, tok, tok...


"Bang Lendra...." kak Anisa masih menunggu di luar ternyata.


"Nanti, Nis. Kau ke Jeni dulu, nanti Abang jemput."


Aku kaget, saat bang Daeng mulai berseru dengan goyangannya yang dibuat kaget.


"Uhmmm..." aku mencoba menahan sensasi yang aku dapatkan.


"Aku ganggu ya, Bang?" tanya kak Anisa dengan suara sendu.


"Gak, cuma Abang lagi aktivitas. Nanti Abang jemput di Jeni." dari suaranya saja, bang Daeng terlihat tengah melakukan aktivitas mesum.


Suaranya lepas dengan serak memberat.


"Ya udah aku liburan sendiri aja. Maaf ganggu."


Sudahlah.


Kak Anisa sepertinya benar-benar marah padaku.


"Ughhh..." aku terkejut, karena tubuhku langsung diputar olehnya.


"Gak bisa Abang kek papah Adi. Gak tahan, gemes sendiri." ia mulai mengatur posisi kakiku lagi.


Secepat kilat, batangnya langsung terbenam lagi di dalam milikku. Ternyata, tidak ada yang menandingi cara bermain papah Adi.


Seperti biasa, bang Daeng penyuka goyangan yang dihentakan dengan kaget. Ia mulai merem melek, deru nafasnya begitu ngos-ngosan.


Ia mengapit lututku di ketiaknya, lalu wajahnya kini sejajar dengan wajahku. Nafas bang Daeng sampai menerpa wajahku begitu terasa.


"Keluar bareng yuk?" aku bisa melihat urat wajah dan lehernya tengah menegang.


Pasti sebenar lagi ia akan meledak.


"Lebih dalam, Bang." aku pun merasa akan memuncak sebentar lagi.


Namun, bang Daeng malah mengatur ulang posisiku. Padahal aku sudah keenakan.


"Aku kesel." aku memasang wajah cemberut padanya.


"Sabar, Sayang." bang Daeng mencoba posisi papah Adi lagi.


Ia merem melek, dengan racauan samar.


"Ughhhmmmmhhhh..." suaraku lepas terdengar.


Ya Allah, rasa apa ini?

__ADS_1


Aku tidak bisa menahan rasa yang keluar dengan sendirinya.


Aku pasti malu setelah ini. Karena aku malah terkencing.


Namun, aku merasa tulang-tulangku begitu lemas. Seperti lunglai berbarengan dengan pancuran air yang sempat muncrat tadi.


"Squirting dong...." bang Daeng menggosok sudut paling atas di intiku.


"Bang!" aku menahan tangannya, "Aku geli." akuku kemudian.


"Abang sampai gak jadi keluar, gagal fokus." bang Daeng menyentuh airku yang bercecer di antara badan kami.


Ia menggosokkannya di antara ibu jari dan telunjuknya, "Lend*r, Dek. M*ni Adek, bukan air pipis." ungkap bang Daeng kemudian.


Benarkah?


"Hebat dong Guehhh?" bang Daeng memasang wajah sombongnya.


Ia mencabut intinya, lalu mengusap sesuatu dengan tisu kering.


"Ada coklat-coklatnya, Dek. Abang keluarin dulu ya? Keknya Adek mau haid." bang Daeng menunjukkan tisu kotor tersebut.


Aku hanya mengangguk, membiarkannya menuntaskan fantasinya. Jujur, aku sekarang hanya bisa bernafas saja. Aku tidak memiliki tenaga untuk menggerakkan tubuhku, selepas pelepasanku yang disertai dengan pancuran air tadi.


Rasanya benar-benar selangit.


Hingga beberapa saat kemudian, lahar panas memenuhi milikku. Aku bisa merasakan cairan itu mengalir keluar.


Bang Daeng langsung menarik selimut dan merebahkan tubuhnya di sampingku, "Encok, Dek." ucapnya kemudian.


Aku terkekeh kecil, lalu langsung memeluk tubuhnya. Batinku sangat-sangat terpuasi olehnya.


"Kembali kasih. Abang juga makasih ya?" ia mengusap tubuhku.


Selimut tidur menyelimuti tubuh kami di siang hari ini. Aku mulai merasa nyaman, meski aku ingat aku belum sempat mencuci intiku. Perlahan, aku terlelap dalam pelukannya.


~


Kak.


Aku mengirimi kak Anisa chat setelah aku bangun tidur. Beberapa saat ceklis sudah berganti biru, tandanya kak Anisa sudah membacanya.


Namun, aku tak kunjung mendapat balasan darinya.


"Dek... Mandi dulu!" pinta suamiku, yang baru selesai mandi.


Saat aku terbangun tadi, aku mendengar suara guyuran air di dalam kamar mandi. Sudah pasti itu bang Daeng.


"Ya, Bang."


Uhh, aku langsung memejamkan mataku. Saat aku langsung bangkit dari posisiku, aku merasakan mataku berkunang-kunang.


"Kenapa, Dek?" aku merasakan kasur busa ini diinjak seseorang.


"Matanya kunang-kunangan." ungkapku kemudian.


"Nyender dulu sini. Abang ambilin minum buat Adek." bang Daeng langsung bergegas menuju ke dapur.


Sesaat kemudian, aku tengah menyeruput air hangat dalam gelas plastik berwarna oranye.

__ADS_1


"Kecapean kah? Padahal cuma ngang*ang aja tadi." ujarnya dengan menerima gelas yang aku berikan.


"Keknya sih. Aku rebahan dulu sebentar lah, Bang." aku langsung miring menghadap tembok.


"Mau beli vitamin, atau berobat aja ke dokter? Adek pucat betul." bang Daeng memijat telapak kakiku.


"Tidur sebentar lagi aja, Bang. Keknya aku cuma kecapean aja." opsi yang ada di otakku.


"Ya udah." aku masih merasakan pijatan nyaman di bawah sana.


Hingga akhirnya, aku malah pulas kembali.


Saat aku terbangun, terdengar adzan tengah berkumandang. Aku segera menoleh ke arah jam dinding.


Sontak aku pun terkejut, ini jam tujuh malam. Sebegitu lamanya aku tidur siang.


"Ck.... Masalahnya di mana? Kenapa kau malah nangis? Abang bebas dong mau sama siapa, atau sama siapa. Jangan ungkit-ungkit kebaikan kau kemarin. Pasalnya Abang laki-laki dewasa, Canda pun perempuan dewasa. Masalahnya di mana?"


Apa di sini ada orang lain?


Aduh, aku malu sekali. Aku masih telan*ang di balik selimut ini.


"Hallo... Nis...."


Oh, rupanya bang Daeng tengah bertelepon ria di dapur.


Pelan-pelan aku terbangun. Oh syukurlah, rasa kliengan dan kunang-kunangan tadi sudah hilang. Aku meraih dasterku yang tergolek di atas bantal tidur bang Daeng, kemudian aku langsung mengenakannya tanpa menggunakan pakaian d*lam lagi.


"Siapa, Bang?" bang Daeng langsung menoleh ke arahku.


"Enis." jawabnya lirih.


Aku hanya mengangguk, lalu aku masuk ke dalam kamar mandi. Bang Daeng masih menempelkan ponselnya ke telinganya, dengan asik mengaduk mie instan yang masih direbus di atas kompor.


Suamiku kelaparan rupanya.


"Ya udah jangan nangis. Kan niat kau liburan. Baper-baper gimana? Kemarin kau nikah aja, Abang gak nangis. Gak usah berlebihan lah, jangan terlalu mencampuri kehidupan pribadi. Masa, kau udah nikah. Abang harus terpaku sama kau aja. Ya gak kek gitu caranya, Nis." aku bisa mendengar jelas suara bang Daeng.


Sungguh aku merasa tidak enak hati pada kak Anisa. Bagaimana hubungan pertemananku dengan kak Anisa setelah ini?


"Ya udah, gak usah dibahas aktivitas apa atau ngapainnya. Kau gak perlu tau itu! Sekarang kau ada di mana? Abang mesti jemput di mana? Terus mau liburan ke mana?"


Sesaat kemudian, suara kompor gas tersebut dimatikan.


Aku langsung beraktivitas untuk mandi, sembari menangkap suara dari bang Daeng.


"Hah? Liburan berdua? Ke mana?"


Aku hampir saja mengigit sikat gigi. Karena terkejut dengan suara yang aku dengar.


Bang Daeng pun menyahutinya sedikit lirih, pasti ia tidak ingin aku mendengar obrolannya.


"Berdua aja?" suara bang Daeng lagi.


Apa-apaan ini?


Kenapa mereka mau berlibur berdua?


...****************...

__ADS_1


Di sini banyak ilmu ranjang untuk suami istrinya ya 🤦 humornya sedikit 😣 Diinget nih ada apa 🙄


__ADS_2