Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD214. Ingin kosmetik


__ADS_3

"Papah tuh!!!" aku sudah badmood, karena papah Adi susah dibujuk.


"Ehh, Giska tuh orangnya mauan. Minta Giska temenin, Hadi sama mamah. Sana kau keliling, ke pasar kek, ke mall kek."


"Giska ya mesti minta izin suaminya dulu." sahutku kemudian.


"Pah, itu bantu nyambut dulu. Aku mau bikin minum." mamah Dinda melewati kami berdua.


"Duh, lagi nyantai tuh ada aja pengganggu." papah Adi bangkit dari duduk santainya.


"Canda... Bantu Mamah!" seru mamah dari arah dapur.


Beberapa saat kemudian, aku berada di belakang mamah dengan membawa nampan berisi air hangat. Kami menyajikan air hangat, karena di luar hujan lebat.


Jantungku tidak sehat sekarang. Degupannya begitu menggangguku.


Kenapa hidup ini penuh dengan kejutan?


Aku tak tau harus bagaimana. Apa lagi, orang tersebut begitu terperangah memandangku.


"Mamah Dinda ya?" suara dan bau khas pemilik tubuh tersebut aku hafal.


"Iya ini ibu Saya, Noy." aku tahu itu suara Ghavi, tanpa aku menoleh ke arahnya.


"Silahkan diminum." mamah Dinda mengambil nampanku, karena nampannya sudah di letakkan di meja.


Aku tidak bisa berkata-kata, aku terlalu kaku sekarang.


"Tinggal dulu ya?" papah Adi merangkulku.


Apa ia benar-benar tidak melihatku?


Jadi mata yang sebesar ikan asin itu, hanya terkagum-kagum melihat mamah Dinda?


Ya Allah, aku baru tahu ada orang seperti itu ketika melihat idolanya.


"Ehh, Papah Adi. Itu istri Saya."


"Adek udah hamil besar? Kenapa gak anteng di kos, Dek? Abang lagi usahain."


Mampus, Canda.


Papah Adi membawaku memutar kepala. Kini aku, papah Adi dan mamah Dinda begitu intens menatapnya.


"Anda siapa? Ini putri Saya." ujar papah Adi, dengan masih merangkulku seperti anaknya.


Bang Daeng buru-buru mencium tangan mamah Dinda, kemudian tangan papah Adi.


"Maaf Pah, Mah. Baru bisa berkunjung, bahkan tak sempat meminta restu. Saya suaminya Dek Canda." ia menyentuh dadanya sendiri, yang terlapisi kemeja berwarna telur asin.

__ADS_1


"Kau siapa? Nama kau siapa?" tanya mamah Dinda kemudian.


Ia terlihat begitu berbinar-binar, saat melihat mamah Dinda. Bodoh betul bang Daeng ini. Ia bahkan tidak melihatku yang jelas-jelas ada di depan matanya, gara-gara matanya tertuju pada mamah Dinda seorang. Aku kira, tadi ia tengah memperhatikanku. Ternyata, ia memperhatikan mamah Dinda yang berada di depanku.


"Saya Nalendra. Tanyalah Dek Canda langsung, kalau memang gak percaya." ia baru mengalihkan pandangannya ke arahku.


Mamah Dinda dan papah Adi langsung menatapku penuh tanya. Apa lagi yang bisa aku perbuat? Aku hanya bisa mengangguk lemah.


"Vi... Berapa lama kau punya waktu? Boleh Papah bawa dia ngobrol dulu?" papah Adi berbicara pada Ghavi.


"Mungkin setelah ini aja, Pah. Mereka orang sibuk semua. Aku pun butuh banyak wawancara sama Noy ini. Dia yang kepala grup ini, dia yang kasih jalan, aku yang modal. Bentar deh, Pah. Kasih kami waktu dulu." Ghavi tengah membereskan berkas yang bertumpuk.


"Noy kah Nalendra?" papah Adi menghadap bang Daeng kembali.


"Noy nama ledekan di Padang. Nama asli aku Nalendra, Lendra biasa dipanggilnya." terang bang Daeng kemudian.


"Setelah ini kau jangan langsung balik!" perintah papah Adi langsung diangguki bang Daeng.


"Bilang Papah kalau udah selesai, Vi!"


"Ya, Pah." Ghavi menyahuti, tanpa menoleh.


"Ayo, Dek." papah Adi merangkul istrinya dengan tangan lainnya.


Aku mengikuti langkah kaki papah Adi saja.


Runyam sudah.


Aku baru akan menginjak bulan kelima, tapi sudah seperti hamil tujuh bulan. Itulah perutku, gampang mengembang.


"Jelekan dia, ketimbang Papah." celetuk mamah Dinda.


Papah Adi menoleh dengan tatapan tajam.


"Kau molor biasanya. Chandra tidur, kau tidur." ujar papah Adi, dengan merebahkan tubuhnya di atas karpet.


"Papah tuh, aku kepengen betul juga." aku duduk bersandar di dekat bantal beliau.


"Maksud kau?! Sana lah kepengen sama suami kau, masa sama suami Sayahhhh!" sewot mamah Dinda, dengan melirikku tajam.


Papah Adi tertawa lepas, kemudian ia menarik istrinya dalam pelukannya.


"Mamah tuh! Aku pengen beli kosmetik, aku kepengen beli baju. Stok sheet mask aku habis, eyelash serum habis, lulur mandi juga habis. Aku juga mau beli produk yang buat touch up warna rambut itu. Aku juga pengen beli lipstik mini kit itu. Di platform belanja online tuh, Mah. Masa harganya dua puluh, sampai dua puluh lima ribuan. Dari pabriknya aja, sekitar dua ratus ribu rupiah." terangku kemudian.


"Buat apa sih kau dandan aja? Cantik tuh yang sekiranya kek Mamah, tancap lipstik aja udah menggoda." papah Adi mengunyel-unyel wajah istrinya.


"Ya karena Abang tak tau. Abang kan cuma tau, aku mandi lama. Abang tak tau, aku ngapain di kamar mandi. Lepas sholat pun, Abang langsung peregangan keluar rumah." ujar mamah Dinda dengan menarik tangan suaminya.


"Perawatan Adek udah mahal di klinik kecantikan, masa iya di rumah masih aja usap-usap wajah?"

__ADS_1


"Nyatanya kek gitu kok." sahut mamah Dinda seperti menggerutu.


"Sore ini nih, Mah. Ayolah, jam duaan gitu. Kan kalau jam empat, udah pada tutup." rasanya ingin berbelanja ini begitu menggebu.


"Iya Papah anter kau sama Mamah, naik mobil." putus papah Adi.


"Hufttt, mabok aku tuh Pah. Nanti muntah-muntah di mobil lagi." ini adalah alasanku untuk tidak berpergian dengan mobil.


"Papah bawa kantong kresek, kek biasa." papah menunjukkan dua jempol tangannya, dengan tersenyum lebar.


"Ehh, tapi kok kau sekarang berisik sih? Dulu jadi menantu, kek yang iya alim." papah Adi mengerutkan keningnya.


"Dia memang begini, sebelum negara api menyerang. Tanya ke Ghifar kalau tak percaya, Canda tuh berisik dari dulunya."


Benarkah aku berisik? Seperti yang mamah Dinda katakan.


"Yung...." tangis pecah itu semakin jelas.


Saat aku mendongak, untuk melihat ke arah tangga. Terlihat Chandra menangis dalam gendongan ibu.


"Sore nanti ke bidan, Ndhuk. Ibu temani nanti, periksa Chandra ini. Ikut anget aja dia, meler juga." ujar ibu dengan berjalan ke arahku.


Anak-anak di sini, memang tengah diserang demam dan batuk pilek. Jika sudah satu anak begini, pasti anak lainnya akan mengalami hal yang sama.


"Yung... Yaya." Chandra memukul-mukul kepalanya.


"Jangan lah, Nak. Sini sama Nenek. Cari obat buat Bang Chandra yuk, di kamar bang Gavin." mamah Dinda bangkit, lalu mengambil alih Chandra.


"Ambil nasi Chandra, Dek. Kalau dia nolak, buatkan bubur bayi aja. Beli lah kau ke warung, yang sachet itu." mamah Dinda membawa Chandra masuk ke kamar Gavin dan Gibran.


"Yey, tak jadi jalan-jalannya." papah Adi begitu girang, dengan menegakkan punggungnya.


"Ibu beresin kamar dulu ya? Anak tidur tuh, kirain Ibu kau beres-beres mainan Chandra." ibu kembali menaiki tangga.


"Canda disuruh. Nunggu Givan bentak, dia baru gerak." papah Adi menggerutu, dengan mengganti-ganti channel TV.


Benarkah aku malas?


Jika memang aku malas, pantas saja mas Givan dulu selalu marah.


Ya ampun, aku jadi merasa lucu sendiri. Aku seolah tersakiti di sini, ternyata mas Givan doyan ngamuk karena aku yang memang salah.


"Ya udah deh, aku tidur aja." aku bangkit, lalu hendak melangkah ke tangga.


"Anak bangun, kau tidur. Mamah ngamuk loh! Lagi pun, kau lupa kah Lendra ada di depan?"


Deg.....


Aku melupakan kehadirannya di depan.

__ADS_1


...****************...


Segala lupa 🤦


__ADS_2