
Aku memukul tubuhnya, aku kesal padanya. Namun, bang Daeng malah menahan tanganku dengan tertawa geli. Ia terlihat begitu bahagia, jika sudah membuatku kesal.
"Lepas masa iddah, nanti Abang siram rahimnya." tambahnya membuatku ingin meledak.
"Tau ah!" aku membuang pandanganku ke arah jendela pesawat.
Aku akan mendiamkannya untuk beberapa saat.
~
Perjalanan yang melelahkan. Kami telah sampai di pintu kos penuh kenangan ini.
"Kos milik Enis, masih Abang bayarin dari Enis pergi. Sebagian barang-barang Enis pun masih di dalam katanya. Tiga bulan sepuluh hari, kau putar tugas sama Sari. Masa iddah kau turun dari minggu lalu, makannya nanti dilebihkan. Nanti surat janda kau turun, lepas masa iddah ini habis. Nanti ada paketan Abang datang ke PT, tolong disimpan dulu, dibawa balik ke kos. Diterima aja, unboxingnya sama Abang nanti kalau balik ke sini. Abang malam ini berangkat, mau istirahat dulu sekarang." bang Daeng terlihat begitu buru-buru untuk masuk ke kosnya.
Aku pun diberi kunci kos, yang sebelumnya bang Daeng ambil di pemilik kos.
Aku mengucapkan salam, setelah berhasil membuka pintu kamar milik kak Anisa. Kesan pertama yang aku lihat di sini adalah, berantakan.
Lalu, bagaimana caranya aku langsung istirahat?
Numpang tidur di tempat bang Daeng, itu bukan pilihan yang bagus. Bang Daeng ternyata orang yang begitu usil, tangannya tidak mau diam. Aku mengenalnya lebih jauh, rupanya ia adalah laki-laki yang cerongo.
Tapi, herannya tidak menurut kak Raya.
Ya sudahlah, yang penting aku bisa meluruskan pinggangku saja. Biar beres-beres nanti, jika aku sudah berisitirahat. Karena sekarang, aku amat merasa lelah.
Sebelum tidur, aku sempat melihat story sosial media milik Ghifar. Terlihat Chandra dan Kalista tengah beradu argumen dalam bahasa bayi, dengan mainan yang mereka perebutkan. Baju-baju Chandra terlihat baru, sepertinya Ghifar benar-benar mengurusnya.
Aku mencoba menahan diri untuk tidak memberi pertanyaan pada Ghifar. Aku selalu ingat pesan bang Daeng, mengenai aku yang harus menjaga diri dari laki-laki selama masa iddah menurut dokumen ini.
Meski hanya lewat ponsel, menurut bang Daeng itu tidak diperbolehkan. Ia pun mengatakan, agar aku menghubunginya ketika ada masalah tentang pekerjaan saja.
Aku pun tak pernah mengunggah story dalam bentuk apapun. Aku takut menarik perhatian Ghifar, lalu Ghifar memberikan pertanyaan padaku. Aku sedikit khawatir, jika ia menghubungiku.
__ADS_1
Karena aku tak bisa menahan diri, jika sudah dihadapkan dengan Ghifar. Bodohnya lagi, Ghifar pun malah memberiku kesempatan untuk dekat dengannya. Ia seolah melupakan statusnya yang sudah beristri.
Bagaimana jika Kinasya tahu?
Kenapa aku baru memiliki pemikiran tentang itu sekarang.
Saat mengambil Chandra, Ghifar begitu berani mencium bibirku di tempat umum. Aku sampai mendapat balasan dari bang Daeng. Ia begitu berani menyentuhku dan menikmati bibirku.
Apa jangan-jangan bang Daeng memiliki rasa padaku???
Akhir-akhir ini pun, kami terlalu dekat. Kontak fisik sering keterlaluan. Bang Daeng sering mengusap perutku ketika tidur. Aku pun, terbiasa terlelap dengan usapannya.
~
Sudah satu bulan saja, aku hidup dalam kesendirian. Di sela kesibukanku, aku melakukan olahraga rutin. Untuk pelipur laraku, aku asik menscroll sosial media saja. Sosial media milik mamah Dinda cukup aktif, beberapa unggahan begitu membuat siapapun iri. Ditambah lagi, postur tinggi besar itu tak pernah absen dari sisi mamah Dinda.
Papah Adi terlihat menawan, segar dan sehat di samping mamah Dinda. Gavin lebih sering cemberut dalam posenya, berbeda dengan Gibran yang selalu memamerkan giginya begitu lebar.
Memang dari awal pun, Gavin menolak untuk ikut dengan orang tuanya. Ia lebih memilih tinggal bersama Ghifar, karena Ghifar lebih sering mengajaknya bermain perang-perangan. Bahkan di satu sudut halaman belakang, disulap menjadi tempat perang-perangan yang memiliki banyak tong terbalik untuk tempat berlindung.
Jika Gibran, ia lebih condong dekat dengan Zuhdi. Zuhdi adalah suami Giska. Karena Zuhdi dan Giska selalu berkeliling kampung saat sore hari. Tentu saja, mereka pasti membawa anak kecil untuk dijadikan alasan ketika ditanya oleh tetangga. Meski Giska yang kelewat manja, merengek meminta keliling kampung menaiki motor. Tapi tetap saja anak-anak kecil di rumah itu yang dijadikan alasan oleh Giska.
Sepertinya pun, mamah dan papah Adi belum mengetahui tentang menantu baru mereka. Jika mereka mengetahui tentang ini, rasanya aku pasti dikabari untuk dimintai keterangan.
Ya, seperti itulah mamah Dinda dan papah Adi. Mereka selalu minta keterangan, dengan golongan terkait. Aku teringat akan drama antara Zuhdi dan Giska sebelum menikah. Sampai orang tua Zuhdi diminta datang, untuk memberi keterangan pada mereka.
Kali ini, aku tidak memfollow akun sosial media milik mamah Dinda dan papah Adi. Karena, di akun baruku. Terdapat beberapa postingan terbaru.
Poseku ketika memakai pakaian kerja. Poseku di tempat yang kami singgahi. Kacamata mahal milik bang Daeng pun, sering aku pinjam untuk berfoto.
Aku pun baru paham, kenapa bang Daeng memiliki barang-barang mahal seperti mas Givan. Karena, ia selalu bertemu dengan klien yang tak jarang adalah CEO dari vendor perusahaan. Maksudku, ia menjaga gengsinya untuk berhadapan dengan para petinggi.
Wajar, masih dibilang wajar. Karena, barang branded miliknya pun tak sebanyak milik mas Givan. Bang Daeng membeli produk baru, hanya karena barang miliknya sudah lecet atau sudah tidak berfungsi dengan baik.
__ADS_1
Aku mendapat titik merah, di ikon love pada salah satu sosial mediaku. Aku langsung mengkliknya, karena inilah aktifitasku di kos-kosan.
Givan Adi Wijaya.
Nama akun yang dulu sempat tersemat di bio akunku.
Ia menyukai banyak postinganku, ia pun membubuhkan komentar di sana.
Jadi, mas Givan sekarang tahu akun baruku?
Padahal aku tidak mengikuti salah satu akun dari delapan saudara itu. Bahkan, dengan Ghifar pun aku hanya saling menyimpan nomor aplikasi chatting. Tidak dengan akun sosial media.
Cantik.
Jandaku.
Kangen.
Aku segera mengutak-atik komentar itu, agar segera enyah dari kolom komentar di postinganku. Bisa-bisa, nanti bang Daeng mengetahui bahwa aku mantan menantu mamah Dinda.
Karena, bang Daeng mengetahui bahwa Ananda Givan adalah anak dari Adinda. Penulis terkenal, yang begitu ia idolakan. Meski nama akun mas Givan tidak menggunakan nama aslinya, tapi aku yakin bang Daeng mengetahui akun mas Givan. Yang hanya berisi foto-foto dulu, saat dirinya masih bekerja di tambang.
Bahkan foto pernikahan kami, ia hapus saat aku masih berstatus sebagai istrinya. Entah apa penyebabnya, aku pun tak mau tahu jika hanya menambah sakit hati.
Hanya foto Mikheyla, yang menjadi postingannya sejauh ini. Padahal, Mikheyla adalah anak di luar nikah. Tapi mas Givan tanpa malu mengunggahnya ke publik. Chandra yang anak kandungnya, anak dalam pernikahannya, malah seolah tak dianggap olehnya.
Untuk masalah penyakit ain, karena foto anak disebarkan. Aku rasa, mas Givan tidak menggenggam paham itu. Keluarga itu tidak suka mistik-mistikan. Meski dari cerita orang rumah, mas Givan pernah bisa melihat makhluk halus. Tapi tetap saja, mereka tidak mau tahu apa-apa. Mereka hanya meyakini bahwa makhluk halus itu ada, tetapi mereka tidak penasaran sama sekali.
Aku mendapatkan sebuah pesan, yang masuk dari sosial mediaku yang sama.
Gimana kabarnya? Tinggal di mana sekarang? Pulang yuk? Mas jemput ya?
...****************...
__ADS_1
Siapa gerangan???