
"Cieeeeee... Adek yang berubah jadi kakak kembali."
Zuhdi kentir, memang jagonya meledek.
Tapi, ke mana perginya Ceysa?
"Ceysa mana?" aku melangkah masuk mengekori mamah Dinda.
"Masih di sana sama Hadi. Biarkan di nginep, kalau memang betah sih." tambah Zuhdi kemudian.
"Ya kaunya pulang! Apa tak kesusahan Giska ngurus dua anak, dengan perutnya yang besar itu." ketus mamah Dinda, saat melewati mereka yang berkumpul di ruang tamu.
"Ada Aini, Mah. Dia numpang di rumah aku."
Hah?
Kenapa adik ipar malah menumpang di rumah ipar?
"Kasih tau Canda, biar dia puas ngetawain." mamah Dinda mengambil alih tas belanja yang aku dekap, lalu beliau memutar tubuhku ke arah mereka dengan tertawa kecil.
"Nah iya." Zuhdi terlihat begitu bersemangat untuk berghibah, "Sini-sini, kita gosip dulu." Zuhdi menepuk tempat di sebelahnya.
Masalahnya satu, mas Givan tidak suka aku bergosip.
"Udah nanti lah. Aku mau mandi dulu." aku menolak, demi keamanan awal pernikahan ini.
Ditambah juga, wajahku masih penuh make up.
"Jangan dibanting, Mah. Skincare aku botol beling." aku memilih untuk mengikuti mamah Dinda.
"Punya skincare lagi kau?" mamah Dinda memberikan kembali tas belanja berbahan kain itu.
"Punya beberapa aja, Mah. Dikasih mas Givan, pas pulang dari rumah sakit."
Mamah Dinda manggut-manggut, "Ya udah sana bersih-bersih. Kau di kamar Givan tuh, dia suami kau." mamah Dinda menepuk bahuku, kemudian beliau berjalan ke arah dapur.
Ya, aku harus mengingatnya mulai sekarang. Aku istri mas Givan lagi mulai hari ini.
Aku langsung masuk begitu saja ke kamar keramat ini. Kamar yang bekas dipakai istri kedua mas Givan, ranjang yang pernah ia decitkan dengan orang lain. Kini menjadi tempatku kembali.
Seperti biasa, kesan rapih dengan pengharum ruangan yang setiap lima belas menit selalu menyemprot dengan sendirinya. Sprai yang terpasang kali ini, bermotif rumah antik jepang dengan dipenuhi bunga-bunga berwarna campuran dan warna hijau yang dominan.
Aku menaruh tas belanja ini di atas ranjang, lalu mengambil satu pasang pakaianku. Daster bermotif akar, berwarna navy, dengan hiasan kancing mati full di bagian depan dan tali pinggang yang pantas diikat di depan perut.
Aku segera menghias diriku, setelah membersihkan diri dan menunaikan ibadah sholat. Kemudian, aku memilih untuk keluar dari kamar untuk mencari keberadaan anak-anak.
__ADS_1
"Gimana, Pak? Diizinkan tidak?"
Aku langsung tertarik, mendengar suara perbincangan itu.
Ferdi di sana, ia tengah mengobrol dengan papah Adi.
"Kalau Saya sih, tak kasih izin. Coba tanyakan ayah sambungnya aja, dia yang lebih berhak." papah Adi pun melirikku yang baru muncul ini.
"Canda..." aku mengalihkan pandanganku pada Ferdi.
"Ya, gimana?" tanyaku, dengan melangkah untuk duduk di karpet ruang tamu.
Entah ke mana perginya sofa mahal di ruang tamu ini? Sepertinya diamankan, karena cukup banyak tamu yang silih berganti ke rumah ini.
Namanya juga, tuan hajatnya.
"Boleh Ceysa kami bawa pulang?"
Aku panik dengan langsung melempar pandangan ke arah papah Adi.
"Itu, Dek. Maksudnya, diajak liburan gitu. Nanti dianterin lagi." papah Adi menjelaskan maksud Ferdi.
Kenapa aku tidak percaya, bahwa Ceysa akan diantar mereka kembali?
"Memang mau pulang?" aku berharap mereka stay di sini sampai selesai acara untuk mendoakan bang Daeng.
"Apa itu samadiah?" Ferdi terlihat membutuhkan penjelasan.
Duh, aku lupa. Ferdi dan anggota keluarga bang Daeng yang lain, adalah non muslim. Namun, Dikta sampai mengenakan hijab lantaran peraturan di provinsi ini.
"Tahlil gitu, Fer. Kau pernah dengar?" tanyaku padanya dengan aku langsung menoleh pada papah Adi, "Keluarga besar Lendra non muslim, Pah." lanjutku dengan suara pelan.
Papah Adi manggut-manggut, kemudian beliau memerhatikan Ferdi kembali.
"Ya, pernah dengar. Satu hari, sampai tujuh hari gitu ya?" luas juga wawasan dokter ahli kejiwaan ini.
"Ya, di sini samadiah hari pertama sampai ke enam. Terus seuneujoh, pas hari ketujuhnya, makan berat gitu, sama pulangnya bawa kotak snack. Nanti diulang lagi pas malam keempat belas, peut blah. Terus lanjut di malam ketiga puluh, lhee ploeh. Peringatan reutoeh, setelah tiga bulan. Terus diulang tiap tahunnya, thoen." jelas teungku haji ini.
"Apa gak ngerepotin, Pak?"
Ferdi langsung terlihat bimbang, tetapi ia melanjutkan kalimatnya.
"Maksudnya Saya, ya ikut umum aja gitu. Terus ya udah, sampai tujuh hari gitu aja Pak. Bukannya gak mampu masalah biaya, tapi kami sekeluarga punya kesibukan di kota kami. Takutnya, kami nanti tak bisa selalu hadir pas acara buat mendoakan Lendra."
Mungkin Ferdi khawatir aku dan papah Adi tersinggung tadi.
__ADS_1
"Tak ngerepotin juga sih." papah Adi melirikku.
Sepertinya, beliau membutuhkan pendapatku untuk acara bang Daeng nanti.
"Kalau untuk tahlil sampai hari ketujuh, itu pasti. Untuk acara selanjutnya, Saya nanti tanyakan kembali ke mangge Yusuf sama ke ma." aku mencoba menghormati dan tidak melangkahi orang tua bang Daeng.
Ferdi manggut-manggut, "Kalau Saya, mungkin gak bisa ya sampai tujuh hari di sini. Saya izin dari rumah sakit, paling lama itu lima hari. Itu pun, Saya gak bisa ambil cuti selama satu tahun, cuma dapat libur biasa aja, tanggal merah gitu. Karena cuti tahunan, udah Saya ambil untuk beberapa hari di sini."
Aku mengerti, Ferdi punya tanggung jawab untuk pasiennya di sana.
"Tapi mungkin Dikta sama anak Saya, Saya titipkan di sini dulu buat bantu-bantu kesibukan di sini."
Namun, aku malah memikirkan tentang Dikta yang merupakan seorang penyintas permasalahan kejiwaan. Aku khawatir tiba-tiba Dikta kumat, lalu tidak terkontrol karena tidak ada suaminya di sini.
"Kalau memang sibuk, tak apa kok. Keluarga di sini banyak, Papah Adi pun pasti tak keberatan." aku melempar pandanganku pada mamah papah Adi.
"Ohh, ya jelas. Saya kan tadi malah minta acaranya ikut umum sini, sampai diulang tahunan gitu." sahut papah Adi cepat.
Alhamdulillah. Bang Daeng tidak akan dilupakan oleh keluarga ini.
"Kalau begitu, Saya obrolkan dulu sama Dikta dan dato ya? Untuk izin Ceysa, nanti tunggu bang Givan ya berarti?" ujar Ferdi dengan senyum ramah.
Pasti ia akan pamit, dengan menarik kembali topik awal pembicaraan seperti ini.
"Ya, kalau Saya sih begitu. Saya tak kasih izin Ceysa pergi tanpa orang tuanya. Tapi baiknya, tanyakan langsung aja ke ayah sambungnya." putus papah Adi.
Ferdi mengangguk, "Siap, Pak. Nanti Saya ngobrol sama bang Givan. Kalau begitu, Saya permisi dulu ya?" Ferdi bangkit lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Ya, Fer." sahut papah Adi.
Saat langkah Ferdi sudah menjauh. Papah Adi menyenggol lenganku.
"Apa, Pah?" tanyaku kemudian.
"Papah kok khawatir Givan malah nyuruh keluarganya Lendra suruh bawa Ceysa ya?" aku bisa melihat raut khawatir di wajah papah Adi.
Pasti, papah Adi khawatir mas Givan tidak bisa menerima Ceysa.
Jika diingat lagi interaksi mereka. Mas Givan tidak begitu kaku pada Ceysa, terlihat seperti pada anaknya sendiri atau keponakannya sendiri. Namun, aku tidak bisa memastikan juga.
Karena, mas Givan pernah berdalih tidak mau memberi makan anak tiri, saat pada Jasmine. Ia pun berkata, bahwa anaknya saja belum tercukupi. Masa depan anak-anaknya sendiri pun belum aman. Bagaimana jika bebannya ditambah untuk memberi kecukupan gizi dan pendidikan yang terbaik untuk Ceysa? Yang jelas-jelas, bukan darah dagingnya sendiri.
"Canda ambilin makan! Mau minum obat."
Panjang umur.
__ADS_1
...****************...
Perintah mulai turun 😂