
"Tapi kok mamah bisa tak cemburu ya, Pah?" aku masih terheran-heran, mengapa mamah Dinda bisa akur dengan mantan pacar suaminya.
"Tak paham lagi kalau masalah itu. Papah tak bisa nebak isi kepalanya mamah. Tapi pernah Papah tanyakan itu, mamah jawabnya hampir sama semua, kek jawabannya dulu-dulu. Abang biasa aja ke mereka, kenapa aku harus cemburu. Gitu kata mamah kau."
"Mamah kau baru cemburu, ngamuk, gelap mata, nuduh yang bukan-bukan. Kalau mutasi dicetak, tapi tak sesuai dengan pengakuan Papah. Udah tuh, kata-kata mutiaranya keluar semua. Udah kesannya, kek Papah ini begitu dzolim sama dia. Papah sampai kumpulin struk pembayaran, struk ATM, Papah cantolin di paku dekat pintu kamar mamah. Barangkali mamah cetak mutasi, terus Papah lupa transaksi apa, bisa tuh acak-acak struk yang Papah kumpulin."
Aku tertawa begitu geli.
"Papah kok sampai segitunya sih?" aku masih disuapi oleh beliau.
"Tak paham juga. Tapi memang Papah paling males debat sama mamah. Mamah nuduh Papah salah, ya udah Papah langsung minta maaf. Dari pada dimaki tak ada ujung p*ngkalnya, sakit hati yang ada. Papah takut sakit hati sama istri sendiri, meski Papah tau tabiat mamah memang begitu. Apa lagi, masa Papah poligami. Papah udah kek orang gila kurang setan. Berantem, nangis. Dididemin, ngelamun. Takut gila sendiri. Takut psikis Papah yang terganggu, dapat tekanan luar biasa dari mamah dulu. Maksud hati sih melindungi mamah, biar tak kena maki, atau hal-hal yang Papah takuti. Tapi yang ada, Papah yang hancur sendiri." papah Adi geleng-geleng kepala, dengan tersenyum kecut.
"Nih satu lagi makannya. Terus Papah kasih HP Adek."
Aku mengangguk, kemudian langsung membuka mulutku.
"Minum dulu nih."
Aku langsung menerima se*otan yang papah ulurkan ke mulutku.
"Nih HP." papah Adi menaruh HP milikku.
"Makasih, Pah." aku tersenyum manis pada beliau.
"Sama-sama." beliau pun tengah memainkan ponselnya sendiri.
Ini hari minggu, tetapi bang Daeng belum ada kabar juga. Namun, jika ia jadi berkunjung ke rumah. Lalu mengetahui bahwa keadaanku tengah seperti ini, pasti ia mengambil alih Ceysa.
__ADS_1
"Pah...." aku menggoyangkan lengannya yang tengah menggenggam ponsel di tepi ranjang ini.
"Eummm? Apa?" ia mengalihkan pandangannya.
"Lendra mau berkunjung hari ini. Kalau dia jadi datang, terus tau keadaan aku kek gini, pasti Ceysa diambil sama dia." aku sudah murung.
"Jangan stress. Nanti mamah di rumah. Kalau memang itu yang terbaik, ya tak apa."
"Papah!" aku mencubiti punggung tangan beliau.
Papah Adi menahan tanganku, ia terkekeh geli.
"Ceysa aman sama mamah. Kau aja diambilnya, apa lagi anak kau." terang papah Adi yang membuatku tenang.
"Janji ya, Pah?" aku harus memastikan ini.
"Iya Papah sama mamah usahain cucu-cucu kita aman. Yang penting kau sembuh, Dek. Jangan stress, jangan banyak beban pikiran. Insya Allah, Lendra bukan Nino yang suka bawa anaknya pergi diam-diam. Sekalipun Lendra mau bawa pergi Ceysa, pasti minta izin dulu ke mamah."
"Kok Papah yakin gitu? Sampai bisa jamin." aku mengerutkan keningku.
"Yaaaa.... Karena usaha Lendra yang baru ini kan, bernaung dalam usahanya Papah. Ladang dalam jumlah hektare kan, harus mengantongi izin dari masyarakat setempat. Ladangnya dia, sertifikatnya atas nama Ceysa. Tapi izinnya atas nama Papah. Kalau ada masalah sama usahanya, atau ilegal gitu, Papah bisa ngajuin tarik perizinan. Sederhananya gini deh...." papah Adi mengusap-usap dagunya.
Ceysa?
Ia ikut andil?
"Masyarakat Pintu Rame Gayo taunya, ladang sawit itu punya Papah. Bukan punya Lendra, apa lagi Ceysa. Karena, pasti tak boleh kalau orang luar daerah yang punya. Masyarakat kita keberatan dengan pendatang yang tiba-tiba jadi bos, terus masyarakat kita yang malah jadi pekerja. Sederhananya gitu, Dek." lanjut papah Adi kemudian.
__ADS_1
"Kok Papah gitu? Lendra ini licik loh, Pah. Kok malah bantu dia?"
"Karena Ceysa, nama yang dia bawa. Papah yakin, Lendra tak ada maksud buruk ke anaknya. Orang tua manapun, pasti mau yang terbaik untuk anaknya. Modelan Givan aja, di mikir masa depan anaknya loh."
Aku tertegun.
Pemikiranku tidak sampai ke situ.
"Kok bisa udah sejauh ini sih, Pah? Awalnya gimana? Tiba-tiba Ceysa dibawa-bawa gini."
Aku seperti baru keluar dari goa.
"Tanya mamah aja deh." papah Adi garuk-garuk kepala, "Panjang ceritanya. Mamah sama Papah pun sering kontekan sama dia, untuk masalah ladang itu. Karena kan, dia awam masalah ladang. Tak paham jenis tanah, pengolahan tanah, pemilihan bibit dan lain sebagainya." lanjut beliau yang membuatku semakin kaget.
Blaghhhh....
Mamah Dinda muncul dengan hijab yang dikipas-kipaskan ke wajahnya.
"Aku buka aja puasanya lah, Bang. Ya Allah..." mamah Dinda mengeluh hebat.
"Capek bayar fidiya, tiap tahun mesti aja ada batalnya." sorot kesal papah Adi tidak bisa disembunyikan.
Mamah Dinda duduk di sofa, ia terlihat begitu lelah. Bahkan, beliau terlihat cukup pucat.
Blaghhhh.....
"Mah, ada.......
__ADS_1
...****************...
Siapa lagi yang datang 🤔 jawabannya jam tiga sore ðŸ¤