Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD349. Rutinitas baru


__ADS_3

...Rutin Crazy Up, tapi gak tamat-tamat 😩...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ya udah, nanti Papah coba ngomong lagi ke Putrinya. Pengen ngelobi Putri dengan kerjasama tuh, usaha Papah atas kendali mamah. Papah ngerasa penting, buat minta persetujuan mamah."


Entah, awalnya mereka membicarakan apa.


Mas Givan mengangguk, "Aku udah jujur, Pah. Apa perlu aku kasih tunjuk mutasinya, biar Papah tau kalau aku bener-bener udah beli balik dan bagi hasil dengan modal yang Putri pinjamkan dulu." mas Givan berjalan ke arah lemari kamar.


"Tak perlu. Papah tau, anak-anak Papah jujur ke orang tuanya." papah Adi menghampiri mas Givan.


"Papah ke luar dulu, mau ngomongin dari hati ke hati sama Putri. Mana tau, ini ada masalah perasaan juga. Chandra Papah bawa, buat jadi alasan Papah. Jangan dikunci pintunya, Canda." papah Adi menggulirkan pandangannya padaku, "Nanti kalau udah lelap, Chandra Papah anter ke kau." lanjutnya kemudian.


"Iya, jangan dikunci juga. Takutnya aku pulang malam, mau ganti baju." tambah mas Givan.


"Kau jangan ngibul, Van! Jangan berzina di rumah Papah." papah Adi mengacungkan telunjuknya.


"Tak, Pah. Udah tau rasanya."


Bukannya tersinggung, aku malah cekikikan mendengarnya.


"Ya udah. Nanti pagi, kita obrolin lagi." papah Adi berbalik badan.


"Oh, iya." papah Adi mengubah posisi punggungnya kembali, "Nanti besok tolong masakin nasi goreng terasi ya, Dek. Kau tau kan resepnya?"


Aku mengangguk cepat. Aku dulu sering membuat menu itu.


Papah Adi mengangguk, lalu memutar dan melanjutkan langkah kakinya kembali.


"Papah kangen masakan mamah."


Pasti rasa rindu itu menyiksa rajaku.


Aku tersentak, saat tiba-tiba mas Givan ada di dekatku. Ia menciumi wajah Ceysa yang penuh dengan keringat.


"Cepet besar! Ayah pusing ngurus ladang kau." ujarnya dengan mengusap keringat di pelipis Ceysa.


Usaha Ceysa? Milik bang Daeng? Mas Givan yang mengurusnya sekarang?


"Mas mau pergi tuh, mau nongkrong kah?" aku ingin menelusuri tentang kesibukannya.


"Tak." ia menegakkan punggungnya, "Jam sebelas keknya, mobil bawa kayu ulin sampai di depan. Gudangnya itu, ada di lahan Ghifar. Rumah panggung punya Ghifar, kau tau kan?"


Aku mengangguk, menjawabnya.

__ADS_1


"Iya, itu gudang kayu ulin sama kayu jati. Kan masuk tempatnya, jadi harus diantar, karena supirnya pun tak tetap juga." jelasnya perlahan.


Sayang sekali rumah antik itu menjadi gudang. Tapi, rumah pusaka milik kakeknya papah Adi pun, digunakan sebagai gudang gabah kering milik Ghavi.


"Terus, kok Mas bisa pulang pagi?" ini adalah hal yang paling sering ia lakukan sejak hidup bersama Nadya.


"Supir butuh tempat istirahat, butuh makan. Kan, mau tak mau aku harus nemenin dia ngopi sejenak. Mau tak mau, harus belikan makanannya juga. Pagi-pagi makanya kalap langsung pergi, karena supir pun jadwalnya balik dari anter kayu."


Oh, aku paham.


"Mas melulu ngurus kayu ya?" tanyaku kemudian.


"Tak juga. Kadang ngurus wajah juga, mainan make up, skincarean, maskeran." tangannya melambai bagaikan bencong.


Aku hanya bisa mengusap dada. Tetapi mas Givan malah terkekeh geli.


"Nanti kalau jadi rujuk, kau bakal tau aku ngapain aja. Nanti aku ajak tour, buat tau kesibukan suami kau." ia bangkit, lalu membuka pintu lemari.


Ia mengambil jaketnya, lalu mengenakannya.


"Keluar dulu." ia langsung berlalu pergi.


Aku mulai menikmati ranjang seribu kenangan ini, dengan menyaksikan sinetron favoritku sejak di rumah sakit. Sampai-sampai, aku merinding karena mendengar suara tangis perempuan.


Padahal pada adegan televisi itu, yang menangis adalah anak kecil. Kenapa yang terdengar, malah tangisan perempuan dewasa.


Aku memposisikan bantal, agar Ceysa tidak terjatuh. Lalu, aku mulai merindik-rindik untuk menguping.


Rupanya, raja Adi's Bird tengah menyidang Putri di ruang tamu. Putri menangis pilu dalam pelukan Novi.


Aku memilih untuk kembali ke kamar. Karena posisi papah Adi berdiri dengan mengayun Chandra, aku khawatir papah Adi langsung memergokiku yang tengah menguping.


Aduh, aku jadi was-was. Bagaimana ya, takdir akhir cerita ini?


Bagaimana cerita cinta mas Givan dan Putri?


Bagaimana kisahku dengan bang Daeng juga?


Aku hanya menunggu takdir dari.....author.


~


Satu minggu berlalu, dengan aku yang memiliki kewajiban untuk membuat makanan di rumah megah. Aku tidak tinggal di rumah megah lagi, karena ingat statusku yang mantan istri mas Givan.


Meski aku dan mas Givan tidak pernah macam-macam sekalipun. Tapi, orang yang menyangka pasti langsung menghakimi kami. Aku hanya menjaga nama baikku saja.

__ADS_1


Sejak malam itu, esok paginya Putri pergi dari rumah megah itu. Sedangkan mas Givan masih stay di rumah megah, ia direpotkan dengan ladang milik Ceysa di Pintu Rame Gayo.


Mas Givan mengatakan, untungnya usahanya di Kalimantan tengah stabil.


"Hei, hei, hei..... Canda Pagi Mengantuk!" sapaan yang tidak ramah.


Mas Givan baru saja pergi mengantar anaknya ke sekolah. Aku tak mengerti konsep berani, yang mas Givan tanamkan. Anak usia empat tahun setengah, mas Givan biarkan Chandra di kelasnya sendiri, ia hanya datang dan pergi untuk mengantar dan menjemput.


Aku tidak boleh ikut campur, dalam salah satu cara mas Givan. Untuk mengajari Chandra bisa bersosialisasi, tanpa orang tuanya. Karena kalian pasti tahu, bagaimana Chandra jika bertemu orang baru.


Aku menguap lebar, lalu mencari sumber suara itu. Terlihat ayahnya Chandra menenteng plastik hitam berukuran besar, ia berdiri di depan teras tokoku.


"Aku udah masak, Mas. Ada kan di dapur? Papah tau kok, tanya papah aja." aku bangkit dari tempat meja pembukuan tokoku ini.


Aku kembali ke ruko, setelah selesai memaksakan sarapan pagi untuk mas Givan dan papah Adi. Tentu juga, untuk Key dan kak Ifa. Jika Novi, ia bolak-balik saja. Ia bekerja pada Ghifar, ia juga diminta untuk menempati rumah baru mas Givan. Ia hanya datang, untuk membantu papah Adi bersih-bersih dan berbenah rumah. Karena badan Novi besar dan tinggi, membuatnya terlihat kuat saat memindahkan barang-barang.


Namanya juga rumah sarang anak-anak. Rumah cepat berantakan, dengan lantai yang berpasir. Meski di rumah itu hanya Key, cucu yang tinggal. Namun, Kal dan yang lainnya setiap hari selalu berkunjung ke situ.


"Udah sarapan. Cuma ini, masakin kembang pepaya. No pahit-pahit ya? Udah paham kan cara ngolahnya?" mas Givan menunjukkan plastik hitam itu.


Dasar, pemakan tumbuhan.


Setiap hari, ada saja yang ia bawa untuk dimasak. Urut setiap hari daun singkong, daun kunyit, daun pepaya, daun kelor, daun binahong dan daun ginseng pun ia minta aku untuk menumisnya.


Jarang sekali ia makan daging-dagingan, meski mulutnya doyan dan kantongnya mampu. Mungkin, hanya seminggu sekali. Itu pun tak menentu.


Apakah seperti itu bentuk herbivora?


Ehh, vegetarian maksudku.


Tapi, mas Givan juga doyan daging. Ah, entahlah. Mungkin sayuran hijau tetap makanan favoritnya.


Aku menerima kantong plastik berwarna hitam tersebut, "Bisa, Mas. Nyari di mana kembang pepayanya?"


"Di samping rumah Giska. Oh iya, Canda." ia mengeluarkan sesuatu dari kantong belakangnya.


Ih, ini pasti uang nih. Iya lah, masakan tak akan matang tanpa bumbu dan api.


Namun, tebakanku salah. Aku terdiam kaku, melihat kertas pipih segi panjang, dengan dilapisi plastik yang memiliki perekat.


"Maaf, aku tekuk tadi. Sempet terbang, pas ditaruh di dasbor motor. Jadi aku tekuk, aku sakuin." ia meratakan kembali bentuk yang familiar itu.


"Buat siapa, Mas?" aku mengulurkan tanganku, untuk merebut itu.


"Buat kau, dari......

__ADS_1


...****************...


Apa itu 🙄


__ADS_2