
"Mas, aku jangan dulu dipakai dulu." aku menahan dadanya, yang akan menindihiku.
"Aku udah sakit kepala, Canda." mas Givan menciumi ceruk leherku.
Baru saja aku ber-KB sore tadi, malamnya mau langsung tancap gas saja. Nyeri di pinggang belum reda, sudah akan dikoyakan saja.
"Takut loh, Mas." aku menahan kepalanya.
"Kalau udah dekat, biar aku masukin. Sekarang biarin aku dulu."
Benarkah aman berhubungan badan dua bulan pasca operasi sesar?
"Mas, Mas serius ini aman?" aku mencoba menambahkan minatnya, dengan sentuhanku di punggungnya.
"Aman, Canda. Aku udah banyak nanya ke Kin." wajah kami berhadapan.
Satu, dua, tiga. Tidak butuh waktu lama, mas Givan bermandikan keringat karena fantasi yang berjalan di otaknya sendiri.
Aku bisa kl*maks, meski dengan gesekan yang tidak begitu lama. Mas Givan benar baru memasukkan, ketika ia sudah merasa sudah tidak tahan.
Cukup nyaman dan tanpa sakit. Karena pelumas dan gerakan yang dilakukan cukup pelan.
Pagi harinya, aku berada di dapur dengan mamah Dinda. Aku tengah mencuci beras, dengan mamah Dinda yang tengah membuat bumbu.
Aku hanya diminta untuk mencuci beras saja. Untuk memasak, aku belum diizinkan oleh mas Givan. Karena aku pasti berdiri cukup lama. Tapi untungnya, rahimku tidak bengkak dan cepat kembali ke ukuran semula.
"Mah, Mamah beneran mau rujuk sama papah? Kok mau sih?" aku penasaran dari pemikiran mamah Dinda.
"Mau tak mau, meski sekarang masih hambar. Mungkin Mamah perlu belajar dari yang muda kan? Dari kau, dari Kin." ujar mamah Dinda, dengan tersenyum sekilas.
Memang aku bagaimana?
"Aku kan malah pendekatan lagi setelah cerai, Mah. Awal-awal pun cekcok aja, mas Givan hawanya negatif terus. Sering nuduh, pandangan sinis. Pas aku pindah ke ruko ini kan? Dia mulai ada ngobrolinnya, sering chat meski nanya anak-anak. Tak langsung srek di hati lagi. Awal-awal pernikahan juga, kadang khawatir dan ragu terus. Pas tau aku mau dioperasi ini lah, aku baru tau bagaimana perasaan mas Givan ke aku." ini adalah singkatnya saja.
"Iya tau, Canda. Memang kemarin Mamah tak pendekatan lagi? Tiap hari itu ya ngobrol lah. Meski Mamah cuma diem dengerin papah cerita kan, tapi Mamah nangkap gimana ekpresi dan respon setiap kali Mamah kasih pertanyaan. Kan kelihatan dari situ juga." ujar mamah Dinda, dengan memalingkan pandangannya ke arahku.
__ADS_1
"Jadi dari situ, Mamah mantap buat rujuk?" aku mengulang kembali mencuci beras ini.
Aku tidak mengerti, jika beli beras di Ghavi harus mencucinya sebanyak mungkin. Karena meskipun pulen, tapi seperti berdebu sekali. Lima kali cuci, cucian beras masih terlihat kotor saja.
"Ya mantap buat cerai, makanya ditanda tangani."
Aku jadi bingung.
"Nah, terus kenapa rujuk?" aku merasa seperti dipermainkan, padahal aku yang kepo.
"Kan papah kau yang mau."
Tak jelas betul. Sebalnya jadi aku.
"Mamah kan dari awal memang minta diceraikan, tapi papah kau maunya kembali. Giliran sok cerai, tapi Mamah suruh proses. Ya Mamah tak mau lah. Udah tanda tangan, udah. Tinggal papah kau aja gimana. Nyatanya, papah kau lebih milih balik dari pada tanda tangan surat cerai."
Ada yang bisa menjelaskan? Aku belum sarapan soalnya, jadi aku tidak bisa berpikir jernih. Perutku lapar, aku tidak bisa mencari penjabaran di otakku sendiri.
"Pusing aku, Mah." aku tidak tahu ingin menyahuti apa.
Namun, mamah malah terkekeh geli.
"Aku keluar beli nasi campur aja ya, Mah? Awas Ra bangun, mas Givan juga masih tidur." ini masih waktu subuh.
Mas Givan biasa bangun jam lima, sedangkan sekarang masih setengah lima. Entahlah, kadang ia rajin. Tapi kalau dibangunkan, ia langsung mengamuk.
"Mamah mau tak?" aku berjalan ke arah penanak nasi.
"Tak. Buat kau aja. Kasian ASI kau barangkali kosong." mamah Dinda beralih beraktivitas di depan kompor.
Setelah penanak nasi bekerja, aku keluar rumah menyusuri jalanan yang sejuk ini. Hanya lampu rumah Key yang sudah menyala, lampu rumah anak-anak yang lain masih padam. Sepertinya, hanya kak Ifa yang sudah bangun. Atau Key yang sudah bangun.
Rumah megah ini cukup menyeramkan. Tapi esok mulai dibuka untuk dibersihkan. Beberapa hari lagi, akad nikah siri dan kumpul keluarga siap dilaksanakan.
Semoga rencana ini cepat terjadi, agar lekas tamat.
__ADS_1
Aminkan ya?
Aku membeli sarapan, sekalian membeli sayur dan daging untuk makan malam. Sarapan kalau tidak habis, biasanya dimakan lagi untuk makan siang. Lalu makan malam, kami akan memasak kembali pukul tiga sore.
Entahlah aku membeli daging untuk dimasak apa. Aku tidak pandai memasak, apalagi memasak daging. Tapi ada ibu Muna dan mamah Dinda juga, biar mereka yang memasak.
Drama memandikan Ra dimulai. Karena mas Givan memilih untuk memandikan anak itu sendiri, ketimbang untuk sabar menunggu ibu ke rumah. Karena biasanya ibu yang memandikan, saat mas Givan berada di Kalimantan.
"Kalau Ra nangis, Yayah kabur lagi." ancam mas Givan, saat ia menaruh bayi dua bulan itu di jaring mandi.
Ra tidak menangis, tetapi wajahnya tertekan dan juga bibir bawahnya mengerucut. Ra menahan tangis.
Jika bersama ibu, Ra tidak menangis. Ibu bisa mengguraui Ra, sehingga Ra tidak menangis. Bukan diancam seperti ini.
Aku ada di belakang mas Givan, dengan membawa handuk milih bayi Gembul ini.
"Gusinya dibersihkan, Mas. Pakai sikat gigi jari, bahan silikon itu." aku menunjuk peralatan mandi yang tadi aku siapkan.
Aku yang menyiapkan, dengan mas Givan yang memandikan.
"Ya, Canda." mas Givan tengah serius menyabuni bayi besarnya.
Cuma kau, Ra. Yang bisa membuat ayahmu turun tangan sendiri untuk memandikan kau.
Setelahnya, mas Givan langsung menaruh anaknya di atas tempat tidur. Dengan aku yang diminta untuk membumbui Ra. Mengoleskan minyak telon, mengolesi cream kulit di wajahnya. Agar milia yang seperti nasi terperangkap di bawah kulit Ra itu menghilang. Kemudian, diolesi salep untuk lipatan di badannya, juga diberikan bedak di setiap siku dan lipatan itu. Bedak tidak boleh diberikan di bagian wajah, karena akan mengganggu pernapasannya.
Ra merengek dengan menendang kakinya, setiap kali ayahnya bergerak menjauh dari jangkauan pandangannya.
"Yayah mau makan sarapan terus berangkat kerja, Ra. Ra sama Biyung, nenek. Ra tak bisa sama Yayah terus."
Ra belum mengerti dan tidak mau mengerti. Ra malah menangis, dengan mengangkat part belakangnya, dengan kaki yang mendorong tubuhnya ke belakang. Padahal ia besar, tapi ia memiliki gerakan yang lincah. Aku jadi memikirkan, bagaimana jika ia bisa berlari.
"Tungguin dulu coba, Mas. Biar aku bisa cepat selesai ngurusinnya. Ra tak mau diam, tak siap-siap buat dipakaikan baju." aku melirik ke arah ayahnya.
Kesal sekali pada ayahnya Ra ini. Ia malah keliling kamar memunguti keperluan dirinya.
__ADS_1
"Kok Gue yang disalahkan?" mas Givan akhirnya duduk di dekat Ra, dengan memakai kemejanya.
...****************...