
Alhamdulillah.
Hari ini, Ceysa sudah berusia satu tahun. Ia besar, tanpa pernah ditengok oleh manggenya kembali.
Kehidupanku normal-normal saja. Dengan usaha berdagang ini, sebagai mata pencaharianku.
Hari ini, aku akan dikenalkan dengan seorang laki-laki yang berstatus perjaka. Ia adalah anaknya kerabat jauh papah Adi. Konon katanya sih, nenek buyutnya papah Adi adalah kakak dari nenek buyut laki-laki tersebut.
Jika berjodoh, aku menerima.
Jika tidak, aku pun menerima saja.
Ya, ini adalah proses perjodohan.
Setelah banyak negoisasi dengan mamah Dinda. Akhirnya, aku mengalah. Beliau memaksaku, untuk memiliki pendamping hidup.
Mas Givan.
Tentu, ia bukan lah pendamping hidupku kembali. Banyak alasan, mamah Dinda pun tak berpikir untuk menikahkan mas Givan denganku kembali.
"Siapa namanya, Pah?" aku bertanya pada papah Adi.
Kami tengah memperhatikan mobil keluarga yang masuk ke halaman rumah papah Adi.
"Nanti tanyakan sendiri. Nanti Papah kasih waktu buat kau kenalan, tukeran nomer HP." papah Adi mengedipkan matanya genit.
Aku tahu, ia tengah mengisengiku. Agar aku salah tingkah, saat bertemu dengan laki-laki yang dimaksud.
"Bujang loh, Dek." mamah Dinda menyenggol lenganku.
Tawa mereka begitu renyah, seakan-akan tengah meledekku.
Seorang wanita paruh baya keluar dari mobil. Dengan seorang laki-laki yang mengemudikan kendaraan itu.
Mereka berdua tersenyum ramah pada kami.
"Assalamualaikum..." ujar mereka, saat sudah berada dekat dengan posisi kami di teras.
"Wa'alaikum salam." sahut kami, dengan menyambut mereka.
Banyak tanda tanya berputar di kepalaku.
Bujang?
Perjaka?
Dari mananya?
Bahkan ia dulu dipanggil ayah.
Jika memang dia seorang duda beranak pun, aku tidak keberatan. Jika memang berjodoh. Toh, keadaanku pun membawa dua anak.
"Ini yang namanya Canda?" tanya ibu-ibu tersebut.
Aku tersenyum, mengangguk, kemudian mencium tangannya.
"Iya, Bu. Saya Canda." jawabku kemudian.
"Kenalin, Dek. Ini Raka, anak semata wayang Saya."
Aku tersenyum, pada laki-laki yang berdiri di samping ibu-ibu tersebut.
Ia mengulurkan tangannya padaku, "Raka..." ucapnya saat tangan kami bertaut.
"Canda." aku memperkenalkan namaku sendiri.
__ADS_1
"Mari masuk, Kak." papah Adi mempersilahkan tamu tersebut untuk masuk.
Ibu tersebut mengangguk, kemudian ia berjalan mendahului.
Beberapa saat kemudian. Kami saling memandang, dengan teh hangat yang menemani kami.
"Canda ini mantan menantu Adi, Kak." ujar papah Adi, memecahkan keheningan.
"Ohh." beliau manggut-manggut, "Yang nikah sama siapa?" tanyanya kemudian.
"Sama sulung, mantan istrinya Givan. Mau balik sama Givan tuh, Givannya belum bener. Maksudnya... Givannya masih pengen sendiri." terang papah Adi.
"Lain kali aja ya, Kak. Buat kenal ke cucu-cucu aku, yang dari Canda ini. Ini rumahnya ruko itu. Kalau memang berlanjut, Raka bisa main sendiri ke sana." ungkap mamah Dinda ramah.
Ibu-ibu tersebut mengangguk, "Gimana Raka aja aku sih, Di, Din." tukasnya.
"Gimana Raka?" tanya papah Adi.
Menurutku, ini terlalu cepat. Sudah main bagaimana-bagaimana saja.
"Biar aku mau ngobrol dulu, Pak cek." sahut si abang-abang berdahi klimis tersebut.
Ya, dialah abang-abang klimis yang pernah bertemu di toko kosmetik itu. Ia adalah laki-laki, yang memilihkan skincare untuk ibunya. Laki-laki yang pernah aku kira, bahwa ia kurang matang.
Namun, ada dua celah yang mengganggu pikiranku.
Yang pertama, tentang pengakuan si Raka ini tentang statusnya. Juga masalah kenapa dahinya bisa seklimis itu.
Mungkin jenong disebutnya. Tapi herannya, begitu bersih dan tak terlihat pori-porinya. Ia seperti profesor laboratorium, yang memiliki kepala botak di depan.
Ia tidak ganteng, tapi tidak jelek juga. Dari penampilannya, ia seperti manusia yang urus akan badannya sendiri. Hingga kumis dan jenggot pun, ia tidak miliki.
Kulitnya berwarna kuning bersih, dengan badan berisi. Ia tidak begitu gagah, tetapi terlihat cukup montok. Bukan gemuk juga sih, apa ya namanya? Ia tidak memiliki masa otot sepertinya, otot tangannya pun tidak menonjol seperti laki-laki keturunan mamah Dinda atau bang Daeng.
Uhh, aku malah teringat akan batang yang berurat menonjol.
Aku memaki diriku sendiri.
"Ya, Canda?"
Aku langsung menoleh ke arah mamah Dinda, "Gimana, Mah?" aku melamun sepertinya.
"Mamah, Papah, sama Ibu Trisnawati ke dalam dulu. Kau di sini, ngobrol sama Raka." terang mamah Dinda.
Aku mengangguk samar, "Ya, Mah."
Aku sudah ditekankan beberapa kali, untuk mengikuti rencana mereka untuk hidupku.
Karena, sampai saat ini mas Givan belum stabil. Ia juga tidak sering pulang, selama satu tahun belakangan. Ia pulang, hanya saat lebaran saja. Ia mengatakan, bahwa memang ia tengah dibutuhkan di sana.
Inilah yang membuat mamah dan papah memintaku untuk menikah lagi. Dua anakku butuh figur ayah di rumah, juga pendana terbesar untuk keluarga kecilku.
Mereka bertiga berlalu pergi, menyisakan aku dan Raka saja.
Ia tersenyum ke arahku. Aku pun, hanya bisa membalas senyumnya. Sejak berpisah dengan bang Daeng, aku tidak pernah tertarik pada laki-laki. Aku merasa, aku sudah cukup bahagia dengan keadaan ini.
"Nama panjangnya siapa?" tanyanya kemudian.
"Canda Pagi Dinanti. Kalau kau?" aku bertanya kembali, agar ada obrolan lagi.
"Raka aja."
Tawa kecil menghiasi kami.
Canggung, itulah yang kami rasakan.
__ADS_1
"Umur kau berapa? Ada anak berapa?" Raka aktif bertanya, seperti wartawan.
"Aku sekarang dua enam, akhir tahun ini dua tujuh. Aku ada anak dua. Kau sendiri, umur berapa? Anak kau umur berapa sekarang?"
Ia mengerutkan keningnya, "Aku baru dua lima. Kok bisa aku dijodohkan sama kakak-kakak?" ia menggaruk kepalanya.
Raka seperti tengah menggerutu.
Apa ya namanya jika lebih muda laki-lakinya?
Berondong kah Gerandong?
"Ehh, tadi kau bilang apa?" ia seperti kebingungan.
"Anak kau umur berapa sekarang?" aku mengulangi pertanyaan yang belum terjawab olehnya.
"Anak???" alisnya sampai menyatu.
"Keknya, sebelumnya kita pernah ketemu. Waktu itu, aku masih dalam keadaan mengandung anak kedua aku. Terus, kita ketemu tuh di toko kosmetik. Kau minta kosmetik untuk ibu kau, yang kebetulan botolnya tengah aku pegang." aku mengulas kembali cerita pertemuan pertama antara aku dan Raka.
Aku merasa masih mengingat jelas.
"Lupa aku. Tapi, aku memang tak ada anak. Aku belum menikah. Dua puluh tiga tahun, aku baru dijemput mamah di pesantren. Aku mondok sampai kuliah. Terus, selama dua tahun ini aku di rumah aja bantu-bantu urus tambak ikan."
Hah?
Kok bisa?
Lalu anak siapa yang ia bawa saat itu?
Bahkan, anak itu mengatakan "Ayah buruan." Aku masih ingat jelas. Saat itu pun si kinclong klimis ini juga, mengiyakan dan menggandeng tangan anak perempuan itu.
"Udah belum, Ka? Mintalah nomor Canda." ibu dari Raka ini muncul dari dalam rumah.
Raka mengangguk cepat, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
"Minta nomor telepon kau, Kak. Buat komunikasi." ia memberikan ponselnya padaku.
Apa dia kata tadi?
Kak?
Beda satu entah dua tahun, aku dipanggil kak?
Aku langsung mengetikkan nomor ponselku. Lalu membubuhkan nama Canda untuk langsung disimpan di kontaknya.
"Udah nih. Tuh..." aku menunjukkan kontak yang baru saja aku simpan di ponselnya.
Ia menerima ponselnya kembali, lalu ia manggut-manggut.
"Ayo Di, Din. Lain waktu mungkin main lamanya."
Oh, mereka langsung pulang ternyata.
"Oh, iya Kak. Makasih, udah nyempetin berkunjung." sahut papah Adi.
"Iya, sama-sama Di. Mari, Canda. Assalamualaikum." mereka berdua undur diri.
Huft.....
Plong sudah nafasku.
"Gimana.....
...****************...
__ADS_1
Gimana pendapat kalian 🤓 jangan bosan ya 🙄 kalau bosan, nanti aku endingin aja 😭 tapi pasti deh, gak disangka-sangka sama kalian 😌 ada karma timbal balik kecil, berlaku di sini 🧐