
Buat kalian yang baca tiap hari, tapi belum tau cara dukung author. Tolonglah, tap itu ❤️ yang di dekat berbagi itu. Nanti bertambah itu jumlah yang favorit novel ini. Ya setidaknya, author tambah semangat kalau tau ternyata banyak yang nungguin cerita ini. Dengan kalian tap ❤️ itu juga, kalian bakal dapat notifikasi setiap novel ini update episode baru. Jadi tak perlu tuh bolak-balik nengokin. Nanti notifikasi update episode itu muncul, kek ada WhatsApp masuk gitu nah. Terima kasih atas perhatian dan dukungannya 😁🙏🙏🙏🙏🙏
...----------------...
"Fira minta Key dianterin ke rumah orang tuanya Fira. Key ulang tahun, mau ada acara di rumah neneknya di sana."
"Lah, nanti gimana? Putri sampai sini, kau tak ada di rumah." mamah Dinda ikut paniknya saja.
"Nah, itu. Aku baru inget sekarang. Fira jarang hubungi, dia bilang sekali minggu lalu aja. Dia chat, katanya minggu depan jam sepuluh pagi ada acara buat Key, dia pun langsung pulang ke rumah orang tuanya. Ini, dia baru miskol lagi jam setengah tujuh pagi." mas Givan menunjukkan layar ponselnya pada mamah Dinda.
"Ya udah cepat anter Key dulu. Putri sama anaknya biar nunggu di sini. Kau jangan nginep, Key nginep tak apa, kalau dia mau." ujar papah Adi.
Mas Givan mengangguk, lalu ia menoleh ke kiri dan kanan.
"Key... Ikut Ayah yuk, Nak." mas Givan berseru.
"Key...." panggilnya kembali.
"Di belakang, Van. Tak usah bawa kak Ifa, biar dia suruh istirahat dulu. Key anaknya astaghfirullah, kasian dia bakal kecapean." seru mamah Dinda.
Fira sudah berdamai dengan masa lalunya, orang tuanya pun sudah mengerti keadaannya. Ia banyak bercerita dengan mas Givan dan para ipar di sini. Namun, tidak dengan mamah Dinda dan papah Adi.
Ia mengatakan, kehadirannya salah. Sekali orang membenci, berbuat sebaik malaikat pun kita tetap dibencinya.
Satu hal yang aku pahami tentang Fira. Ia trauma menjalin hubungan dengan laki-laki. Sejak terakhir ia menjalin hubungan dengan mas Givan, hingga hari ini ia tidak pernah berpacaran lagi. Fokusnya hanya butik dan usaha tisu parfumnya.
Ya, kini Fira menekuni usaha parfum yang dikemas dengan kemasan tisu basah. Jika tisu itu diusap ke tubuh, wanginya bisa bertahan sampai beberapa jam.
Tapi, Fira pernah mengatakan juga. Bahwa tisu-tisu itu digunakan mereka yang sering berjabat tangan. Khususnya, para petinggi dan orang penting yang selalu memiliki punggung tangan yang berbau harum. Ternyata rahasianya ada di tisu, yang persis Fira kembangkan.
Acara aqiqah bayi Ceysa, dilaksanakan setelah dzuhur. Kambingnya, aku membeli lewat Ghavi. Namun, Ghavi hanya meminta uang dua juta padaku. Selebihnya, biar Ghavi tambahkan.
Untuk masakan pelengkap lainnya, Winda turun tangan. Dia memiliki kenalan catering, ia juga yang menyanggupi biaya catering.
__ADS_1
Itu semua, hitung-hitung hadiah untuk Ceysa.
Mas Givan, memberikan biaya persalinan. Ghifar, memberikan perhiasan. Ghava dan Winda, memberikan catering. Ghavi menambahkan uang untuk pembelian kambing. Zuhdi dan Giska datang, dengan berbagai snack dan buah untuk acara hari ini.
Icut tidak bisa hadir. Karena ia tengah punya bayi juga. Mamah Dinda pun belum bisa menengok cucunya di sana, ia direpotkan dengan aku dan Ceysa di sini.
Hanya berjarak dari kota ke kabupaten. Tapi suami Icut, begitu enggan untuk mengunjungi mamah Dinda setiap bulannya. Hal itu yang membuat mamah Dinda sedikit geram, pada pilihan hati Icut yang berprofesi sebagai guru tersebut.
Subandi, suami Icut terlihat angkuh dan sombong.
Yang papah Adi dan mamah Dinda syukuri hari ini. Subandi menyayangi putri yang paling cantik di rumah ini sepenuh hati.
Sering mamah Dinda menanyakan perlakuan Subandi pada Icut, dalam teleponnya. Icut pun melaporkan bahwa suaminya berlaku baik, hanya saja Subandi sedikit cuek.
Beberapa saat kemudian, Ceysa diarak ke ruang tamu untuk dicukur sedikit rambutnya. Dengan lantunan ayat suci Al-Quran. Untungnya, bayi merah ini tengah terlelap nyenyak.
Berulang kali aku menanyakan pada ibu dan mamah Dinda, kenapa bayiku begitu merah cenderung hitam. Namun, jawaban mereka tetap sama. Ia besar akan memiliki kulit yang cerah, atau akan hitam manis seperti bang Daeng.
Namun, bayi Chandra sejak kecil ia sudah berkulit cerah. Sampai ia besar, kulitnya cerah seperti dan mas Givan. Ya, mas Givan memiliki kulit yang cerah dan bersih seperti mamah Dinda.
"Itu tuh Adek bayinya. Nih, kasih hadiah buat Adeknya Kak Jasmine." Putri menunjuk anakku, dengan menyerahkan paper bag pada anaknya.
Wajah mix antara bang Daeng dan Putri. Netra tajamnya seperti bang Daeng, tidak besar seperti mata Putri. Namun, bulu mata Jasmine lentik seperti Putri. Tulang hidungnya pun, persis seperti bang Daeng. Garis mulut dan bentuk wajah saja yang seperti Putri.
Jasmine tersenyum ke arahku, lalu ia melangkah menghampiriku yang tengah duduk dengan menggendong bayiku ini.
"Hai Biyung, dapat salam dari mangge." Jasmine langsung mencium tanganku.
"Hai Adek, dapat salam rindu dari mangge." Jasmine langsung mengecup pipi Ceysa.
Kemudian ia menaruh paper bag tersebut di sampingku, "Ini buat Adek aku, Biyung." tambahnya kemudian.
"Hai, Jasmine. Cantik kali kau, Nak." aku mengusap dagunya.
__ADS_1
Ia tersenyum amat manis, "Aku anak Ammak, mestilah cantik." logat yang keluar dari mulutnya lucu sekali.
"Salam kembali ya buat mangge. Memang Jasmine ketemu mangge di mana?" tanyaku kemudian.
Ia menunjuk ke arah luar, "Mangge antar aku sama ammak. Terus mangge pergi lagi."
Hubungan yang baik.
Bang Daeng pun harusnya mengerti keadaan ini. Harusnya ia sadar, bahwa ia telah membohongiku begitu jauh. Tentang Jasmine saja, ia tidak pernah bercerita sekalipun padaku. Ia pasti merasa bersalah, kemudian enggan untuk menengok putrinya yang aku lahirkan ini.
Jadi panggilan untuk kedua orang tua Jasmine adalah ammak dan mangge?
"Say hai sama yang lain, Nak." pinta Putri, ia tengah mengobrol dengan Ahya.
Jasmine langsung ke pindah ke anggota keluarga yang lain. Sekecil itu, Jasmine bisa mengakrabkan dirinya. Putri pun, sepertinya sudah memberitahu bahwa Ceysa adalah adiknya dan ia diajari memanggilku biyung. Hebatnya didikan Putri. Tidak seperti didikanku, Chandra bertemu orang asing saja ia seperti bertemu alien. Ia akan menyatukan alisnya beberapa lama, kemudian menangis ketakutan.
Entahlah, itu didikan atau sifat bawaan.
Aku masih memperhatikan Jasmine yang selalu melambaikan tangannya, ketika ia akan menyapa seseorang. Tak lama kemudian, ia sudah kembali ke pelukan Putri.
"Diem aja tuh, jangan bilang ngantuk. Kau tak lagi hamil. Sudahi masa-masa tidurmu, Snow White." ujar mamah Dinda, ia duduk di sampingku dengan membawa snack dalam piring.
Aku terkekeh geli, "Tak, Mah. Aku lagi merhatiin Jasmine, percaya dirinya bagus. Dia berani nyapa orang, meski tak ditemani ibunya Mah." ungkapku dengan mengambil satu snack dari piring yang dibawa mamah Dinda.
"He'em. Dia tadi sama Mamah aja ngobrol. Katanya, saya harus panggil anda siapa. Anak empat tahun loh, bisa bahasa orang dewasa gitu." terang mamah Dinda.
"Terus kata Mamah apa?" aku melirik beliau.
"Nenek lah. Putrinya udah kepengen betul sama Givan. Givan sih tau sendiri, dia tak mau kasih makan anak tiri." bisik mamah Dinda membuat kami terkekeh geli.
Menurutku, mas Givan hanya belum membuka hatinya saja. Perihal berhubungan badan, itu tentu hanya untuk kebutuhan biologisnya saja.
"Mah....
__ADS_1
...****************...
Buang Daeng, dapetnya Givan. Put, Put... kasihan sekali 🤦