
"Perhiasan. Stok lama sih, tapi memang tak pernah dipakai. Aku beli terlalu banyak buat Kal, tapi Kal tak nyaman pakai perhiasan. Ini seperangkat, gelangnya ada lima. Gelang kaki dua, kalung satu, kalung pinggang satu, anting satu pasang, tapi memang tak ada cincin. Sertifikatnya ada di bawahnya ini, Canda." Ghifar mengangkat bagian bawah kotak beludru tersebut.
"Kin tau tak, Far? Kasih barang tuh, harus seizin dia. Nanti dia liat anak aku pakai barang ini, disangkanya nyuri dari kotak perhiasannya." aku menahan tangan Ghifar, yang kembali memasangkan gelang di tangan mungil bayiku.
"Anak kita gitu. Aku udah bilang kok, tapi Kin kan memang cemburuan. Udah, tak usah dipikirkan tentang Kin." ia menarik anaknya yang hendak berlari.
"Sini sama Papa. Jangan lari jauh-jauh, nanti Papa kangen." Ghifar menciumi anaknya habis-habisan.
"Papa embley." Kal memukuli kepala Ghifar.
Ghifar menahan tangan Kal, "Jangan suka pukul-pukul, Sayang. Dimarahin Allah nanti Adek Kal nih." Ghifar menggelitiki perut anaknya.
Aku iri. Bayiku juga mungkin iri.
Ia tidak memiliki ayah yang menghangatkan suasana rumah tangga. Ayah yang mendidik anaknya dengan kelembutan ini.
"Papa embley." Kal menjulurkan lidahnya.
"Apa sih embley itu?" aku merapihkan rambut Kal ke belakang telinga.
"Lebay." Ghifar mengikuti cara berbicara Kal yang menjulurkan lidahnya, saat mengatakan hal itu.
"Ohh, lebay. Siapa yang ngajarin, Kal?" tanyaku kembali.
"Meme Tik, embley."
Ghifar sampai tertawa renyah. Mendengar anaknya berbicara.
"Ohh, meme Tika bilang embley gitu?" tanyaku pada Kalista ini.
Ia manggut-manggut, lalu memeluk leher ayahnya.
"Papa, ain bang da." inilah Kal, ia tidak betah berlama-lama.
"Nanti, Nak." Ghifar mencoba membujuk anaknya.
Namun, Kal malah semakin heboh merengek.
"Yuk, yuk, yuk. Ke bang Chandra yuk." Ghifar kalah dari anaknya.
Ia menoleh padaku dengan senyum manisnya, "Semangat ya? Jangan galau terus."
Cup...
Aku segera memberi pelototan tajam padanya. Aku pun memegangi pipiku, yang mendapat sosoran buaya air payau itu.
"Cium sayang, lebay betul tuh. Sampai dipelototi tak udah-udah."
__ADS_1
Ghifar menggendong anak perempuannya, lalu berlalu pergi begitu saja.
Aku memalingkan wajahku, aku fokus menghadap matahari pagi kembali.
Plak.....
"Akkkhhhhhh...." aku langsung menoleh ke arah pintu.
Papah Adi berada di sana, dengan membawa kaosnya di tangan. Ia terlihat memelototi laki-laki, yang berada di hadapannya, yaitu Ghifar dengan menggendong Kal.
"Ya Allah, Papah. Sakit kali loh, Pah." seru Ghifar dengan mengusap-usap pinggang belakangnya.
"Papah bilangin mamah kau juga loh!" sahut papah Adi.
"Jangan, Pah." Ghifar menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Pulang kau sana!!" ketus papah Adi kemudian.
Aku bisa melihat Ghifar yang berlalu pergi. Kemudian mata marah itu kini tersorot tajam ke arahku.
"Kau juga sama!!! Papah bilangin mamah loh!" papah Adi adalah tukang mengadu yang suka dilebih-lebihkan.
"Ghifar, Pah. Bukan aku." menjadi kanak-kanak, adalah senjata terbaik untuk menghadapi papah Adi.
"Kau pun sama!!!" papah Adi sampai ngotot-ngotot, lalu ia berlalu pergi.
Ada-ada saja pagi ini.
Ghifar sampai terkena sabetan kaos dari papah Adi.
~
Ini adalah hari di mana diadakannya acara aqiqah untuk anakku. Di hari ketujuh anakku dilahirkan ini, aku memberinya nama Ceysa Ayanda Mamonto.
Ia akan tumbuh memiliki jiwa pemimpin yang mandiri.
Putri sudah pulang beberapa hari yang lalu. Namun, pagi ini ia mengabari bahwa dirinya sudah berada di bandara kota ini dengan anaknya. Putri akan mengenalkan anak yang selalu mendapat jaminan besar dari ayahnya itu.
"Kau ini calon ayah sambungnya, Bang." Ghifar menepuk pundak kakaknya, karena kakaknya mogok untuk menjemput calon istrinya itu.
"Ayah sambung! Ayah sambung! " mas Givan melirik tajam.
"Memang lah. Nanti kau ngasih makan Jasmine juga." tambah papah Adi dengan mengusap-usap punggung lebar anaknya, yang tengah tengkurap di karpet.
"Nah itu yang berat. Target tabungan pendidikan buat tiga anak aja, udah mumet betul." ujar mas Givan dengan membalikkan tubuhnya.
"Ya kenapa tak cari yang single?" tanya Ahya, perempuan yang selalu membuat Kinasya menyindir tentang liburan.
__ADS_1
"Kau Abang ajakin, langsung bilang tak mau." mas Givan bangun dari posisinya.
"Rugi aku dong. Nanti jadi baby sitter anak Abang." tawa samar memenuhi ruang keluarga, yang hanya berisikan keluarga ini.
"Kan Abang ganteng, Dek." mas Givan mencolek dagu Ahya, yang duduk di sebelahku.
"Aku mau cari PNS aja, biar tua nanti dapat pensiunan. Ganteng aja tak cukup lah, Bang." jawab Ahya, yang membuat kami semakin tergelak.
"Udah jadi sama Hafiz dia, Van. Abis lebaran nanti langsung nikah."
Kami semua menoleh ke arah tante Sukma.
Hafiz adalah kakaknya Aira, anak mak wa Ayu. Kakak sepupunya papah Adi.
Hafiz adalah seorang polisi, yang bertugas di Polres Bener Meriah. Ia beda tiga tahun dengan mas Givan, mungkin ia berusia tiga puluh tiga tahun sekarang. Karena mas Givan berusia tiga puluh tahun, bang Daeng berusia tiga puluh dua tahun.
Di sini sudah umum menikah dengan sepupu, atau masih saudara. Mas Givan pun, dulunya dijodohkan dengan Kin. Ghifar dijodohkan dengan Ahya. Ghavi, dijodohkan dengan Aira. Jika Ghavi, memang dirinya sendiri yang minta dijodohkan. Hanya saja, ia malah meminta menikahi Tika. Papah Adi pun, merasa ragu dengan keputusan anaknya itu.
Menurut papah Adi, Ghavi seperti tidak mengerti cinta. Memang ia memiliki banyak keturunan dengan Tika, ia pun meratukan Tika. Tapi, tidak pernah terlihat kemesraan mereka.
"Jadi, datang naik apa Putri sama anak sambung kau Bang?" tanya Ghifar kembali.
"Taksi online." mas Givan menggosokkan wajahnya.
Ia terlihat mengantuk, ia baru pulang pagi tadi. Wajahnya pun terlihat lesu, dengan kantong mata yang tebal.
"Berarti kalau dapat single, ditinggal itu Van?" papah Adi terlihat mengisengi mas Givan terus.
Mas Givan tersenyum malu, "Ini janda kaya, Pah." jawabnya yang membuat papah Adi tertawa puas.
"Janda, jangan dilihat jandanya. Tapi pemikiran dan enak diajak ngobrolnya. Mamah tak kaya, tapi Papah mau. Mamah dulu pinter atur ladang Papah, pakai perairan modern pertama di Indonesia. Kek luar negeri, pakai perairan tetes." terang papah Adi.
Mas Givan mengangguk, "Kalau dilihat dari otak, memang pinter Putri ini. Rapat juga, cepet dapat kesepakatan, gampang dimengerti stepnya."
Aku akan mengiyakan hal ini. Saat dulu berdebat dengan bang Daeng pun, Putri selalu bisa membalikan ucapan bang Daeng.
"Tapi kalau hati kau belum sembuh, jangan dulu nikah Van. Udah cukup dua kali jadi duda, jangan sampai jadi duda lagi. Lagi pun, apa kau tak malu? Masa, anak-anak kau beda ibu semua?" ujar mamah Dinda.
Mas Givan menepuk jidatnya, "Duh lupa. Mana bentrok lagi."
"Kenapa, Mas?" tanyaku kemudian.
Ia segera berdiri, lalu merogoh seluruh kantong celana jeans yang ia kenakan.
"Fira minta....
...****************...
__ADS_1
Wahhhh 😝