Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD213. Dua pengasuh baru


__ADS_3

"Aduh Adek.... Jangan tinggalkan Abang dong." papah Adi menciumi tangan mamah Dinda.


Mamah Dinda menghempaskan tangannya, lalu ai meraup wajah suaminya.


"Aku mau bantu Givan lah, bukan mau meninggalkanmu." mamah Dinda menoyor bahu papah Adi.


Chandra tertawa lepas, lalu ia menghampiri kakeknya. Dasar, peniru handal. Chandra mengulangi mamah Dinda yang menoyor bahu papah Adi.


Papah Adi tertawa lepas, kemudian ia menggelitiki perut Chandra.


"Usil." papah Adi menciumi cucunya itu.


"Engkek cing." Chandra langsung nemplok saja pada kakeknya.


"Usil lah, bukan cing." mamah Dinda ikut menciumi cucunya itu.


"Suruh Ghifar aja, Adek di sini aja sama Abang." papah Adi menarik bahasan tadi.


"Ghifar mana punya ilmu basic. Perusahaannya menggeliat aja, nangis-nangis dia sama aku." mungkin ini tentang pendidikan. Memang setahuku, pendidikan Ghifar hanya sebatas SMK.


"Ghava deh." papah Adi menarik satu nama lagi.


"Kalau aku tak boleh pergi sendiri, ya udah sama Abang sekalian. Jangan segala ngelarang, nemeninnya tak, ngelarang terus. Aku mau belanja ini itu, diminta online aja, karena Abang sibuk. Sekarang, mana bisa bantu Givan secara online."


Giliran papah Adi yang meraup wajah istrinya, "Merambat. Dari Givan, sampai belanja online." gerutunya kemudian.


"Satu aja lah yang bantu mas Givan, Pah. Nanti siapa yang urus aku? Aku udah ketar-ketir." ujarku, karena tadi kami membahas tentang bang Daeng yang spam chat.


"Suami kau bilang, dia masih kerja. Udah aja nanti, Mamah juga ke Givan paling tiga hari aja." sahut mamah Dinda.


Iya juga sih. Tapi aku merasa tenang, jika mereka berdua ada di rumah.


"Dibilang belum, ketemuan di Lhokseumawe. Jangan kasih tau kau di Bener Meriah sekarang. Nanti dia pikir, kau yang salah, karena balik ke rumah suami lama kau." mamah Dinda adalah pemberi saran terbaik.


"Udah, Mah. Tadi kan Papah yang balas." aku menunjuk papah Adi dengan daguku.


"Heran sama kau. Di inbox suami, panik nyariin Sayahhhh." papah Adi memasang wajah sinisnya.


Aku terkekeh geli, dengan mamah Dinda memukul pelan lengan suaminya.


"Ihhh, Ne. Engkek yaya tu." Chandra mengusap-usap lengan papah Adi yang kena pukul tadi.


"Udah pokoknya tiga hari Papah sama Mamah ke Kalimantan dulu. Setelah beres, langsung balik ke sini. Kasian Givan di sana dirompok. Saudara, bahkan papah kandungnya pada hilang waras. Niat betul nipu." putus mamah Dinda.


"Ya, Dek. Terus baliknya kita cari dukun santet. Kita minta pindahkan batang-batang mereka ke jidat, biar tau artinya malu mereka." tambah papah Adi.


Mamah Dinda memukul kembali lengan suaminya dengan tertawa renyah.


"Ihh, Ne! Engkek yaya!!!" Chandra teriak-teriak di depan mamah Dinda.


Mamah Dinda menangkup wajah Chandra, lalu memeluknya begitu erat.

__ADS_1


"Ihhh, Bang Chandra. Berisik!!!" mamah Dinda menciumi wajah Chandra begitu gemas.


Teriakan Chandra memekakan telinga. Ia menangis, minta dilepaskan oleh neneknya.


"Mati nanti, Dek." papah Adi mencoba melepaskan Chandra.


"Engkek, Engkek." tangis mengadu pada kakeknya.


Chandra langsung memeluk leher kakeknya. Ia mendapat dewa penyelamat, dari kegemasan neneknya.


"Yuk kabur yuk. Kita tinggal Nenek batat."


Papah Adi masuk ke kamar Gavin dan Gibran, dengan menggendong Chandra.


Batat, artinya nakal.


Aku jadi rindu seseorang yang selalu menyebutku bondeng.


"Tidur sana, Dek. Biar Chandra sama Mamah. Udah jam setengah sepuluh, kau udah mabuk betul nampaknya." aku hanya bisa mengangguk, ketika mendapat perintah dari beliau.


~


Pembangunan rumah tengah ditunda, karena tiang-tiang beton bertulang dibiarkan untuk beberapa waktu ke depan. Entah untuk apa, mungkin memang seperti itu cara kerjanya.


"Cantik..." seseorang mencolek lenganku.


Namun, ia melanjutkan melewatiku.


"Bantuin jaga Kal ya? Barangkali Kin fokus ke Kaf aja, Kaf lagi anget soalnya." ia menaiki motornya.


"Ya." aku pura-pura fokus ke Chandra yang tengah aku suapi saja.


"Dadah Papa...." Chandra berdada ria pada Ghifar.


"Dadah, Papa kerja dulu ya? Main sama adek Kal baik-baik ya?" Ghifar pun berdada ria pada Chandra.


Setelah itu, Ghifar langsung melajukan motornya.


Mamah Dinda dan papah Adi, sudah kembali dari Kalimantan pukul lima pagi tadi. Sekarang, mereka masih bersantai bersama cucunya di halaman belakang.


Gavin dan Gibran kemarin dititipkan ke tante Zuhra, adik kandung papah Adi. Mamah Dinda sengaja menitipkan mereka, karena salah satu anak tante Zuhra yang kecil seumuran dan satu sekolah dengan Gavin dan Gibran.


Padahal, ibu menyanggupi untuk menjaga Gavin dan Gibran. Apa lagi, sekarang Key dan Aksa ada yang mengurus.


Ternyata, dua pengasuh baru tersebut adalah salah seorang keluarga dari papah Adi. Mereka masih sepupu dengan papah Adi. Yang satu janda, janda tua, ditinggal mati. Namanya ibu Fatimah, ia seumuran dengan mamah Dinda. Ia adalah seseorang yang mengurus Aksa. Ibu Fatimah pun, digaji oleh Ghavi. Tentu bukan cuma mengurus Aksa, tapi membantu Tika mengurus anak kembar mereka.


Sedangkan Key, ia diurus oleh menantunya ibu Fatimah. Kak Ifa biasa dipanggilnya, ia berumur sekitar tiga puluh lima tahun. Entah apa penyebabnya, kak Ifa selalu keguguran. Kak Ifa pun, diperbolehkan pulang seminggu sekali. Yang jelas, ia bisa naik motor, untuk mengantar jemput Key sekolah TK. Sedangkan suaminya, bekerja di tambak ikan pedih milik kakek Akbar.


Ternyata, akte kelahiran Key yang aku bawa. Malah kembali dengan sendirinya, karena aku pergi tak lama.


"Anteng coba, Nak. Perut Biyung besar nih, ada adeknya Chandra. Biyung susah ngejer Chandra." aku mengusap-usap perutku yang buncit.

__ADS_1


Aku mengandung bayi tunggal padahal. Tapi perutku begitu cembung.


Chandra berlari kembali ke arahku, "Adek Bang, yayang..." ia mengusap-usap perutku.


Aku terkekeh geli, melihat tingkah absurdnya.


Dasar, bocah! Selalu saja bertingkah lucu.


Syukurlah, selama papah Adi dan mamah Dinda pergi tidak ada kendala.


Aku kembali masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu utama. Aku melepaskan Chandra, membiarkannya berbaur dengan saudaranya.


Aku langsung mengambil tempat di samping mamah Dinda yang tengah menonton televisi, dengan merebahkan tubuhnya di atas karpet ini.


"Mak kau itu siapa sebetulnya? Kau nemplok terus sama Mamah, risih tuh."


Aku malah tertawa lepas, kala mendengar protes dari mamah Dinda.


"Mah... Jalan-jalan yuk! Naik motor. Ke toko cosmetic yang kek minimarket itu nah, Mah. Terus pulangnya ke butik langganan Mamah. Aku yang traktir deh, aku belanjakan mamah." aku begitu percaya diri mengajak beliau, lantaran saldo di ATM kuh masih banyak.


Ya, terakhir kali aku melihat saldo kemarin. Uangnya masih kisaran ratusan juta.


"Tapi naik motor aja, Mah. Kalau naik mobil, rasanya kek penyiksaan buat aku." lanjutku kemudian.


"Jadi masuk Yey, Uweh yang nyetir begitu?" mamah Dinda menekan hidungku.


Aku mengangguk, dengan tawa geli.


"Sana bilang papah kalau berani. Mamah sih sungkan, diizinkan tak, kesel iya."


Persis saat mamah Dinda meminta izin untuk membantu mas Givan hari itu. Alhasil, papah Adi yang malah ikut dengan mamah Dinda.


"Tak bisa aku bujuk papah, Mamah aja lah."


Mamah Dinda menggeleng, "Males ribut sama papah. Minta anter aja coba, atau online aja." ini adalah opsi yang selalu papah Adi berikan.


"Online kurang puas, Mah. Dianter nanti naik mobil." bibirku sudah mengerucut.


"Mah...."


Aku dan mamah Dinda menoleh bersamaan pada manusia yang turun dari tangga dengan buru-buru.


"Ada kawan-kawan aku datang, mereka udah diperjalanan. Minjem ruang tamu buat rapat ya, Mah. Kantor aku belum jadi. Masa mau rapat di teriknya matahari, kan tak elit dong." Ghavi tersenyum penuh harap.


"Mamah tuh paling males beres-beres. Yang penting, Mamah tau beres. Jangan ada yang rokok. Anak-anak di sini banyak, bahaya buat mereka."


Ghavi tersenyum senang, "Oke, Mah. Aku jemput di jalan depan dulu. Dadakan, Mah. Tadi kawan aku kurang personil. Sekarang, katanya bisa, terus langsung meluncur, soalnya otaknya ini jadwalnya padat betul. Nanti tolong bantuin bikin minum ya, Mah." Ghavi berjalan cepat dengan berbicara.


...****************...


🤔🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2