
"Kalau tak bisa bikin seneng, jangan bikin nangis sih Van!" suara papah Adi semakin mendekat.
"Duh, Cendol! Tuh kan? Gue lagi yang disalahkan." mas Givan menggerutu.
Ghifar malah terkekeh geli, dengan pura-pura asik makan saja.
"Kenapa coba? Ada apa?!" tegur papah Adi yang sudah berada di hadapan kami.
Mas Givan menggeleng, ia meraih dokumennya dengan menarik pergelangan tanganku.
"Tak apa, Pah." mas Givan membawaku pergi ke kamar.
"Ada apa itu, Far?" aku masih bisa mendengar suara papah Adi bertanya pada Ghifar.
Duh, aku jadi was-was. Jangan sampai Ghifar membocorkan, jika aku makan petai secara sembunyi-sembunyi.
"Liat aja nanti, Pah. Keknya ketahuannya butuh proses sebulan deh, feeling aja." Ghifar berkata dengan masih terkekeh.
Apa maksudnya coba.
Kleb....
Pintu kamar ditutup pelan oleh mas Givan. Ia menatapku tajam, bibirnya yang cemberut pun terlihat jelas.
"Siap-siap sana! Segala nangis! Ya ampun, Canda." mas Givan geleng-geleng kepala.
"Masnya aja kek gitu ke aku. Mas kek tak sayang aku. Ngomong sayang, kalau abis dipuaskan aja." aku berjalan ke arah lemari.
"Kalau tak sayang, pas tidur udah aku bekap wajah kau. Kalau tak sayang, tadi nangis lepas udah aku cekik kau. Kaku betul ngadepin kau, ngadepin anak-anak aja tak sebegininya."
Aku hanya meliriknya saja. Ia berjalan ke arah nakas dan menyimpan dokumennya di sana.
Aku kembali memilah-milah pakaian, "Mas, aku tak punya baju buat pergi." aku merasa pakaianku sudah pernah aku kenakan semua.
Jika menggunakan pakaian ini, pasti orang-orang menyangka bahwa aku tak pernah ganti baju. Lebih parahnya lagi, mereka yang memandang menyangka aku hanya memiliki satu setel baju saja untuk berpergian.
Aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, hembusan nafasnya sampai menembus hijabku yang berbahan ceruti ini.
"Itu baju, Canda. Segitu banyaknya, kau bilang tak ada baju. Kek mana sih kau?!" nada suaranya tidak bersahabat.
"Tapi aku udah pernah pakai, Mas." aku menghentak kakiku ke lantai.
"Astaghfirullah, Canda! Kalau kau minta beli baju baru, tak usah segala bilang kau tak punya baju! Keluarkan baju-baju kau, yang udah tak mau kau pakai. Kita sekalian pergi beli baju kau." ujar mas Givan dengan nada tinggi.
Senyumku mengembang. Tidak berbicara beli baju saja, segala memperpanjang dialog. Hufttt, dasar laki-laki cerewet.
Dengan segera, aku mengambil satu tumpuk pakaianku dari lemari. Kemudian aku menaruhnya di atas tempat tidur. Aku mengulangi kegiatan tersebut, sampai tiga kali.
__ADS_1
"Udah tuh, Mas." aku langsung menghadap padanya yang bersedekap tangan dan bersandar di pintu lemari yang berisi pakaiannya.
"Tiga tumpuk baju yang kau keluarkan? Kau pilah, ambil beberapa setel yang harus kau museumkan. Bukan semua baju pergi kau, kau keluarkan dan minta ganti ke aku. Itu lebih dari satu kodi baju loh, Canda." mas Givan mengusap dadanya sendiri.
Aku mendengus keras, "Jadi aku salah lagi?!" aku sampai meninggikan suaraku.
"Huhhhhh!!!!!" mas Givan seperti akan mencekik leherku, tetapi tidak sampai menyentuh.
Kemudian, ia menyugar rambutnya dengan melewatiku.
Kenapa dia?
Mas Givan malah masuk ke dalam kamar mandi, dengan menggerutu tak jelas.
Memangnya aku salah lagi?
Aku memilih untuk mengenakan dress midi berwarna ungu muda, yang aku kenakan setelah resepsi pernikahan. Hanya baju itu yang paling jarang aku pakai. Karena baju baru pun, sudah sering aku kenakan, jika aku ingin memakainya meski tak berpergian.
Beberapa saat kemudian, Chandra sudah berada di depan mas Givan. Dengan Ceysa, yang menyelip di antara aku dan mas Givan. Kita berpergian kali ini, dengan menggunakan motor. Sesuai keinginanku pada mas Givan. Aku ingin merasakan terpaan angin di atas motor.
"Chandra sekolah sama siapa ya?" mas Givan seperti ragu-ragu untuk menarik gas motornya.
"Memang belum masuk kah, Yah?" dari tempatku, aku mampu mendengar suara Chandra lamat-lamat.
"Belum, masih satu jam lagi. Ke Hadi aja kah? Dianter sama panda ya?"
Tak lama kemudian, mas Givan memarkir motornya di dekat tangga rumah Giska. Aku turun, kemudian segera menggendong Ceysa.
"Ada apa ya? Kok bantal pada keluar begini?" mas Givan menggendong Chandra, kemudian menaiki tangga menuju teras.
"Ehh, mana abang kau?" mas Givan berpapasan dengan Ardi.
Sudah malas aku menyebutnya bang. Bang gatal amatiran ternyata dia. Kalau sudah pro seperti mas Givan, perempuannya tidak akan hamil.
"Giska dirujuk ke puskesmas. Kakinya bengkak tuh, jadi tak bisa lahiran di bidan. Bang Adi di sana dari subuh."
Sungguh aku bingung jika menilik kembali kehamilan Giska. Ah sudahlah, author pun sudah lupa berapa jumlah bulan kehamilan Giska.
"Duh, tak ada yang ngabarin ke sana sih?" mas Givan terlihat panik.
Ia adalah kakak yang menyayangi adik-adiknya.
"Belum komplit bukaannya. Nanti aja kalau udah komplit, katanya nelpon ke sana sendiri."
Saat Ardi mengatakan di sana, aku teringat akan udang yang mamah Dinda amanatkan.
"Mas...." aku memegangi ujung bajunya.
__ADS_1
"Apa?" ia menundukkan kepalanya untuk melihatku.
Apalagi, kalau bukan karena aku pendek.
"Aku lupa cuci udang, tadi disuruh mamah." aku berbicara dengan nada pelan, agar Ardi tidak mendengar.
Mas Givan memandangku. Aku berfirasat, sepertinya ia akan menggagalkan rencana kami makan di luar.
"Hallo.... Adek Enceysa." si tengil Zuhdi kecil muncul dengan tas karakter jerapah.
"Ayah ikut pulang." ia mendekati mas Givan.
Aku hanya bisa membuang nafas perlahan. Aku sudah tertunduk lesu dan juga lemas, karena belum sarapan.
Tiba-tiba, pergelangan tanganku digenggam mas Givan.
"Nanti siang aja ya? Setelah mamah bangun tidur, kita keluar. Sekarang, aku anter ke tukang bubur ayam ya?" ucapannya terdengar lirih dan lembut.
Mau bagaimana lagi?
"Ya, Mas. Siang nanti jadi ya, Mas? Jangan kek mie bakso ceker waktu itu. Sampai sekarang, Mas lupa belikan." aku menampakkan wajah kecewa padanya.
Ia terkekeh geli, "Ya nanti berangkatnya mampir ke rumah makan Sunda, terus belanja baju baru, baliknya mampir ke mie ayam bakso ceker."
"Ekhmmmmm.... Ekhmmmmm...."
Siapa itu yang berdekhem?
"Hadi mau ikut Ayah? Katanya di sini aja sama mak cek?" Ardi itu mengganggu saja.
Tapi, aku baru teringat bahwa masih ada dia di sini.
"Ikut Ayah, Pak cek." Hadi lebih rapat ke mas Givan.
"Ya udah yuk?" mas Givan menggandeng Hadi, lalu berjalan ke arah motornya.
Aku pun menghampiri suamiku, dengan masih menggendong Ceysa.
Sempitnya motor ini, dengan muatan yang berlebih. Begini kali ya rasan mudik dengan menggunakan motor? Aku jadi ingin merasakan mudik. Tapi mudik ke mana? Ibuku pun, berada di rumah sebelah mertuaku. Hanya disekat dengan jalan seukuran mobil pick up saja, jarak antara ruko dan rumah mamah Dinda.
"Canda.... Sarapan dulu gih. Makan di situ tuh, makan bubur ayam."
Namun, rasa cengengku kembali.
Aku teringat seseorang, yang setiap pagi mengajak Chandra untuk membeli bubur ayam di depan posyandu. Rindu terberat ya seperti ini, rindu dengan sosok yang tidak pernah bisa dilihat kembali.
Laki-laki terbaik. Laki-laki yang memutuskan rumah tanggaku dulu dengan mas Givan, ia kembali mengembalikanku pada mas Givan.
__ADS_1
...****************...
Sedikit dialog, tapi bikin mata gue berkaca-kaca ðŸ˜