
"Aku tak bisa diginikan." aku menggeser posisi dudukku.
"Kenapa sih?" ia melirikku dengan memasang senyum menggoda.
Aku menoyor pipinya pelan, "Sana pulang lah!"
Aku meremang sendiri. Gara-gara tingkah bujang ini.
"Jadi, punya Abang besar tak?" ia menunjuk tengah-tengah tubuhnya yang masih terlapisi hoddie.
"Besar! Udah sana pulang!" aku mengusap wajahku kacau.
"Coba dulu lah. Kalau Abang salah, tolong ajarkan yang betulnya." ia menarik pergelangan tanganku lagi.
Aku memukul punggung tangannya yang tengah menarik pergelangan tanganku, "Macem-macem aja ini tuh!" ketusku dengan mendelik sebal.
"Ck..." ia mengacak-acak rambutnya.
Ia melirikku penuh harap, "Ayolah, Dek." ia tengah membujuk rupanya.
"Nikah aja dulu lah. Aku pasti ayoin." aku takut imanku lemah di sini.
"Siap, nanti siang Abang bilang ke abu sama ma. Terus Abang cerita ke bang Adi, biar dia bisa nembusin langsung ke mertuanya." pandainya ia menggunakan orang-orang terdekatnya.
"KUA aja kan katanya? Bikin syukuran kecil-kecilan di rumah. Cukup lah ya dua puluh jutaan sih?" ia menarik turunkan alisnya.
"Iya, iya. Cukup, Bang! Sana lah balik!" aku sudah lelah mengusirnya.
"Cium lagi, nanti balik."
Ya ampun, masih nego saja.
Aku langsung menarik lehernya. Kemudian aku mendaratkan kecupan cepat di pipinya.
Secepat kilat, agar ia pun tak mengingat rasanya.
Bang Ardi tersenyum lebar, ia mencolek daguku.
"Makasih, Adinda long. Abang balik dulu. Nanti siang Abang kabarin, masa udah bilang ke ma abu." ia bangkit, lalu memakai hoddie-nya.
Bang Ardi terkesan seperti kebelet kawin.
"Ya, ati-ati. Tengok-tengok dulu keluar dari pintunya. Langsung tutup aja, biar nanti aku mau turun, sekalian cuci piring."
Aku sebenarnya tengah menahan rasa geli di bawah pusarku.
Apa ini normal untuk perempuan dewasa?
Apa seperti ini rasanya merindukan sentuhan laki-laki?
"Bye-bye." ia melangkah pergi.
"Hmmmm." aku memilih untuk menilik kedua anakku.
Chandra masih anteng dengan mainannya. Dengan Ceysa, yang tengah menyusun kain selimut di atas ranjang abangnya. Bukan hanya satu kain yang ia tumpuk, tapi sampai ada beberapa kain. Kain jarik pun, ikut andil di sana.
"Lagi ngapain?" aku membuka suaraku.
"Mainan, Biyung. Abu minta buat rumah tinggi."
__ADS_1
Sialan memang si abu ini. Dia memberi anakku proyek pekerjaan, agar ia tidak diganggu mengacak-acakku.
"Wah, abu udah pulang Bang. Abu ditelpon panda."
Terlihat wajah kecewa Chandra, "Nanti telpon, suruh main lagi." ujarnya kemudian.
"Okeh, Bang." aku meninggalkan mereka kembali.
Mereka tengah anteng dengan dunianya.
Aku mematikan televisi. Kemudian membawa piring kotor bekas sarapan tadi. Tidak lupa aku menutup tralis besi, yang mirip penjara ini.
Aku menyempatkan untuk melihat pintu belakang, tempat bang Ardi keluar masuk tadi. Pintu sudah tertutup, tetapi belum terkunci.
Aku segera menguncinya, kemudian memilih untuk mencuci piring. Bodohnya aku ini, aku malah senyum-senyum sendiri kala teringat kelakuan kami tadi.
Tidak ingin buru-buru menikah, tapi kejadiannya seperti ini. Ya, mau bagaimana?
Salah satu alasan aku ingin cepat-cepat dinikahi bang Daeng dulu, adalah aku takut kebablasan berzina. Awalnya, aku berpikir untuk menghindari hal itu. Namun, malah berakhir perceraian lagi.
Jika aku menikah, dengan alasan yang sama. Apa mungkin perceraian itu datang kembali?
Aku takut bercerai lagi.
Aku takut menjanda lagi.
Aku takut memiliki anak lain ayah lagi.
Aduh, ketakutanku bermunculan.
Bertukar pikiran dengan ibu, bukanlah jalan terbaik. Ibu terlalu kolot, menurutku.
Ingin mengadu pada Zuhdi, tentang kelakuan adiknya. Ia pasti bercerita pada Giska, lalu temus ke mamah Dinda dan papah Adi.
Ah, iya.
Mas Givan.
Mungkin ia punya saran lagi.
Aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Lalu aku menyapu-nyapu sebentar.
Setelahnya, aku kembali menengok anak-anak. Ceysa guling-guling di atas tempat tidur kakaknya. Chandra yang sudah pindah di dekat Zio yang masih tertidur. Chandra tengah memainkan, mainan mobil-mobilan milik Zio.
"Abang mau kue tak?" aku membenahi bantal-bantal yang diberantakan kembali.
Entah siapa yang membuat suasana di sini seperti kapal pecah.
"Dak mau, masih kenyang." Chandra malah merebahkan tubuhnya di sebelah Zio.
Aku mengangguk, lalu meraih ponselku yang tergeletak di dekat rak penyimpanan ini.
Minggu pagi, pukul tujuh pagi. Bangun belum ya mas Givan?
Aku coba mengiriminya pesan chat saja dulu lah. Aku takut mengganggu waktu istirahatnya.
Mas, lagi apa?
Aku langsung mengirimkan pesan tersebut.
__ADS_1
Tidak ada balasan, cukup lama belum terbaca. Aku memilih untuk meladeni anak-anak terlebih dahulu.
"Ceysa... Sini, Dek." aku melambaikan tangannya pada anak yang guling-guling di atas tempat tidur tersebut.
"Kin cucu, Yung." Ceysa duduk di atas tempat tidur.
"Nen aja yuk?" Ceysa jarang sekali minta ASI.
Mungkin jika tengah ingin tidur saja. Saat ingin tidur malam, ia baru meminta pabrik ASI-nya. Jika ia ingin tidur siang, ia ingin mendapat ASI-nya. Jika tengah sakit pun, ia selalu nempel dengan ASI.
Ceysa menggunakan susu formula, karena memang ia tidak begitu menyukai ASI. Mamah Dinda khawatir Ceysa tidak mendapat gizi yang cukup, sehingga menyarankanku untuk menggunakan susu formula juga.
"Au." ia bangkit, lalu perlahan turun dari ranjang pendek karakter mobil Lamborghini itu.
"Au nen." ia menarik-narik tanganku.
"Iya sini." aku membawanya untuk berkumpul di ruangan yang bersama Zio dan Chandra.
Aku langsung duduk bersandar, kemudian Ceysa langsung duduk menghadap padaku.
Satu, dua tiga. Ceysa langsung anteng menikmati asupan dari yang kuasa ini.
Ibu sudah menyuruhku untuk menyapi Ceysa. Tapi, aku masih ingin menyusuinya. Aku dulu tidak puas menyusui Chandra.
Drttttt...
Ada balasan masuk dari mas Givan.
Lagi makan, Canda.
Satu foto tengah didownload.
Sesaat kemudian, muncul lah gambar nasi beserta lauk pauknya.
Lah, sayuran mentah semua. Tak ada yang masak ya?
Aku sengaja meledeknya. Memang di foto tersebut, terdiri dari sayuran yang masih mentah. Seperti timun, selada, sawi hijau, dilengkapi dengan sambel saja. Plus nasi putih, sesuai porsi makan mas Givan.
Masakin lah. Tak apa ditumis, bumbu garam aja juga. Aku pasti makan.
Ini adalah kalimat yang dulu sering diucapkannya. Bukan hanya omong kosong, atau penyemangatku semata.
Tapi, ia benar-benar memakan hasil masakanku. Bagaimana pun bentuk, rupa dan rasanya.
Kapan pulang? Nanti aku masakin.
Aku tidak keberatan, jika hanya sekedar memasakkan tumis kangkung saja. Mas Givan pun, pasti lahap makan. Apa lagi, jika aku menambahkan saos tiram juga.
Bentar ya, aku makan dulu. Nanti video call, Ayah kangen anak-anak.
Uhh, sebutan ayah pasti keluar. Jika sudah mengenai anak-anak. Mau tidak mau, aku bahkan sudah terbiasa memanggil mas Givan dengan sebutan itu. Jika tengah berdialog dengan anak-anak.
"Nanti ayah telpon. Nanti kita video call sama ayah. Ayah lagi makan dulu, kita tungguin ya?"
Tanganku terulur, untuk mengusap kepala Chandra.
...****************...
Yey, yey, yey... Mau ngobrol sama Yayah. Mau video call sama Yayah.
__ADS_1