Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD224. Bertemu kembar


__ADS_3

"Istri orang sini, Van. Kau sama Vano tinggal di sini?"


Perempuan tersebut bahkan mencium tangan bang Daeng.


Perempuan tersebut langsung melihatku. Ia langsung memelukku dan bercipika-cipiki denganku.


"Aku Vani, Kak. Kawan kecil Daeng." terangnya, mungkin agar aku tidak salah paham.


"Ini kakaknya Jeni. Vano Vani, si kembar yang pernah Abang ceritain itu." tambah bang Daeng.


"Ohh, kenal Jeni juga?" tanya Vani dengan wajah sumringah.


"Kenal. Dia kawan satu kosnya Enis." jawab bang Daeng.


"Daeng Vano ada di belakang, dia masih di kasir." Vani menunjuk antrian di meja kasir yang cukup panjang.


"Dari mana kalian?"


"Wisata aja, Daeng. Udah mampir ke Jeni, ngajakin Jeni. Tapi Jeni gak mau dia." tukas Vani dengan membenahi hijabnya.


"Hai, Ganteng. Kok ganteng kali sih, Nak?"


"Ngaaaaaa........." tangis Chandra pecah, saat disapa oleh orang asing itu.


Sejak tadi, alisnya sudah menyatu saja. Ia terheran-heran, dengan seseorang yang mengajak manggenya berbicara itu.


Tangannya terulur, menunjuk jejeran rak.


"Kenapa, Bang? Itu Abang dipuji. Kok nangis?" bang Daeng mengusap-usap punggung Chandra, mencoba menenangkan Chandra.


Chandra memeluk bang Daeng. Kepalanya berada di bahu bang Daeng, ia melihat ke arah belakang.


"Agak takut dia sama orang baru." terangku, agar Vani tidak tersinggung.


Saat kecil, Chandra begitu dominan mirip aku. Tapi entah mengapa, saat lama di rumah megah itu. Chandra sekarang mirip dengan mas Givan. Selera mainan pun, seperti mas Givan kecil. Sekarang pun, Chandra tengah menggenggam sebuah balok susun berwarna hijau.


"Bang... Tante loh ini. Say hai dulu dong, cium tangannya." ujarku dengan mengusap kepala Chandra.


Chandra langsung menoleh ke depan kembali. Ia memperhatikan wajah Vani yang tersenyum ramah padanya.


"Te?" Chandra masih memperhatikan Vani dengan alisnya yang menyatu itu.


"Iya, Tante. Bilang, hai Tante." ujar bang Daeng.


"Te..." suara kecil Chandra terdengar.


"Hai... Anak manis, anak ganteng. Namanya siapa?" sapa Vani kembali.


"Bang." ia mengangguk-angguk, lalu menepuk dadanya sendiri.


"Namanya Chandra." jelas bang Daeng.


Namun, plakkkk....

__ADS_1


Chandra memukul mulut bang Daeng, "Bang. Nda." wajahnya terlihat begitu lucu.


"Iya, iya. Abang, bukan Chandra." ujar bang Daeng dengan terkekeh geli.


"Ayo, Ni."


Kami semua memperhatikan laki-laki yang datang, dengan segunung tentengan itu.


"Hai, Daeng. Ada di sini?" ia berjalan ke arah kami.


"Iya, istri orang sini." bang Daeng dan laki-laki tersebut berjabat tangan.


"Ini Vano nih, Dek. Kembarannya Vani." jelas bang Daeng dengan menoleh ke arahku.


Aku tersenyum manis pada Vano tersebut, dengan menangkupkan kedua telapak tanganku di depan dada.


"Hai, Kak." sapa Vano kemudian.


"Ehh, Putri kalap tuh. Dua kali aku ketemu dia, masih nyariin kau aja."


Moodku langsung buruk.


"He'em, biarin aja. Gak usah kasih tau ya? Kasian, istri udah enam bulan. Mertua galak di rumah, gak dikasih izin aku buat kerja jauh lagi." bang Daeng mengusap-usap perutku yang besarnya bagaikan hamil delapan bulan.


Mungkin karena aku pendek, membuat perutku tidak bulat ke atas. Melainkan begitu penuh, seperti terisi bola basket.


Tapi, ngomong-ngomong. Ibuku tak galak, yang galak itu mantan mertuaku. Mamah Dinda yang selalu mengatur bang Daeng, untuk jadi ini dan itu. Bahkan sekarang, bang Daeng sudah berganti nomor telepon kembali. Dengan ponsel jadul, yang bisa digunakan untuk kirim SMS dan telepon saja.


Ponsel android pun ia miliki, hanya saja tidak memiliki SIM card. Ponsel itu hanya bang Daeng mainkan di rumah. Karena hanya berisi aplikasi YouTube. Sosial media terbaru milik bang Daeng pun dihapus kembali. Seolah-olah bang Daeng menghilang tanpa jejak.


"Iya biarin aja udah." ujar bang Daeng.


"Kerja apa sekarang?" tanya Vano, dengan mencolek pipi Chandra.


Satu, dua....


"Nge.........." pecah kembali tangis bayi besar ini.


Baperan, sensitif. Saking sensitifnya, sampai seperti alarm mobil. Tersenggol sedikit, langsung berbunyi mengagetkan.


"Gak apa, Bang. Itu Om Vano." bang Daeng menggoyangkan lengannya.


Chandra menunjuk kembali rak-rak yang berjejeran itu. Ia sepertinya sudah tidak sabar, ingin berbelanja dan memilih barang.


"Serabutan di sana. Sedisuruhnya orang, yang penting halal." ujar bang Daeng dengan tertawa kecil.


"Iyalah, udah beda sekarang."


"Sekarang tinggal di mana sih?"


Tangis Chandra, sepertinya tidak mengganggu obrolan mereka.


"Di Padang, bareng Jeni. Aku kerja di PT bareng Jeni, Vani sih belum dapat kerja. Ini abis nemenin dia foto shoot, dapat projek di Lot Tawar kemarin."

__ADS_1


Ohh, ternyata mereka bukan benar-benar tengah berwisata.


"Masih nekuni model uang rokok, Van? Mending ikut kerja sama Jeni, lumayan dua juta setengah tiap bulan." bang Daeng masih mencoba menenangkan Chandra.


"Ya gitu deh. Kerja berat, Daeng. Aku udah pengen dinafkahi aja sebenarnya." tawa kami langsung berbaur, mendengar penuturan Vani.


"Kheee... Jajaj!" Chandra sampai menangis sembari berteriak.


"Okeh, okeh. Yuk, cari jajaj." bang Daeng menghapus air mata Chandra.


"Duluan ya? Bocah udah rewel aja." pamit bang Daeng pada teman masa kecilnya itu.


"Okeh, Daeng. Kita pun mau langsung tancap gas ke Padang."


Mereka berjabat tangan kembali.


Lalu, kami segera menuju ke arah yang Chandra tunjuk. Ternyata, ia sedari tadi mengincar balon-balon yang tertancap di setiap sudut rak.


"Abang mau balon?" bang Daeng celingukan.


Kami merasa tidak enak, jika mengacaukan susunan balon ini hanya untuk memuaskan hati Chandra.


"Ya, au." tangan Chandra masih berusaha menggapai balon-balon tersebut.


"Abang minta balon dulu ya? Di SPG itu. Adek ambil troli gih. Yang besar aja, biar Chandra bisa duduk." bang Daeng menunjuk ke arah SPG, yang berada di dekat kasir.


Aku mengangguk, "Jangan lama-lama, Bang."


"Ya." ia langsung berlalu pergi.


Aku langsung menuju ke tumpukan troli, lalu menariknya satu. Setelah itu, aku langsung memperhatikan jejeran rak berisikan detergen dan pewangi pakaian.


Namun, aku teringat sesuatu.


"Mamah udah nyetok detergen laundry seribu butir. Nyuci baju pakai itu aja sebutir, langsung masukin aja, tak usah dibuka lagi plastiknya. Plastiknya lembek sendiri, kalau kena air. Tak usah pakai pewangi, itu pun udah plus pewangi."


Aku menurunkan tanganku, lalu mendorong troli ini ke jajaran rak yang lain. Aku teringat tentang pesan mamah Dinda itu. Ia sudah menyetok banyak detergen ajaib di rumah.


"Iyung......." Chandra muncul dengan memegang batang yang di ujungnya terdapat balon berlogo supermarket ini.


"Duduk sini, Bang." aku menepuk troli.


Bang Daeng langsung menundukkan Chandra, dengan menghadap padaku.


"Iyung...." ia memamerkan giginya.


Dasar anak-anak. Mereka terlihat selalu lucu.


"Mari kita berburu." bang Daeng mengambil alih troli yang aku pegang.


"Abang dorong, Adek milih barang." pintanya kembali.


Aku mengangguk, lalu berjalan lebih dulu.

__ADS_1


...****************...


🤤 ngiler, pengen belanja 😣


__ADS_2