Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD414. Dilepaskan kepalanya dipegang ekornya


__ADS_3

"Kak Kal yang pandai, ajak adik-adiknya ke kamar dulu gih. Mainan ya? Tapi jangan lari-larian, Adek Ceysa masih sering jatuh." ucap Ghifar, dengan memberi kecupan kecil di pipi anaknya.


Coba mas Givan. Contohnya seperti ini, hey Key diajak main ini loh. Atau bisa juga, gih main sama kakak kau.


"Ya, Papa. Bantu aku cuci tangan dulu." Kal turun dari kursi makan.


"Ayo, ayo." Ghifar mundur satu langkah, kemudian membantu anak-anak turun dari kursinya.


"Ayo, semuanya cuci tangan dulu." Ghifar menggiring ketiga anak itu.


Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di ruang tamu. Dengan mas Givan yang memakai kaos milik Ghifar. Karena mas Givan merasa malu, bertel*njang dada di depan ibu Bilqis. Matanya cukup lancang, ia berani menatap dada suamiku dengan intens.


Semoga masalah ini terselesaikan. Karena bulan depan, jadwal sesarku sudah direncanakan. Aku harus dioperasi, sebelum aku mendapat kontraksi. Agar tidak menimbulkan komplikasi lain, karena otot panggulku mendorong bayi agar keluar. Sedangkan si bayi jumbo, jalan lahirnya tertutup dan bahunya juga tidak masuk ke leher rahim.


"Sehat, Mah?" Ghifar duduk di sebelah ibunya.


Mamah Dinda hanya mengangguk saja, tanpa menjawab pertanyaan Ghifar.


"Makan dulu, Yang?" Kinasya mengusap-usap lengan suaminya.


Ghifar mengangguk, "Nanti, Yang. Lepas ini ya?"


Kinasya mengangguk, kemudian menyunggingkan senyum untuk suaminya.


Sudah mulai terlihat. Di dalam rumah pun, Kinasya menggandeng lengan suaminya seperti hendak menyebrang.


Jika aku, aku mengganduli. Tapi itu pun kena sewot mas Givan. Canda risih, Canda. Canda, ngap tau. Masih banyak lagi alasannya.


"Buat apa sih mesti begini, Far?" mamah Dinda terlihat gelisah pada sofanya.


"Mamah kalau selesaikan masalah kan musyawarah begini. Mamah yang ajarkan aku, kenapa Mamah malah nanyanya begitu?" Ghifar tersenyum menenangkan pada ibunya.


"Mamah udah ada ngomong ke Papah kau, tinggal bagaimana dianya aja." mamah Dinda menyandarkan punggungnya pada sofa, dengan memeluk sebuah bantal sofa.


"Ayo kita balik, Dek." papah Adi seperti tidak sungguh-sungguh membujuk mamah Dinda.


"Ok, terus Tante gimana maunya?" tanya mas Givan kemudian.


Aku mengganduli lengannya kembali, nyamannya lengan ayahnya Chandra yang galak ini. Sholatku terjaga, ketika ia ada di sampingku. Karena ia selalu mengajakku berjamaah, jika aku tengah benar-benar malas sholat.

__ADS_1


"Bang, aku mau kita sama-sama. Kan aku sering ngomongin ini." ibu Bilqis menoleh ke arah papah Adi yang duduk sendiri di sofa single.


"Terus jawaban aku apa?" papah Adi malah balik bertanya pada ibu Bilqis.


"Abang mau balik sama istri." ibu Bilqis menunduk.


"Terus Abang maunya gimana?" mamah Dinda memutar pertanyaan kembali pada suaminya.


Huft, aku yang bosan di sini.


Namun, tangan kokoh suamiku mengusap-usap perutku.


Papah Adi malah terdiam menunduk. Aku tidak mengerti isi pikirannya. Ia seperti enggan melepas mamah Dinda, tetapi tidak ingin meninggalkan ibu Bilqis juga.


"Udah, Papah ikut Tante itu aja. Tante mampu kali ya kasih makan satu kakek-kakek sih?" kenapa mulut mas Givan tidak sopan.


Kan aku jadi malu sendiri karena bersuamikan dirinya.


"Kenapa begitu? Bang Adi pernah bilang dia ada usaha ini itu, saham di pabrik kopi pun ada katanya."


Aku merekam jelas mamah Dinda yang tertawa geli.


"Memang ada. Di tambang juga megang saham, di Riyana Studio juga dapat bagian. Tapi kau tak pernah nanya, itu atas kuasa siapa." ujar papah Adi, membuat Ghifar dan Kinasya terkekeh kecil.


Sedangkan mas Givan, ia seperti hendak meletuskan perutku. Ia terlihat begitu gemas, dengan gigi yang ia tunjukkan semua padaku.


Aku jadi geli sendiri melihat ekspresinya. Aku meraup wajahnya, kemudian langsung menarik pipinya. Aku jadi ingin mengigit hidungnya.


"Ish, Cendol!" mas Givan menjauhkan wajahnya.


Mamah Dinda semakin terkekeh, dengan menutupi wajahnya sendiri begitu rapat.


"Bang, ganti istri coba." celetuk Ghifar, yang langsung kuhadiahkan pelototan tajam.


"Ini udah yang kesekian padahal. Mungkin udah nasib keknya." sahut mas Givan, yang langsung aku cubit perutnya.


Mas Givan tertawa renyah, kemudian malah menyembunyikanku di ketiaknya. Aku memberontak, kemudian mencubit pahanya.


Kesal sekali aku pada ayahnya Chandra. Tidak sedang diservis, atau sedang diservis. Suka sekali menekan-nekan kepalaku.

__ADS_1


Masalahnya bukan bau ketiak. Tapi aku malu, karena suamiku yang isengnya kadang di luar batas ini. Aku seperti mainannya.


"Maksudnya gimana ini?! Kok pada asik sendiri?!" ibu Bilqis mengerutkan keningnya.


Ternyata belum selesai ya?


"Makanya, tadi aku bilang silahkan diurus Pak tua ini. Aku sih tak masalah, malah enak nanti tak direpotkan." mamah Dinda melirik suaminya.


"Kok ngomong gitu sih, Dek? Dari tadi ngomongnya tak enak terus." papah Adi kan orangnya mudah tersinggung. Jadi sekali mamah Dinda berbicara, beliau langsung merasa.


"Terus mau ngomong apa?! Lagian udah tua, tingkahnya di luar nalar. Dulu sih selalu bilang, kalau Abang mati, Adek nikah lagi aja. Jangan sampai aku buktikan, Abang belum mati, aku udah nikah lagi."


Stop!


Stop!


"Mah.... Udahlah. Capek, Mah. Jangan saling menyakiti kek gini. Kalau memang pengen cerai, cepat lah diproses. Jangan saling melempar begini, seolah tak mau direpotkan. Padahal, aslinya sulit melepaskan. Dulu aku pengen cerai, tak ada tuh ribut melulu siapa yang harus proses. Tak begitu, Mah. Tak begitu, Pah." aku menoleh ke papah Adi dan mamah Dinda secara bergantian.


"Aku dari hamil empat bulan, sampai sekarang masih mengusahakan kalian bersama terus. Sekarang sih, udah lah terserah aja. Biar aja Mas Givan yang mandikan anak bayinya sendiri nanti. Biar sama mangge Yusuf aja, anak aku yang ini ngerasain petulangan di dalam ladang." mungkin alasanku terdengar konyol. Tapi sederhana itu aku ingin mereka tetap bersama, mengemban peran di hari tua bersama.


"Mamah ngajarin aku harus tega dan tegas, tapi Mamahnya aja begitu. Dilepaskan kepalanya, dipegang ekornya. Mempersilahkan suaminya untuk menceraikannya, tapi mempersulit keadaan dengan tidak mau menceraikan suaminya lebih dulu. Kisah ini tak akan selesai, kalau kalian tetep kek gitu." aku membuang nafasku perlahan.


"Kau benar, Canda." timpal mas Givan.


Ya, menurutku memang benar.


Aku seolah berjuang sendiri. Seolah aku yang memperjuangkan rumah tangga mereka, tapi tidak dengan mereka. Mamah Dinda dengan egonya dan kesombongannya, papah Adi dengan egonya dan ketamakannya.


"Jadi, lanjut atau tak dengan Tante itu. Papah tetap mau cerai kah?" tanya mas Givan, dengan memperhatikan wajah panutan yang sudah begitu kurus itu.


Papah Adi tidak menjawab. Ia malah tertunduk dengan memperhatikan telapak tangannya.


"Terus, Mamah juga sama kah?" mas Givan beralih menatap mamah Dinda.


Helaan nafas mas Givan terdengar jelas. Kami terdiam beberapa saat, sampai akhirnya mas Givan mengeluarkan suaranya lagi.


"Ya udah, biar aku yang putuskan. Mamah....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2