Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD84. Proyek


__ADS_3

"Licik! Pandai! Cerdik!" suaranya terdengar seperti menggerutu.


"Adek udah tanda tangan kontrak lanjutan kan?" tanyanya dengan raut wajah yang tidak bisa aku artikan.


Aku mengangguk, "Tambah kontrak enam bulan lagi. Katanya kalau full satu tahun, bisa jadi kartap." seperti itu yang pihak HRD katakan padaku.


Aku sempat kembali ke tempat interview, saat tepat satu bulan lagi masa kontrakku akan habis. Di bulan kelima aku bekerja, aku sudah diminta untuk tanda tangan kontrak kembali.


"Gak perlu kartap-kartapan. Adek nanti jadi istri Abang aja di rumah." pembicaraannya kembali mengaitkan status kami.


"Bang...." aku membuang nafasku gusar, lalu aku mengambil posisi bersandar pada kepala ranjang.


"Apa, Sayang?" lembutnya suara itu.


"Kita gak usah pacar-pacaran. Kalau memang Abang udah siap nikahin. Tinggal Abang bilang aja. Sekarang kek biasa aja, kita kek gini aja."


Jujur, aku tidak ingin mengulur hubungan dengan berpacaran. Itu sudah bukan masaku lagi.


"Abang laki-laki. Abang gak bisa kek gitu, Abang gak tenang. Belum juga lama lepas iddah, udah chat sama yang lain aja." ia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat denganku.


"Kalau niat. Kita nikah, tinggalin Putri." putusku cepat.

__ADS_1


Aku tak ingin berlarut-larut dengan milik orang lain.


Namun, bang Daeng malah bungkam. Ia memilih menggulingkan tubuhnya, untuk memunggungi posisiku.


Jika aku diduakan mas Givan, lalu aku memilih untuk pergi. Untuk apa aku bertahan dan memilih opsi ini, jika bang Daeng tak mampu meninggalkan Putri?


Sekalipun aku cinta padanya, aku tak ingin lebih bodoh dari Canda yang kemarin. Aku tak ingin berebut laki-laki seperti ini. Laki-laki yang terjebak dengan para wanita.


~


Betapa lapangannya hatiku. Saat laki-laki yang kemarin mengungkapkan perasaannya, malah sekarang ia tengah dicumbui di depan mataku.


"Kamu kenapa, Yang? Kok lesu terus?" tanya Putri, yang sekarang berada di atas pangkuan bang Daeng.


"Gak tau." bang Daeng terlihat frustasi.


Putri tidak tahu saja, bagaimana energiknya bang Daeng saat tengah mengo*alku saat itu.


"Lagi bosan lagi?" bibir Putri mendarat kembali di pipi bang Daeng.


"Gak juga! Lagi capek aja, Put. Turunlah! Paha aku linu."

__ADS_1


Kak Raya tertawa tertahan, saat bang Daeng mengatakan hal itu.


"Aku udah cerita sama ayah. Ayah tunda dulu pengirimannya katanya. Ayah kurang cocok, kalau kamu duda ternyata." ucapan itu ke luar dari mulut Putri. Tetapi kak Raya mencolekku, dari isyaratnya ia seperti bertanya tentang itu.


Aku mengedikan bahuku. Aku merasa tidak punya wewenang untuk mengatakan tentang rahasia bang Daeng.


"Apartemen aku butuh perbaikan, Put. Kalau memang gak mau kasih proyek lagi. Ya kita udahan aja. Pertahanin hubungan sama aku cuma buang-buang waktu kau aja. Aku gak mungkin ada perubahan, kalau proyek aja jarang dilempar ke aku. Aku gak mungkin punya dana buat nikahin kau, buat hidupi kau kelak." urat wajah bang Daeng terlihat masam.


Begitu jelas percakapan mereka. Karena kami berempat, berada di lingkaran sofa kamar. Di kamar terdapat satu sofa panjang dan satu sofa single. Bang Daeng berada di sofa single sembari memangku Putri, sedangkan aku berada di sofa panjang bersama kak Raya.


"Bulan lalu, aku minta kau urus dana asuransi apartemen aku. Kau bilang gak bisa, kau malah nuntut syarat ini itu. Sekarang, malah aku gak dikasih proyek. Gimana sih kau, Put?! Kau gak bisa sedikitpun bantu aku, lobi ayah kau gitu. Gimana aku bisa maju coba?" bang Daeng menahan rahang Putri, agar bisa berhadapan dengannya.


Aku merasa dipermainkan. Entahlah, apa yang dia pikirkan sekarang? Kemarin, bukan kata suka yang keluar dari mulutnya. Tapi sudah membawa cinta dan rumah tangga.


"Kamu tuh keknya sama aku buat urus materi kamu aja ya, Len?! Chat aku, jarang kamu balas. Telpon apa lagi, gak pernah diangkat. Kalau ketemu, bahas masalah begini terus. Kerjaan, proyek, nuntut ini itu. Rasanya percuma kamu kasih aku satu atau dua jutaan buat belanja aku. Tapi aku harus dapatkan uang lebih untuk kamu. Timbal balik yang gak sebanding!"


Putri turun dari pangkuan bang Daeng. Mereka saling memandang, dengan aku dan kak Raya yang selalu mengamati tontonan yang tersaji ini.


Sepertinya perang akan dimulai. Karena Putri menyadari, bahwa bang Daeng hanya butuh uang darinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2