
Kinasya tengah dipeluk erat oleh Ghifar. Tangisnya begitu lepas, dengan penampilan yang begitu acak-acakan.
"Tak beres ini otaknya keknya." mamah Dinda bolak-balik tidak jelas, dengan raut yang khawatir.
"Mamah ngomong apa sih!" Ghifar tidak suka dengan ucapan ibunya.
"Ya, lagian. Masa mau terjun di sini sih, Far? Kan rumah kau tingkat dua juga." aku pun merasa heran dengan pilihan Kinasya tadi.
Semua mata mendelik tajam padaku. Sepertinya, aku salah berkata barusan.
"Dengan rumah Ghifar tingkat dua, apa harus Kinasya milih terjun juga?!" mas Givan memberi pertanyaan yang membingungkanku.
"Hayo, Canda anak baik." papah Adi bertepuk tangan pelan, layaknya tengah meladeni bocah.
"Gih main sama yang lain aja. Otak kau tak nyampe." lanjut papah Adi, merubah ekspresi wajahnya menjadi kaku dan kesal.
Mas Givan menutup mulutnya dengan kerah bajunya. Mamah Dinda pun, menahan tawanya dengan mendongak melihat langit-langit rumah ini.
Aku meringis kuda pada papah Adi, "Ya udah, aku sama anak-anak dulu ya Pah?" aku memilih untuk pergi.
Aku tidak mengerti permasalahan rumah tangga Ghifar itu, sampai-sampai Kin hendak loncat dari balkon lantai atas. Ya pikir aku sih, Kin lebih baik loncat di rumahnya saja. Kan dia punya rumah sendiri. Kenapa ia memilih untuk loncat dari rumah mamah Dinda? Apa ia ingin menghantui mertuanya?
Eh, eh. Apa?
Ya ampun, aku baru paham bahwa tadi Kin mencoba bunuh diri. Pantas saja, tadi suasana tidak kondusif saat aku berkata tadi.
Tapi kenapa mamah Dinda mengatakan, bahwa otak Kin tak beres?
Tapi iya juga sih, aku nikah cerai terus saja, tidak sampai ingin bunuh diri. Malahan, aku ingin diadopsi oleh orang kaya saja. Semacam teungku haji Adi ini. Daripada bunuh diri, nanti aku berdosa besar di akhirat nanti.
"Main yuk?" aku menggiring Kal dan Kaf yang duduk bingung di bangku panjang bawah pohon mangga.
"Dek Esa mana?" tanya Kaf, anak yang seusia dengan Zio dan Hadi ini.
"Di toko. Bang Chandra di rumah Aksa. Ayo, mau ke mana?" aku tersenyum lebar pada kedua anak tersebut.
"Sama Yasmin aja yuk?" Kal turun dari bangku panjang tersebut.
Aku memutar mataku malas, "Jasmine dong! Masa ia Yasmin, mak bapaknya sewot nanti." aku membawa Kaf turun dari bangku panjang.
Kal tertawa tanpa dosa, "Enak Yasmin."
Sudahlah, terserah bocil-bocil saja.
~
__ADS_1
Tiga hari terlewati, dengan mamah Dinda yang disibukkan dengan problem rumah tangga Ghifar. Kin pun bolak-balik rumah sakit saja, dengan ditemani dengan mamah Dinda.
Padahal Kin tidak terluka sedikitpun. Entah apa yang ia obati di rumah sakit itu.
Putri pun masih berada di penginapan milik mamah Dinda. Namun, hanya sesekali saja ia terlihat di mataku tengah mengejar mas Givan. Mas Givan pun, susah sekali ditanya perihal masalahnya dengan Putri.
"Tidur lagi!" aku merasakan part belakangku ditepuk oleh mas Givan.
"Ngantuk, Mas." aku menguap lebar.
"Coba kau bayangkan jadi aku, Canda. Aku pulang ke rumah jam 2 malam, menuhin kewajiban sebagai suami, terus tidur, pagi bangun anter anak-anak sekolah. Kau tidur paling malam jam sebelas aja, udah kek yang iya begadang semalaman suntuk." mas Givan baru kembali dari mengantar Chandra dan anak-anak yang lain sekolah.
Karena, Ghifar menitipkan kedua anaknya padaku dan mas Givan. Ia sibuk mengantar mamah Dinda dan istrinya berobat.
"Tapi jam dua aku bangun. Bukain pintu buas Mas, segala Mas minta jatah. Baru merem lagi jam tiga, setengah lima bangun. Yang wajar ya, jam delapan aku udah ngantuk lagi." aku memutar tubuhku.
Rasanya tengkurap tidak nyaman, karena payuda*aku terasa nyeri saat tertekan.
"Van..... Tolong jemput Gavin di sekolahnya. Ibu gurunya nelpon, katanya adik kau sakit." entah di mana asal suara papah Adi.
"Kek.... Kek.... Nih nih." suara Ceysa mendekat, lalu menjauh lagi.
Sepertinya, mereka berada di pintu samping. Ya, tadi Ceysa dan Kaf bermain bersama kakeknya.
Pasti itu Kaf.
"Hei, Canda." mas Givan menggoyangkan tubuhku.
"Hmm?" aku melirik ke arahnya dengan mata yang setengah terbuka.
"Jagain itu anak-anak, barangkali papah mau ke ladang." ujar mas Givan, dengan dirinya bercermin kembali di lemari.
Lalu mas Givan keluar dari kamar kami, "Di sekolahnya kah, Pah? Setengah tujuh berangkat, sekarang udah mau pulang lagi aja."
Pintu kamar terbuka lebar, aku bisa melihat mas Givan berbelok ke arah pintu samping rumah ini.
Entah ada obrolan apa lagi. Sampai terdengar suara rengekan Ceysa.
"Yayah, entut."
Duh, anak itu.
Aku bangun dengan berat hati. Lalu berjalan lunglai menuju sumber suara.
Terlihat Ceysa menarik-narik baju ayah, dengan Kaf yang memperhatikan kakeknya yang tengah membersihkan cangkul tersebut.
__ADS_1
"Ceysa sama Biyung aja yuk?" aku mencoba membujuk anak itu.
Mas Givan melirikku datar. Apa ia marah, karena aku hampir terlelap tadi?
"Main gih. Daripada di rumah ngantuk terus. Sana ajak Kaf ke ibu, main sama Zio. Ceysa biar aku bawa jemput Gavin." pintanya lembut.
"Memang Mas mau ke mana?" aku menatapnya sepenuh hatiku.
Ia menghela nafasnya, "Jemput Gavin, Canda..... Ya Allah, luaskan sabarku." mas Givan berakting seperti menangis.
Papah Adi terkekeh, "Curiga deh Gue. Canda agak-agak bodoh kali, dengan pagi-pagi ngantuk, bikin pikiran ke sana." ujar papah Adi lirih.
Masa iya?
Tapi kan, mas Givan ada sedikit masalah pada benihnya dulu? Rasanya, aku tak mungkin langsung hamil. Waktu Chandra saja, aku kurang lebih tiga tahun kosong.
"Canda ikut KB, Pah." jawab mas Givan dengan mengangkat tubuh Ceysa.
Mas Givan masuk kembali ke dalam rumah. Ia melewatiku begitu saja, "Ambil jaket Adek Ces, terus kita jalan-jalan naik motor."
Cup, cup....
Mas Givan menciumi Ceysa sampai berbunyi.
"Yuk, Kaf. Main ke Zio yuk?" aku mencoba menggandeng tangan anak itu.
Namun, Kaf memperhatikan wajahku beberapa detik. Sebelum ia mau aku gandeng tangannya.
Dasar, Ghifar kecil.
"Mbak, Mbak.... Pengen pasang behel dong." tegur Ria, saat aku baru sampai di teras toko.
Aku menghela nafasku, "Kau kira Mbakmu kerja?! Sana lah minta ke abang ipar kau. Mbak dikasih uang sekian, kalau abis baru minta lagi."
Ya, seperti itulah jatah belanjaku. Misalkan mas Givan memberiku lima ratus ribu, jarak tiga hari habis, baru aku memintanya kembali. Kadang, mas Givan menanyakan apakah aku masih memegang uang. Ya jatuhnya, lebih dari lima puluh ribu.
Entahlah bagaimana perhitungannya. Karena, aku tak selalu mengira-ngiranya seperti saat uang belanjaku lima puluh ribu. Barang habis, tinggal beli. Pengen jajan ini, tinggal beli. Aku tak melulu memikirkan kebutuhan dapur sekarang. Karena alhamdulilahnya, sudah stabil dan tidak seperti dulu lagi.
"Ndhuk.... Sini dulu. Ibu mau ngomong penting." ibu melambaikan tangannya dari dalam toko.
Aku mengangguk.
...****************...
Kok bisa sih Canda oon banget ðŸ˜
__ADS_1