
Kelopaknya yang rusak, membuatnya memiliki daya tarik tersendiri.
Pikiranku langsung traveling tentang wanita yang berstatus janda. Ataupun, wanita yang telah dirusak oleh laki-laki. Maksudku, mereka yang tersakiti oleh laki-laki.
Aku langsung membuka tengah-tengah lembaran buku tersebut. Entah mengapa, satu bait ini seperti tengah menasehatiku.
Jika memang hatimu tak mampu menolaknya. Gunakanlah pikiranmu! Karena, pekerja se*s komersial saja meminta imbalan setelah digunakan jasanya. Hal ini tentu jelas berbeda, jika statusmu adalah seorang istri. Di dalam dokumen, kita tercatat jelas. Di dalam agama, kita dimuliakan. Mengabdilah, jika memang kamu telah dipersunting.
Aku langsung merindukan neneknya Chandra. Aku ingin diberi nasehat dan petuah olehnya. Aku ingin diarahkan olehnya, agar aku tidak terjebak kembali pada laki-laki yang salah.
Aku rindu dengan kakeknya Chandra. Aku tahu kebaikannya tak langsung menembus padaku. Ia akan menyuruh istrinya, untuk melakukan kebaikan untukku.
Aku ingin mengadu pada mereka, tapi aku tak mampu.
"Kalau gak mau dibaca, biar Abang simpan. Ini tiga juta nih, keluaran dua puluh tujuh tahun yang lalu." ia menarik buku di tanganku, lalu ia segera menyimpannya kembali.
Belum juga dijawab.
Memang dia tak ingin meminjamkan padaku rupanya.
__ADS_1
Jika memang buku itu keluar dua puluh tujuh tahun yang lalu. Berarti, novel itu terbit saat mas Givan berusia satu tahun.
"Di novel itu, secuil kisah hidupnya tertulis. Tapi pas wawancara soal itu, mamah Dinda gak mau ngaku. Tapi usut punya usut, dia kan memang pernah janda. Jadi pas tuh timingnya, karena yang orang Aceh ini kan suami barunya. Nikah, tapi anaknya udah ada lima. Pernah dengar juga, katanya papah Adi suami orang. Mamah Dinda rebut papah Adi dari istri pertamanya. Soalnya, papah Adi tuh duda waktu nikah sama mamah Dinda." bang Daeng nyerocos dengan menggerakkan tangannya.
"Katanya sih anaknya papah Adi sama istri pertamanya, ada di salah satu bayi yang foto bareng saat nikahan mereka di Jakarta. Tapi, gak tau anaknya yang mana. Karena, anak papah Adi mukanya sama semua kek papah Adi." lanjutnya dengan menoleh padaku sekilas.
Aku paham, membicarakan idola adalah hal yang paling menarik.
"Namanya Cut Naya. Bukan mamah Dinda yang ambil suami orang, tapi dia yang dimadu." aku merasa tak suka, jika bang Daeng mendapat informasi yang salah seperti ini.
Ia menoleh padaku, sebelah alisnya terangkat.
"Masa? Kok tau?"
Tuh kan? Aku malah keceplosan.
Karena aku tak suka mendengar mamah Dinda mendapat predikat jelek. Secara tidak sadar, aku malah mengatakan yang harusnya tak aku ketahui.
"Ya...." aku meluruskan pandanganku, aku takut jika pandanganku dikunci olehnya.
__ADS_1
"Ya, kan... Kemarin sosial media aku pernah saling follow. Tau lah aku, karena beberapa kali pernah ikut siaran langsungnya." pasti alasanku tidak masuk akal.
"Memang ada yang berani nanya-nanya kek gitu, pas mamah Dinda siaran langsung? Paling yang ada, mereka cuma minta disapa aja."
Sudah kuduga, ia tidak percaya dengan alasanku.
"Iya, ada. Aku pernah tau sendiri." aku hanya bisa menjawab ini.
"Tapi... Rasanya tak mungkin, seorang mamah Dinda mau dimadu. Padahal papah Adi kan, tampang standar Indonesia aja. Malah lebih ganteng mantan suaminya, yang bos tambang itu. Buktinya kan, anaknya sama mantan suaminya lebih ganteng. Ketimbang, anaknya sama papah Adi."
Rasanya suaraku tercekat di leher.
Ingin menjelaskan, aku takut ia mengetahui bahwa aku mantan menantu mamah Dinda.
Memang, sebetulnya tidak masalah untukku. Hanya saja, mamah Dinda adalah publik figur. Pandangan bang Daeng terhadap mamah Dinda pasti menambah informasi buruk, tentang idolanya itu. Karena, putra pertamanya malah bercerai dengan talak dari istrinya. Sudah pasti, harga diri keluarga tersebut turun drastis.
Bisa sampai istri membeli talak. Berarti, bukan main kesalahan sang suami tersebut.
Benar-benar aku tak ingin bang Daeng tahu, tentang aku adalah mantan menantu idolanya. Aku takut dari mulutnya, nama mamah Dinda tercoreng semakin jelek. Hanya karena, putranya itu.
__ADS_1
...****************...
Ini loh alasan Canda selalu alasan dan gak mau ngungkapin yang sebenarnya. 😊