
"Mas! Udah sana mandi dulu tuh. Aku kecapean, aku pengen tidur sebentar." mas Givan sedari tadi masih memelukku dalam satu selimut ini.
Raut bahagianya begitu kentara, seiring tarikan bibirnya.
Ia menciumi bahuku kembali. Aku meliriknya malas, aku sudah mengantuk meladeninya.
"Nanti malem kek gini lagi ya? Jangan tidur dulu, pas lagi ngelonin Ceysa. Nanti aku suruh Zuhdi aja, buat ngatur bongkaran kayu. Dia pun lagi kosong kerjaan. Aku bisa bantu dia nambahin pemasukan kan gitu?"
Bulshit!
"Ngomong aja memang Mas pengen ngerjain aku lagi." sudah ketebak.
"Ya iya, memang. Kan itung-itung bantu Zuhdi, kita kan bisa kelonan di rumah." tangannya mengusap-usap lembut perutku.
Aku menahan tangannya. Aku teringat akan ayahnya Ceysa, jika ada tindakan yang mirip seperti ayahnya Ceysa berikan dulu.
"Mie ayam bakso ceker pun, Mas belum penuhi ya? Jangan ngadi-ngadi nanti malem nganu lagi, mie ayam bakso ceker aja belum dibelikan."
Namun, ia malah tertawa lepas.
"Iya jadi, nanti makan di luar. Kalau malem jadi, nanti besok kita ke toko emas. Mau kalung tak?"
Keluar lagi bujuk rayunya.
"Boleh minta surat kuasa aja?"
Ia terdiam tidak menyahuti. Pasti terbaca olehnya, mas Givan tak akan mau melakukannya.
"Boleh. Tapi yang nurut ya? Jangan ngebantah terus. Aku tak mungkin sengaja nyakitin kau, tadi pun aku ngenakin kau kan?"
Alhamdulillah. Aku akan jadi mamah Dinda. Sayangnya bersyarat.
"Memang aku kurang nurut ya?" aku merasa sudah mengabdi penuh padanya.
"Kurang. Kalau aku lagi apa-apain kek tadi, jangan berisik minta didalamin aja. Aku pun lagi coba bikin kau org*sme dengan cara aku sendiri."
Oh, ia tidak suka aku memberinya saran.
Komunikasi yang baik. Dengan ia berterus terang dan terbuka seperti ini kan, aku jadi tahu harus berbuat apalagi.
"Iya, Mas. Mas juga jangan macem-macem, jangan berani main perempuan di belakang aku." aku membelai rambutnya.
Sayangnya, dengan ucapanku tadi. Aku malah teringat akan Putri.
Cup....
Ia menyambar kecupan kecil di bibirku, "Aku orang yang setia. Makanya, nanti aku bakal bawa-bawa kau ke mana aku kerja. Karena, aku takut khilaf lagi. Aku udah setia, tapi aku punya waktu untuk selingkuh. Nah, takutnya aku gelap mata karena istri jauh gitu loh."
__ADS_1
"Ya Masnya jangan reuni lagi." aku berbalik memeluk tubuhnya.
"Janji, aku tak akan pernah mau datang ke reuni lagi." ia tersenyum lebar.
Aku menyembunyikan wajahku di dadanya, "Aku sayang sama Mas."
"Aku lebih dari itu." aku mendapatkan kecupan ringan di pucuk kepalaku.
Sore harinya, mas Givan dan aku sudah menyusun rencana untuk makan di luar. Ia akan memenuhi janjinya, untuk mentraktirku mie ayam bakso ceker.
Aku terus memandang suamiku dari jauh. Aku duduk di teras toko dengan Ria, dengan pemandangan mas Givan yang tengah didatangi Putri.
Dengan percaya diri dan nekatnya, Putri mendatangi mas Givan yang tengah berada di parkiran Riyana Studio.
Perempuan yang sangat agresif.
"Katanya mau keluar, Ndhuk?" ibu menghampiriku.
"Nanti, Bu. Mas Givan lagi minjam motor, motornya tadi dipinjam kawannya." sahutku kemudian.
Sepertinya, ibu mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.
"Putri itu, Ndhuk."
"Ya, Bu." aku tengah bad mood sekarang.
Putri mencekal lengan mas Givan, ia terlihat masih lancar berbicara.
Mas Givan mengibaskan lengannya, telunjuknya terarah ke wajah Putri. Sepertinya, ayahnya Chandra begitu murka sekarang.
"Dari awal, Put! Dari awal. Bukan sekarang! Kurang dewasa apa aku? Kurang gantle di mananya aku? Udah cukup satu perempuan yang injak-injak harga diri aku. Aku bukan pengemis! Ditolak, ya udah. Mungkin, memang orangnya yang kurang pantas dapatkan aku. Mungkin keluarga tersebut, memang kurang layak besanan sama orang tua aku. Aku tak rugi ditolak keluarga perempuan yang....." suaranya begitu menggelegar sampai mengambang.
Namun, mas Givan langsung ditarik oleh Ghava. Ia dirangkul adiknya untuk masuk ke Riyana Studio. Winda datang menyusul, kaku menarik Putri keluar dari parkiran Riyana Studio. Sepertinya, Winda membawa Putri ke rumahnya.
Masalahnya apa sebenarnya?
Kenapa membawa nama keluarga?
Kenapa juga harga diri mas Givan dibawa-bawa?
"Tenangin suami kamu, Ndhuk." pinta ibu dengan mengusap bahuku.
Dari dulu aku anti menenangkan mas Givan. Itu bukan ide yang bagus. Namun, aku malah diamuknya nanti.
Chandra muncul dari pagar rumah megah, ia menoleh ke kiri dana ke kanan. Ia seperti akan menyebrang. Ia sudah mampu bergaya sekarang, Chandra tidak seperti anakku yang selalu aku gendong-gendong dulu.
Ia pun sudah berani main sendiri sekarang, meski hanya main ke rumah sepupunya.
__ADS_1
Ia berjalan ke arah rumah Ghavi, mungkin ia akan bermain bersama Aksa. Ia melihatku, tapi sepertinya ia tidak tertarik untuk merecoki ibunya sendiri. Entah ia sudah memiliki rencana untuk bermain bersama Aksa.
Tak lama, keluar Key dengan diikuti oleh kak Ifa. Kak Ifa pun membawa semangkuk makanan, dengan mengalungi botol minum milik Key. Mereka pun, mengarah ke rumah Ghavi juga.
Mas Givan malah tidak keluar-keluar. Aku harus memastikan keadaannya. Setidaknya, aku bisa melihatnya.
"Jagain Ceysa dulu, Dek." aku menepuk pundak Ria.
Ria memalingkan perhatian dari ponselnya, "Iya, Mbak." ia mengangguk beberapa kali.
Aku langsung berjalan menuju ke Riyana Studio. Saat aku memasukinya, terlihat Ghava tengah lancar berbicara dengan menepuk-nepuk pundak kakaknya.
Mas Givan melirikku sekilas, lalu ia memandang ke arah lain. Dengan sorot marahnya, tarikan nafas pun terlihat kembang kempis.
"Mas..." aku berjalan menghampirinya, lalu duduk di sampingnya.
"Gitu aja, Bang." Ghava langsung bangkit, lalu meninggalkan kami berdua di ruang tamu Riyana Studio ini.
Aku teringat Chandra yang minta maaf dan memeluk ayahnya. Itu salah satu cara, untuk menenangkan amarah mas Givan.
Aku memeluknya, aku tidak mengeluarkan ucapan apapun.
"Nanti mie ayam bakso cekernya." ucapnya dengan nafas yang masih bercampur emosi itu.
Aku hanya diam, tidak menyahuti apapun. Aku pun tak berniat menanyakan, perihal masalahnya dengan Putri.
Aku hanya ingin menenangkannya saja.
"Aku minta maaf, Canda." ia melepaskan pelukanku.
"Minta maaf? Buat apa?" aku berpikir ia meminta maaf, karena pelukanku dilepaskan olehnya.
"Bukan maksud hati jadikan kau pelarian."
Aku memandangnya kaku. Apa ada drama lagi di sini? Apa ada sesuatu yang disembunyikan dariku?
"Bukan karena amanat semata. Bukan karena pelarian juga. Tapi, mungkin timingnya pas. Sekali lagi, aku minta maaf. Kau bukan semata-mata untuk pembuktian amarahku ke Putri."
Penuh teka-teki.
"Maksudnya gimana, Mas?" aku kebingungan seorang diri.
Ia memutar posisi tubuhnya, tangannya beralih menggenggam tanganku. Ada gelenyar aneh, lewat sentuhan tangan ini. Aku merasa, mas Givan akan mengungkapkan sesuatu yang ia tutupi dariku. Mungkin juga, ia ingin menceritakan titik masalahnya dengan Putri.
...****************...
Jujur, penasaran gak ðŸ˜
__ADS_1
Nunggu ya? Sama dong 😆