Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD218. Mood swing


__ADS_3

"Aaa, nih Abang suapin." sendok sudah berada di depan mulutku.


"Aku mual makan ikan." aku menolak suapannya.


"Kenapa sih? Biasanya jagonya seafood." aku menemaninya makan di sofa kamar.


Aku menyadari, mungkin ia malu berbaur dengan yang lain. Ia tidak mau turun untuk makan. Setelah ini, ia akan mencari Ghavi dan papah Adi. Bang Daeng memiliki keperluan, untuk merencanakan pekerjaan dengan dua orang itu.


Aku baru tahu sekarang, ternyata tiga laki-laki yang rapat di dalam ruang tamu hotel itu. Merupakan anak buah Ghavi. Tapi aku merasa heran, kenapa Ghavi tidak ikut hadir? Padahal, masa itu ia ada di hotel yang sama.


"Tak tau, Bang." aku hanya diam, dengan menyaksikan televisi dengan suara pelan.


"Chandra dari kapan sakit?" tanyanya kemudian.


Aku membuang nafasku, lalu menoleh ke arahnya.


"Udah coba! Makan dulu!" ketusku kemudian.


"Kangen, Dek. Pengen ngobrol, pengen bercanda. Orang tuh kaku betul sama suami. Seolah semua kesalahan ada pada Abang, sampai-sampai kek tak sudi gitu tengok suami sendiri." ujarnya lirih, hampir seperti menggerutu.


"Mood aku belum bagus." tuturku dengan menyalakan layar ponselku.


Sudah jam dua saja. Aku harus menagih papah Adi lagi. Aku sudah teramat ingin jalan-jalan.


"Iya sadar, Abang lagi bokek. Wajar moodnya gak bagus."


Aku menoleh cepat padanya. Ternyata, ia hanya fokus pada makanannya saja. Aku kembali memainkan ponselku, melihat-lihat notifikasi yang masuk.


Prang.....


Aku memberi pelototan tajam pada bang Daeng. Apa-apaan ini?


"Apa?" ia malah melihatku seperti keheranan.


Aku kira, suara piring jatuh itu darinya. Aku kira, ia membanting makanannya. Ternyata tidak, bukan bang Daeng yang melakukannya. Ia masih anteng makan saja.


"AKU CAPEK, KINASYA SALSABILAH!!! KEWAJIBAN LAKI-LAKI ITU KERJA. AKU PIMPINAN DI SANA, DENGAN AKU TERUS MENERUS DI KURUNG DI KAMAR ITU BUAT APA???!!!! KAU BIKIN AKU JADI LAKI-LAKI YANG MALAS TAK BERGUNA. AKU MALU SAMA SAUDARA YANG LAIN, AKU TERUS-TERUSAN ADA DI RUMAH. HAKIKAT LAKI-LAKI ITU KERJA, KE LUAR RUMAH, MENGURUS PEKERJAANNYA. BUKANNYA MELULU DIKURUNG DI KAMAR BEGINI! BIAR APA, KINASYA??? BIAR APA?!"


Teriakan itu seperti menggunakan sepuluh toa. Bertahun-tahun aku di sini, aku baru mendengarkan suara keras Ghifar.

__ADS_1


Suara orang yang berbondong-bondong menaiki tangga terdengar jelas, karena kamarku persis di sebelah tangga. Jiwa penasaranku meronta-ronta, aku pun bangkit untuk melihat keadaan di luar.


Uhh, untungnya anak-anak tengah bermain di lantai bawah. Ya, setelah tidur siang anak-anak boleh bermain di halaman belakang sesuka hati mereka. Sampai waktu sore, lalu mereka diminta mandi dan makan sore.


"Jangan kepo coba, Dek. Biar jadi urusan mereka." suara bang Daeng cukup mengusikku.


Namun, aku tetap penasaran.


"Bentar, Bang." aku langsung membuka pintu.


Terlihat mamah Dinda dan papah Adi ada di antara Kinasya dan Ghifar. Mereka berada di depan pintu kamar mereka.


Terlihat Kinasya sesenggukan dengan menatap suaminya, "Aku takut kau main-main di luar sana, Yang. Kau dibebaskan sedikit, dikasih waktu buat healing. Nyatanya apa? Kau bikin aku tambah tak percaya. Kau jadikan aku layaknya ratu, dengan syarat tak boleh keluar istana. Di mana emansipasi wanita sekarang? Pendidikan aku dihentikan, aku wajib izin kalau pengen pergi. Sedangkan kau? Kau bebas di luar sana, kau bebas mau apapun. Aku tak bakal tau, kau ngapain aja dengan perempuan di luar sana. Aku tak bisa..." Kinasya tak melanjutkan kalimatnya, karena tangisnya begitu hebat.


Mamah Dinda pun tengah menenangkan Kinasya. Ia menepuk-nepuk punggung Kinasya.


"Pengen bikin kesalahan pun, nyatanya aku tetap ingat kau! Aku udah minta maaf, aku pun janji untuk tidak ngulangin lagi. Aku keluar, cuma pengen kerja, pengen tau perkembangan usaha aku. Bukan melulu dikurung, tapi didiamkan, tak diajak ngobrol." Ghifar terlihat begitu murka pada Kinasya.


"Adek!!! Masuk!" suara itu penuh penekanan.


Cepat-cepat aku menutup pintu kamarku, "Ya, Bang." aku kembali berjalan ke sofa yang ia duduki.


"Sore nanti makan di luar aja." lanjutnya kembali.


Pikiranku berkelana. Dengan permasalahan Kinasya dan Ghifar. Pasti papah Adi lupa akan mengantarku berbelanja. Duh, rasanya aku ingin menangis saja.


"Hei, kenapa sih?" bang Daeng mengguncangkan lenganku.


Aku beradu pandang dengannya, ternyata ia sudah selesai makan. Aku melirik ke arah meja, piring kotor sudah berada di sana. Aku berguling untuk melihat tangannya. Rupanya, ia sudah cuci tangan juga. Perasaan aku sebentar saja untuk melihat Ghifar. Sepertinya bang Daeng cuci tangan, saat aku tengah melakukan kegiatan kepo tadi.


"Kenapa, Dek?" tanyanya kembali.


"Tak apa. Rumah ini anti asap rokok. Jangan ngerokok di sini, apa lagi di dalam ruangan. Tak ada yang ngerokok di sini." tuturku kemudian.


"Okeh, nanti aja ngerokoknya. Bagusnya sih dirokokin dulu." senyumnya penuh minat.


Malas betul rasanya. Dirokokin, dirokokin. Aku paham kegiatan apa itu. Aku benar-benar tidak ingin sedikitpun. Rasanya seleraku hilang padanya.


"Ih, sombong! Uratnya langsung masam gitu." bang Daeng mencolek daguku.

__ADS_1


Aku menggeser posisiku, "Tau ah." aku sedikit lebih jauh darinya.


"Apa sih, Dek? Masa sama suami begitu?" ia bangkit, lalu mendekati Chandra yang berada di atas ranjang.


Ah, sudahlah. Aku ingin menonton FTV saja. Moodku benar-benar hancur kali ini.


"Hallo, Vi. Ada di mana? Mau ada yang diobrolin."


Ya ampun, kamar bersebelahan saja malah menelpon.


"Ohh, ini aku di kamar Canda. Di lantai atas."


Ia tengah menempelkan ponselnya, pasti ia tengah teleponan dengan Ghavi.


Ia terkekeh pelan, "Oh, ya udah tuh. Di balkon kamar aja. Kirain di mana."


Ya, iya. Rasanya aku ingin menggetok kepalanya saja. Rasanya aku benar-benar gemas, rasanya ingin mengamuk padanya.


"Apa sih, Adek? Ngelirik suami kek ngelirik ee kucing gitu." ia tengah membuka pintu penghubung balkon.


"Tau ah, kesel terus liat Abang. Sana tuh, ambil penginapan aja! Jangan tinggal bareng aku, aku sesak rasanya. Benci betul liat Abang, pengen cabik-cabik rasanya." aku sudah benar-benar tidak bisa menahan rasa tidak nyaman itu.


Tiba-tiba leherku dipeluk dari belakang.


Cup...


Pipiku dikecup bibir berkumis dan berjenggot tersebut, "Mood swing, sabar ya?" ia memijat pelan bahuku.


"Abang paham, hawanya pengen kesel aja ke suami. Dikta pernah di posisi itu, Abang pun pernah ngerasain posisi di benci ibunya anak Abang." ujarnya kemudian.


"Nanti kita ngobrol banyak, cerita-cerita. Abang harus kelarin masalah Abang dulu. Abang juga wajib nurut ibu idola sekarang. Ehh, ralat deh. Gak jadi Abang idolakan mamah Dinda. Seram ternyata, lebih menakutkan dari penampakan. Mana papah Adi diam aja lagi, pas Abang dikata-katain tak enak tadi. Bikin tremor aja." ungkap bang Daeng, yang sepertinya sembari membuka pintu balkon. Karena terdengar kunci yang berdentingan dengan kaca.


...****************...


Wah, mau ngobrol banyak nanti. Mau cerita-cerita 🥺


Canda jadi mual sama seafood 😑


Lendra pengalaman ngadepin mamak-mamak mood swing ya rupanya 🧐

__ADS_1


__ADS_2