
"Zio tidur lagi?" bang Ardi terheran-heran, saat melihat Zio pulas kembali di depan kipas.
Itulah Zio, ia akan tidur lagi setelah sarapan. Ia akan bangun pukul delapan pagi, lalu baru ia mandi.
Berbeda dengan Ceysa dan Chandra. Mereka berdua langsung bermain seperti biasa. Mereka juga terbiasa mandi pagi.
Padahal Zio dibiasakan seperti itu. Tapi jika aturan longgar, ia langsung bermalas-malasan kembali.
"Tut, Bang." Ceysa mengikuti Chandra yang berjalan ke kamarnya.
Kamarnya aman, jendelanya tebal dan tidak bisa dibuka. Namun, ada exhause untuk fentilasi udara.
Aku langsung mengikuti kedua anakku. Terlihat Chandra duduk di depan mainan balok susunnya, ia pun membagi Ceysa beberapa balok susun miliknya.
Balok susun, yang berceceran di mana-mana. Karena itulah mainan favorit Chandra dari waktu ke waktu.
"Jangan rebutan ya, Bang? Adeknya kasih ya? Biyung liat TV sama abu." ucapku pada Chandra.
"Ya, Biyung." Chandra menoleh padaku sekilas. Lalu, ia fokus pada mainannya kembali.
Bang Ardi menepuk tempat di sebelahnya.
Sofa di sini dipindahkan. Ada yang di bawah, ada yang di kamar ini, ada juga yang di taruh di kamar Ria. Karena sofa tersebut, menjadi tempat rawan untuk anak-anak. Mereka sering kali terjatuh dari atas sofa, karena aktivitasnya yang tidak mau diam.
Bang Ardi bersandar pada tembok, kakinya selonjoran begitu nyaman. Di samping kanan kakinya, ada Zio yang pulas dengan menghadap tembok kamar Chandra.
"Apa, Bang?" aku duduk di sampingnya.
"Berapa mayam maunya?"
Tangannya merangkulku. Ini sudah biasa. Ya, sejauh ini kami sudah dekat seperti ini.
"Terserah aja. Tak usah mewah-mewah lah. Yang penting, aku dikasih jatah lancar perbulannya." aku berucap, setelah mengunyah makanan yang tersisa.
Tangannya sedikit turun, ia mengusap-usap lenganku.
"Sepuluh umumnya, untuk masyarakat biasa. Abang udah nyiapin sekitar delapan belas mayam, uang kotor dua puluh jutaan. Masalah jatah lancar, itu insya Allah Dek. Abang kan kerja, tak nganggur. Doain aja, kerjaan lancar terus."
Meski bekerja di bangunan, uang yang ia dapat cukup besar. Menurut ceritanya, ia digaji diawal sebelum bekerja. Namanya juga borongan.
"Segitu ya tak apa. Aku tak masalah."
Aku melepaskan tangannya, karena aku akan minum air sejenak. Aku terganggu, jika minum dengan tangannya yang terus mengusap-usap.
"Bulan depan ya, Dek?"
Aku menoleh cepat. Sebelum aku menyembur, aku cepat-cepat menelan air minum yang berada di mulutku dahulu.
"Apanya?" aku duduk bersandar kembali.
Tangannya merangkulku kembali. Kini, posisiku sedikit digeser olehnya. Membuatku, kini bersandar di dadanya.
Uhh, nyamannya dada lebar laki-laki manis sepertinya.
"Nikah lah, Dek. Kita udah tiga bulan begini-begini terus. Udah pusing kepala Abang." tangannya yang lain mengusap-usap rambutnya sendiri.
"Pusing kenapa? Aku tak pernah minta dibelikan emas, rumah, barang-barang mewah." aku berkata dengan memutar kepalaku menghadap wajahnya.
"Tapi minta skincare, minta beli jajanan ini, itu. Uangnya juga." ia melirikku sinis.
Aku tertawa lepas, "Itu Abang yang kasih." aku menepuk pahanya.
"Iya sih. Buat Adek ini, bukan buat orang lain."
__ADS_1
Cup....
Aku langsung memegangi pipiku, yang kena sosor bujang ini.
"Haaa?" aku masih menatapnya tak percaya.
Namun, ia malah menahan daguku.
Jantungku langsung bergemuruh. Mengajaknya untuk sarapan pagi bersama, bukanlah ide yang baik.
Aku hanya mampu menahan dadanya, saat indra pengecap kami tengah beradu. Hembusan nafasnya begitu memburu, ia seperti tengah mencari keliaran di dalam buruannya.
"Bang...." akhirnya, ia melepaskanku.
Matanya langsung terpejam, ia seperti tengah meredam sesuatu dalam dirinya.
"Bang Ardi." aku berusaha melepaskan pelukannya.
Karena, rangkulan di bahuku ini begitu kuat. Ia tukang belenggu yang sempurna.
Matanya terbuka kembali, sorotnya begitu asing di pandanganku.
Apa ia kesurupan?
Aing maung, seperti itu?
Semoga saja tidak.
Nanti pak kyai yang akan menyembuhkannya, malah akan menikahkan kami lebih dulu. Karena kami tengah berada di dalam satu ruangan, dengan sudah melakukan hal mesum.
"Bang, Abang kenapa?" aku menepuk pipinya pelan.
Ia mengusap bibirku dengan ibu jarinya, "Kurang."
Rahangku terjatuh, mendengar pengakuannya.
"Okeh, jangan berontak terus." ia melepaskanku.
Ia tiba-tiba bangkit, lalu melangkah ke kamar milik Chandra.
Ia masuk ke dalam sana. Ada gerutuan suara, ada jawaban dari anak kecil juga. Entah apa yang mereka perbincangkan.
Saat bang Ardi muncul, ia sudah bertelanjang dada saja.
Aduh, bagaimana ini?
"Mau ngapain sih, Bang?" aku sudah parno.
"Tak." ia duduk dan berselonjor kaki kembali.
Dag-dig-dug jantungku, rasanya mau copot.
Matanya fokus pada televisi. Ia terlihat santai, hanya aku yang kalap sepertinya.
Namun, ada yang aneh.
Tangannya hilang.
"Sini coba, Dek." ia meraih tanganku.
"Apa?" aku sebenarnya sudah curiga.
Tanganku di bawa masuk ke tengah-tengah tubuhnya. Ternyata, hoddie itu digunakan untuk menutupi batangnya ini. Agar jika Chandra tiba-tiba muncul. Ia tidak mati kutu, karena batangnya menjadi pameran.
__ADS_1
"Cocok tak?" ia membawa tanganku mengurut batang nan hangat itu.
"Iseng betul sih?!" aku mer*masnya cukup kuat.
Bang Ardi meringis candu. Aduh, rasanya aku ingin sering melihatnya meringis seperti itu.
Aku menarik tanganku. Tetapi, bang Ardi mempertahankan tanganku di sana.
"Pegang aja, tak disuruh ngapa-ngapain."
Cup....
Ia mencuri satu kecupan lagi di pipiku.
Aku baru tahu. Ternyata di balik wajah alim dan sorot teduhnya, ia memiliki tingkat kemesuman yang tinggi.
Pantas saja ia minta segera untuk menikah. Rupanya, ia tidak bisa menahan syahwatnya lagi.
Yang ia maksud sudah pusing itu. Karena ia pusing, syahwatnya selalu tertahan.
"Udah, Bang. Udah!" aku sudah merengek, agar ia melepaskan cekalan tanganku untuk menggenggam batangnya.
"Besar tak, Dek?" ia mendekatkan mulutnya lagi di pipiku.
Aku tak mau menjawab. Saatnya aku berbicara nanti, ia malah mengambil kesempatan untuk mengajak l*dah kami bertarung.
"Adek..." ia sengaja menghembuskan nafasnya ke kulit wajahku.
"Hmmm..." aku masih mengunci mulutku.
"Marah kah?"
Ia sengaja betul banyak bertanya, agar aku membuka mulutku.
"Adek.... Sayang..." wajahnya mengusel ceruk leherku.
Rasanya aku ingin mengutuk laki-laki ini saja.
Ia melepaskan cekalan tanganku di batangnya. Namun, ia langsung mengunci rahangku.
Sambaran yang sama. Ia memeburu apa yang ia inginkan.
Penjahat juga laki-laki ini.
Aku akan mengadu pada abangnya nanti. Biar saja, biar dia kena sembur abangnya sendiri.
Aku mendorong wajahnya, "Udah, Abang."
Ia seperti lintah yang sulit sekali dilepaskan, ketika sudah mengh*sap. Lehernya masih kaku saja, wajahnya masih condong ke bibirku.
"Abang..." tanganku yang lain menahan dadanya yang terekspos tersebut.
"Tak diapa-apain, Adek. Abang cuma gini aja." tatapan matanya begitu lain.
Aku takut ia kesetanan sebetulnya.
"Udah, udah! Aku udah keringetan." aku mengusap keringat yang turun di dahiku.
"Baru dicium aja udah keringetan. Ya ampun, Dek Canda, Dek Canda...." bang Ardi geleng-geleng kepala, dengan tersenyum samar padaku.
"Aku tak bisa di......
...****************...
__ADS_1
Tak bisa apa??? 🤤 Teuku Ryan versi hitam manis loh 😍
Ayo pilih siapa???? 🤩