Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD164. Order makanan


__ADS_3

"Sini aku bantuin." Ghifar mengulurkan bantuan, karena aku kesusahan untuk mengganti SIM card ponselku.


"HP mahal nih. Kok kau mampu sih, Dek?" ujarnya di sela aktivitasnya.


"Ngeledek betul. Kok mampu! Kok mampu!" celetukku dengan mata menatapnya sinis.


Ia menoleh padaku, kemudian ia terkekeh kecil.


"Apa ini?" matanya fokus ke arah leherku.


Aku yakin, ini bukan kiss mark. Karena bang Daeng bukanlah laki-laki yang menyukai tato buatan mulut.


"Kalung..." lanjut Ghifar kemudian.


"Mata berlian." tambahnya dengan memutar-mutar bandul kalungku.


"Simpanan gadun ya?" tubuhnya kemudian.


Ia melirikku dengan telunjuk yang menghakimiku.


Aku menepis telunjuknya, "Simpanan kau!!! Tuh, Queen nelponin terus." aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.


Aku deg-degan, jika berpandangan mata dengan Ghifar. Dia adalah racun yang siap membunuh imanku.


"Ck..." hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Saat aku meliriknya, terlihat ia masih sibuk mengutak-atik ponselku.


"Mana KTP kau, Dek." Ghifar menaruh ponselnya, lalu ia melepaskan kancing kemejanya.


Istimewa.


Ini hidangan untuk mataku.


"Ishhh.... KTP kau, Dek!"


Aku gelagapan, kemudian cepat-cepat mengacak-acak tas Celine Trapeze milikku.


Aku menemukan KTP milikku, di dalam dompet terbaru milikku. Saat aku melihat KTP, aku baru teringat akan KTP baruku dan buku nikahku masih dipegang oleh mangge.


KTP yang tersimpan ini, adalah KTP palsu. Ini adalah salah satu dari dokumen, yang dimanipulasi oleh bang Daeng saat aku ingin melamar pekerjaan. Karena, yang bekerja di PT itu harus berstatus belum menikah.


Aku memberikan KTP milikku pada Ghifar. Sedetik kemudian, Ghifar langsung menggelengkan kepalanya.


"Gadis dong.... Belum menikah dong.... Jadi pengen nyoblos."


Hei, hei... Sejak kapan Ghifar memiliki mulut c*bul?


"Ada istri dong, anak dua dong." tambahku dengan duduk di sampingnya.


Aku melongokkan kepalaku, untuk melihat layar ponselku.


"KK-nya sih, Far?" tanyaku kemudian.


"Ada tak?" Ghifar menoleh padaku.

__ADS_1


Jika seperti ini, posisi kami begitu dekat.


"Tak bawa." aku tak membuat kartu keluarga palsu untuk keperluan bekerja.


"Dih, bisanya?" ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Udahlah, pakai identitas aku aja. Aku cuma pakai registrasi kartu sekali aja. Masih bisa registrasi dua kali kan?"


Aku hanya mengangguk, kemudian berjalan untuk menyalakan televisi.


Aku fokus pada televisi, membiarkan Ghifar berjalan ke sana ke mari. Namun, aku merasa mulutku begitu tidak enak. Seperti ada rasa besi, entah darah di dalam mulutku. Apa aku menyikat gigi terlalu kuat kah?


"Far... Tadi turun beli apa?" mataku mencari keberadaan Ghifar.


"Beli cemilan di minimarket. Tuh..." Ghifar menunjuk nakas sebelah kanan tempat tidur.


Aku mendapati plastik putih berlogo minimarket biru. Aku bangkit, lalu berjalan untuk menilik isi belanjaan Ghifar.


"Aku jet lag, jam tidur aku kacau. Aku harus ngemil sambil begadang."


Jika Ghifar berbicara seperti ini, ia terdengar sama cerewetnya seperti papah Adi.


"Ck... Tenang! Gofood pun aku mampu sekarang. Ketimbang ciki sepuluh ribu tiga, nyelip di gigi aja!" aku berlagak sombong, dengan menjatuhkan plastik berwarna putih tersebut ke atas ranjang.


Aku masih merekam ekspresi Ghifar. Wajahnya terlihat seperti bertanya, apa sih. Terlihat seperti tidak sudi untuk melihat.


Tawaku pecah, aku tahu ia tengah menggurauiku saja. Jika aku sombong begini, Ghifar pasti lebih songong. Aku tahu tabiatnya yang seperti ini.


"Udah belum sih. Mau order seafood bakar nih." aku duduk kembali di sofa empuk, yang menghadap ke televisi yang menyala.


Ponselku sudah beralih ke tanganku, "Ini ada kuotanya tak?" aku melihat-lihat menu di layar ponselku.


"Tak ada, pulsa aja lima ribu."


Aku mendengus kesal, lalu meliriknya malas.


"Udah cepet tethering!" paksaku kemudian.


Ghifar menoleh padaku, ia menjauhkan ponselnya yang tengah ia mainkan.


"Kalung berlian, HP enam belas jutaan. Tethering? Malu lah! Sana beli paket data sendiri!" ia menahan tawanya, dengan memasang ekspresi antagonis.


"Huuu!!!" aku menyorakinya, lalu merebut ponselnya.


"Tinggal gini aja kok repot! Besok gampang beli data." ucapku setelah mendapatkan keinginanku.


"Sok kali Adek nyan oeh ta hei, bikin Abang a'oe." ia malah menyanyi.


"Apa sih adek-adek aja?!" aku komplain, karena aku baper.


"Terus? Kakak ipar begitu?" matanya sampai melebar.


Telunjuknya goyang-goyang di depan wajahnya, "Oh, tidak bisa. Lagian, umur kau di bawah aku kok. Sama Giska aja, masih tua Giska kan?" tanyanya kemudian.


Aku mengangguk, "Iya, minta jajan dong Bang." aku menengadahkan telapak tanganku, lalu aku memasang wajah memelas.

__ADS_1


Ghifar terkekeh kecil, "Pandai kau cari uang, segala minta jajan! ATM aku aja masih di kau. Coba, kurang apa lagi Abang ini?" ia membusungkan dadanya yang terekspos jelas.


Aku tertawa renyah, lalu memukul dadanya. Ya ampun, semudah ini dekat dengan cinta pertamaku.


Ghifar tertawa geli, kemudian merangkulku.


"Katanya mau gofood. Cepet dong! Bayarin Abangnya ini, lama kan tak pernah traktir?" ia menempelkan pipi kami.


Hal ini sudah lama tak kami lakukan. Gurauan sederhana, yang sering kami lakukan dulu.


Kami terkekeh bersama. Sudah lama kami tidak pernah seakrab ini.


"Ok, ok." aku langsung mengutak-atik ponselku.


"Mau ini Abang, Dek." Ghifar menunjukkan gambar makanan di layar ponselku.


"Mie Aceh? Jangan mie lah. Aku tak pernah kenyang, kalau makan mie." aku menscroll layar ponselku ke bawah.


"Ini deh, ini aja." Ghifar menunjuk makanan lain.


"Mau berapa? Porsinya gede tak ya? Aku mau dua porsi makanan seafoodnya." kini nasi goreng seafood yang menjadi incaran kami.


"Ini bukan seafood bakar kan campuran nasi gorengnya? Bukan seafood dua ribuan yang kau sering ngerengek itu kan?" tangannya merangkulku kembali, dengan ia menunjuk pilihan menu di toko makanan yang sama.


"Bukan." tawaku pecah, "Ini isiannya udang, cumi gitu. Bukan seafood bakar dua ribuan yang dipotong-potong." aku menoleh ke arahnya.


Kami tertawa kembali, "Rupanya sering makan seafood-seafoodan ya? Aku belum pernah nih." sahutnya kemudian.


"Ishhh, ketimbang nasi goreng seafood." aku berlagak sombong dengan mengibaskan rambutku.


Ghifar menoyor bahuku, ia tertawa lepas.


"Sombongnya!!! Cepat-cepat, order." Ghifar kembali menunjuk layar ponselku.


Aku mengangguk, lalu segera melakukan pesanan beberapa makanan. Seperti biasa, aku melakukan pembayaran cash on delivery. Aku tidak mengerti tentang uang elektronik, yang disimpan dalam aplikasi. Mobile banking saja, aku tidak punya. Jika aku belanja online, aku akan memilih pembayaran di minimarket.


Beberapa saat kemudian, kami tengah menikmati makanan kami.


"Ehh, tunggu dulu. Tadi ada nasi sama chicken teppan mana ya? Aku tadi beli, beef teppan sama chicken teppan. Yang beef udah aku makan, sisa chicken teppan." Ghifar menoleh ke kiri dan kanan, seperti tengah mencari sesuatu.


Aku menepuk pahanya, "Jangan ngadi-ngadi! Tadi disuruh makan. Sekarang malah nyariin!" tegurku dengan tatapan sengit.


Ia melirikku sekilas, kemudian tertawa dengan memegangi perutnya.


"Padahal abis makan ya? Malah order makanan lagi."


Ia menggerutu?


Atau menyindirku?


Aku meliriknya, Ghifar langsung menoleh. Kemudian tawanya menggema kembali. Aku seperti hiburan tersendiri untuknya.


...****************...


Siapa yang kangen scene mereka berdua 🤗

__ADS_1


__ADS_2