
"Khe... Yaya. Bang yaya."
Bang Daeng langsung menggendong Chandra.
Mengharukan, anakku masih mengingat seseorang yang selalu memberinya jajanan itu.
"Mana yang sakit, Nak?" bang Daeng mengusap-usap punggung Chandra, lalu ia mencium pucuk kepala Chandra.
"Di kamar aja, Canda. Kamar kau aja. Ini waktunya anak-anak main ke bawah." mamah Dinda membantu Tika menggendong kembar.
"Nanti beli obat sama Mangge, Oke? Jangan nangis aja, Chandra capek nanti." bang Daeng masih menenangkan Chandra.
"Ih, Bang. Cada." tangis Chandra terhenti, ia langsung menatap bang Daeng dengan ekspresi sewot.
"Ehh apa?"
"Ihh, Abang. Bukan Chandra katanya." terangku kemudian.
"Ehh, Noy. Tandatangan nih, map ini ya." Ghavi muncul, dengan membawa map berwarna merah muda.
"Mana aja? Biar aku bawa, banyak anak-anak, takut buat mainan." bang Daeng membawa Chandra ke ruang tamu.
"Melongo aja! Sana naik dulu. Ibu kau suruh ikut, biar dia tau menantunya. Chandra biar nanti sama Ria, biar tak main HP aja itu anak." papah Adi mengatakan itu, dengan menyusul Chandra ke ruang tamu. Di sana, masih terdapat banyak orang yang memakai kemeja rapih.
Pekerjaan apa sih? Sampai-sampai mereka terlihat serius dan tak mau diganggu seperti itu.
"Bu..." aku menegur ibu yang akan turun tangga.
Sedangkan aku, tengah menaiki anak tangga satu persatu.
"Kenapa, Ndhuk?" tanya ibu kemudian.
"Ke kamar yuk? Mau ada yang diomongin." akhirnya, aku sampai di lantai dua.
"Apa, Ndhuk? Chandra kemana?" aku merangkul ibu untuk masuk ke dalam kamar.
Kamar sudah rapih, mainan Chandra pun sudah terkumpul di sudut kamar. Alhamdulillah, aku tidak akan dimarahin mamah Dinda.
Ibu menyelamatkanku.
"Liat nanti deh." aku tersenyum kaku pada ibu.
"Khe, yaya." rengekan Chandra mengusikku.
"Iya, yaya. Sabar ya?"
Ceklek....
Papah Adi yang membuka pintu kamarku. Bang Daeng langsung melihat ke arahku, yang tengah memungut kain jarik milik Chandra.
__ADS_1
"Bu, Bang yaya." adu Chandra saat melihat ibu tengah duduk di sofa.
Tangisnya pecah kembali. Chandra kuat menangis, selain ia kuat melek. Ia anak yang baperan dan cengeng, ia suka sekali menangis dan mengadu.
"Udah sama Mangge aja, Bang Chandra bobo ya." bang Daeng mengusap-usap punggung Chandra, tubuhnya pun terayun untuk memberi rasa nyaman pada Chandra.
"Pe Khe."
Mamah Dinda sampai menahan tawa, melihat Chandra yang sering menatap wajah bang Daeng. Entah karena apa, Chandra memang dari dulu sering menatap wajah bang Daeng.
"Pe apa?" tanya bang Daeng.
"Duduk, duduk! Canda, kau duduk dekat Ibu!" pinta papah Adi, dengan membuka pintu penghubung balkon.
"Bang, tutup lah pintunya! Chandra keluar nanti." ujar mamah Dinda, dengan duduk di sofa panjang yang aku duduki bersama ibu.
"Ambil kursi, Dek." papah Adi muncul, dengan mengambil kursi terbuat dari besi.
Persis seperti kursi teras di depan, hanya saja kursi ini berwarna putih.
Papah Adi mengambil posisi di sebelah istrinya, ia duduk di kursi teras itu dengan memperhatikan Chandra yang menepuk-nepuk wajah bang Daeng. Bang Daeng duduk di sofa single, yang berada di depan papah Adi.
"Pe, Khe." Chandra sudah tidak menangis lagi, tapi ia ribut pe saja.
"Pe apa, Nak?" bang Daeng mengusap-usap rambut Chandra yang basah karena keringat.
"Pe." ia manggut-manggut, dengan mengeluarkan kata itu lagi.
"Oh, HP?" tanya bang Daeng.
Chandra mengangguk cepat. Kami tertawa geli, melihat Chandra yang terlihat begitu akrab dengan bang Daeng itu.
"Nih. HP Mangge jelek, bekas HP-nya Biyung." bang Daeng mengeluarkan ponselku dulu yang berwarna biru dongker.
Ponsel hasil tukar tambah, dengan ponsel lamaku. Lalu ditambahkan nilainya, sebesar satu juta lima ratus oleh bang Daeng.
"Tub." Chandra sampai monyong-monyong.
"YouTube?"
Benih mas Givan yang terkuat itu manggut-manggut. Ia ternyata masih ingat, kebiasaannya dulu yang selalu dijejali YouTube oleh bang Daeng.
"Nih, sambil bobo ya?" bang Daeng memberikan ponsel yang sudah mengeluarkan suara animasi itu.
Chandra hanya diam, alisnya bertautan dengan memperhatikan layar ponsel tersebut.
Lalu, pandangannya beralih ke arahku. Ia menggulirkan pandangannya pada semua orang yang berada di sini.
"Gimana, Dek?" ia mengeluarkan pertanyaan ambigu.
__ADS_1
"Kau yang kek mana? Ke mana aja kau?" mamah Dinda mengeluarkan suara ketus dan bertekanan tinggi itu.
Bang Daeng melebarkan matanya, ia seperti kaget dengan reaksi mamah Dinda. Iya lah, ia pasti tidak menyangka dengan watak idolanya ini.
"Aku kerja. Tadi pun kerja. Kan tanggal dua delapan nanti jadi ketemuan di Lhokseumawe, makanya aku ajuin jadwal ketemu sama Ghavi ini. Sebenarnya masih ada jadwal di Bukittinggi, belum kelar kerjaan aku." bang Daeng berbicara pelan dan terdengar santai.
"Betul kau udah tunangan sama perempuan asal Makassar?" lontaran pertanyaan itu keluar dari papah Adi.
Bang Daeng terdiam, ia hanya bisa memandangku dalam diam. Entah, apa arti dari tatapannya.
"Iya, maaf." ia langsung menurunkan pandangannya lagi.
"Tapi Canda tetap jadi tempat aku pulang." lanjutnya dengan kembali memandangku.
"Siapa itu, Ndhuk?" tanya ibu lirih.
"Itu suaminya Canda, Bu." jawab mamah Dinda begitu lantang.
"Itu ibu kandungnya Canda." terang papah Adi, dengan menunjuk ibu dengan ibu jarinya.
"Loh???" bukannya mencium tangan ibu, ia malah terlihat begitu syok.
"Saya ibu mertuanya kemarin, Bu Ummu ini ibu kandungnya Canda." jelas mamah Dinda cepat.
"Hah???" alis bang Daeng sampai menyatu.
Lalu ia memandangku, "Adek, menantu Mamah Dinda? Ananda Givan, mantan suami Adek? Chandra cucu keluarga ini?"
Aku mengangguk beberapa kali.
Bang Daeng geleng-geleng kepala, ia malah membuang pandangannya ke arah lain.
"Abang tuh usahain rumah, Adek Abang resign. Karena Abang tau, bahwa Adek udah ngandung. Kenapa pergi dari kos-kosan? Rawan loh perjalanan jauh gini. Gimana kalau anak Abang gak kuat?"
Aku menelan ludahku kasar, aku mencoba menahan rasa sesak yang akan tumpah di netraku ini.
"Siapa perempuan yang tahan, masa kabar pertunangan suaminya datang dengan nyata? Kau niat tak nikahin dia? Udah tau bahwa Canda hamil, kau malah ambil opsi buat tunangan. Apa maksud kau? Arah pikiran kau ke mana? Udah gini aja, mana buku nikahnya. Biar Saya yang proses. Kau anteng lah di sana sama tunangan kau. Misal Canda melahirkan anak perempuan nanti, tolong kelak kau yang sudi buat walikan pernikahan anak perempuan kau nanti. Saya butuh buku nikah kalian, untuk keperluan pembuatan akte kelahiran juga, biar anak kau bisa sekolah." ungkapan mamah Dinda, membuatku semakin cengeng.
"Jadi, Canda pergi dari kos karena pertunangan itu? Aku kira, dia berkunjung ke orang tuanya karena keadaannya hamil. Dia butuh seseorang, yang ngurus dia."
Papah Adi langsung tepuk jidat. Ibu pun hanya bisa geleng-geleng kepala, mendengar penuturan menantunya itu.
"Ish, bodohnya kau! Pantaslah, kau nampak tenang. Ternyata, otak kepala kau tak punya saluran."
Kentara sekali, ekspresi kaget bang Daeng mendengar kalimat kasar yang keluar dari mulut mamah Dinda.
...****************...
Anda baru ya tau ya, Daeng? 😏
__ADS_1