
"Bang.... Janji ya sempetin pulang ke aku. Ingat aku terus, jangan lupa kabarin aku."
Kini aku mengantar kak Raya, bang Koto dan bang Daeng ke bandara. Mereka akan bertolak menuju pulau Sulawesi.
Ya, kini sudah saatnya untuk aku dan bang Daeng menjalani LDR kembali.
"Iya, Sayang. Tenang! Adek tempat Abang pulang. Kalau takut di kos sendirian, Adek telpon mangge aja minta dijemput. Insya Allah, lepas trip ini Abang bisa belikan rumah kek yang Adek mau. Doain ya, semoga rejeki Abang lancar." ia mencium pucuk kepalaku.
"Semalam jatah belum, Len?" kak Raya mencolek lengan bang Daeng.
"Udah, udah. Itu gak lupa." jawabnya membuat kami semua tertawa.
"Kak, nitip bang Daeng ya?" aku menoleh pada kak Raya.
"Iya, tenang aja." sahut kak Raya santai.
"Abang siap-siap dulu ya? Nanti Abang kabarin kalau udah sampai sana." aku mengangguk, lalu mereka semua menarik koper kerjanya.
"Ati-ati, Bang." aku berdada ria, pada bang Daeng yang berjalan menjauh.
Ia mengangguk, dengan menyunggingkan senyum terbaiknya. Masa kerja tiga bulan, bang Daeng akan lama di Sulawesi kembali. Aku pasti akan menantikan saat-saat pertemuan kita.
Aku masih stay di bandara, sampai pesawat yang membawa rombongan bang Daeng sudah take off. Kemudian, aku langsung bergegas ke mobil kantor yang sudah dipesan oleh bang Daeng untuk mengantarku kembali ke kos-kosan.
Sesampainya aku di kos-kosan, aku memilih untuk merebahkan tubuhku dan bermain ponsel.
Lama sudah, aku tak bertukar kabar dengan kak Anisa. Sejak ia menginginkan liburan bersama itu, tetapi batal karena ia marah padaku. Aku berinisiatif untuk menanyakan kabarnya kembali.
Namun, aku malah melihat-lihat story aplikasi chatting ini.
Nama kontak kak Anisa, cukup menarik perhatianku. Karena sebelumnya, aku ingin bertukar kabar dengannya.
Alhamdulillah, kado untuk bang Dendi.
Caption dalam foto tersebut.
Aku jadi iri, melihat kak Anisa mendapat garis dua.
Ya, foto tersebut menampilkan sebuah tes kehamilan yang menunjukkan garis dua. Pasti mereka berdua tengah bahagia sekarang.
Di slide selanjutnya, terlihat bang Dendi menggendong ransel dengan berjalan ke arah kamera. Senyumnya terlihat begitu bahagia.
My Hubby langsung datang.
Ucap kak Anisa pada video pendek tersebut.
Aku pernah merasakan foto yang terakhir ini. Foto USG yang dipajang tersebut. Aku pun pernah melakukannya, saking bahagianya bisa USG.
__ADS_1
Aku langsung menuliskan sesuatu di status kak Anisa tersebut.
Selamat, Kak. Wah, akhirnya bakal jadi ibu.
Hingga, setengah jam berlalu. Centang hanya berubah menjadi biru, tanpa balasan apapun. Rupanya, kak Anisa benar-benar marah padaku.
Ia pasti sangat kecewa padaku. Karena kini, bang Daeng memiliki hubungan denganku.
Aku bertukar pesan dengan Ghifar, menanyakan keadaan kesehatan Chandra. Ternyata, penerbangan mereka ditunda. Karena Kaf tengah diare parah.
Ghifar menunjukkan foto bayi kecil yang terpasang infus.
Dirawat ibu dokter keluarga. Untungnya, mamahnya dokter.
Terang Ghifar, setelah menunjukkan foto tersebut.
Kangen Chandra, Far. Diundur terus dong.
Entah sampai kapan, aku bisa bertemu dengan Chandra kembali. Ghifar pun, seperti mengulur kepulangannya terus.
~
"Abang...." aku memeluknya begitu erat.
Ini adalah bulan pertama kita berpisah. Ia kini datang, dengan tentengan yang memenuhi genggamannya.
"Pasti kesepian Adek, tiap hari di kos sendirian." ucapnya saat aku masih memeluknya.
"Gak bisa, Sayang. Kerjaan Abang pun, banyak dicover Koto sama Raya. Biar nanti keluar uang trip, keluar juga hasil usaha Abang sama temen Abang. Terus kita bisa punya rumah deh." jelas bang Daeng dengan merangkulku masuk ke dalam kos.
"Abang bawa apa? Kok banyak kali?" aku membantunya untuk menaruh paper bag yang cukup banyak.
"Sok dibuka aja. Abang mau bersih-bersih dulu ya?" bang Daeng ngeloyor masuk ke dalam kamar mandi.
Mataku berbinar, saat menemukan kotak berisi emas batangan seberat lima ratus gram. Untuk menimpukku pun, sepertinya akan berdarah. Ini sangat berat, untuk ukuran emas. Di sini pun terdapat sertifikat dan pembungkus yang terlihat mewah.
Namun, aku menemukan dokumen yang membuatku berpikiran negatif kembali.
Nalendra
Eksportir, PT. Indo Walet Internasional.
Aku yakin, eksportir adalah kedudukan bang Daeng di PT tersebut. Kok bisa bang Daeng bekerja di dua PT yang berbeda?
"Yang sopan, Canda!"
Aku langsung memandang lurus ke sumber suara. Ini adalah pertama kalinya bang Daeng memanggilku dengan sebutan nama saja. Jujur, aku kaget mendengarnya.
__ADS_1
"Abang nyebut aku Canda aja?" aku berkaca-kaca memandangnya.
Bang Daeng merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia seolah tak sadar akan ucapannya?
"Apa? Mau nangis? Sini nangisnya." ia menepuk lengannya.
"Tutup pintunya, kunci." lanjutnya kemudian.
Ia memejamkan matanya, nafasnya berangsur stabil. Ia sepertinya akan tertidur.
"Abang tuh capek, Dek. Jangan dicurigai gitu, Abang tuh cari uang halal. Abang kerja halal, gak usah sampai dikepoin kek gitu. Yang penting, hasil jerih payah Abang ini halal, bukan hasil nipu orang." jelasnya dengan mata terpejam.
Aku bangkit, menutup pintu dan menguncinya. Lalu aku berjalan ke arah bang Daeng, aku merebahkan tubuhku di sebelahnya.
"Abang kasar betul, nyebut aku Canda-Canda aja." protesku kemudian.
"Iya, maaf." ia memutar tubuhnya ke arahku, "Adek yang sopan. Itu kan kerjaan Abang, ya jangan dibuka-buka. Kan ada barang lain yang harus dibuka, itu buat Adek semua. Jangan ulik-ulik kerjaan Abang, Abang gak suka." terangnya dengan mengusap air mataku yang terlanjur menetes.
"Tidur dulu yuk? Biar besok pagi Abang udah fit. Gak enak badan, Abang. Satu minggu terakhir, cuma beberapa jam aja tidurnya." ia berkata dengan mata terpejam.
"Aku baru bangun tidur jam lima tadi. Aku belum ngantuk." sekarang masih pukul tujuh malam lewat lima belas.
Baru juga adzan isya, aku bahkan belum sholat.
"Ya udah, jangan malam-malam tidurnya. Besok malam Abang udah berangkat lagi."
Aku langsung memeluknya. Belum juga hilang rasa rinduku, ia sudah akan berangkat lagi saja.
"Aku masih pengen kangen-kangenan." aku menggosokkan wajahku di dekat dadanya.
"Sabar ya? Abang lagi usaha, biar kita enak kedepannya." ungkap bang Daeng dengan mengusap kepalaku.
Aku harus paham, jika bang Daeng tengah berusaha sekarang. Ia ingin hidup kami bahagia tanpa kekurangan materi. Ia ingin mewujudkan hunian sederhana untukku.
~
"Abang..." pagi ini, aku menguatkan pelukanku padanya.
Udara pagi ini cukup dingin. Selepas sholat subuh, kami bersembunyi di balik selimut kembali.
"Hmm." bang Daeng sudah memejamkan matanya kembali.
"Besok mau pijat kah?" aku teringat akan dirinya dipijat saat mendapat pekerjaan dari Batam.
"Mau Adek aja. Abang lama gak ngasih nafkah batin, harus menuhin itu Abang sampai sebelum berangkat lagi. Adek minta berapa ronde sama Abang?" tangannya menyelusup ke dalam pakaianku.
Suhu hangat ia berikan dari telapak tangannya. Sepertinya bang Daeng benar-benar tengah tidak enak badan. Suhu tubuhnya sedikit hangat, meski tidak terlalu panas.
__ADS_1
...****************...
Laki-laki badannya anget gitu tuh, biasanya lagi kecapean hebat. My Hubby kalau kecapean kek gitu. Pulang kerja jam tiga malam, jam enam pagi udah berangkat lagi. Balik jam dua siang, jam empat sore udah berangkat lagi. Udah tuh, balik kerjanya langsung anget badannya. Balik-balik jam satu malam, udah kek zombie walking dead.