
Yey, suamiku sudah sampai. Aku kini tengah memegangi tangannya erat-erat.
"Mas, cium." aku menunjuk pipi kiriku.
Mas Givan melirikku, "Ya ampun, Canda." suamiku langsung mencium pipiku sekilas.
Hmm, dicium orang ganteng dong.
"Sehat-sehat coba!" mas Givan menarik pipiku berlainan arah.
"Ya, Mas. Aku sehat." aku tersenyum lebar padanya.
"Permisi." seorang dokter masuk ke ruangan bertirai ini.
"Ya." mas Givan tersenyum ramah.
Setelah memeriksaku, dokter tersebut mengambil buku KIA milikku yang berada dia atas nakas. Ia melihat-lihat catatan kesehatanku.
"USG dulu ya, Bu?"
Aku hanya mengangguk. Aku sudah hafal, karena selalu seperti ini.
Aku pernah pendarahan, tetapi tidak dirujuk ke rumah sakit. Pikirku, karena aku tidak merasakan sakit atau mulas.
Namun, tebakanku salah. Pendarahan itu sulit dihentikan. Aku jadi berpikir, jangan-jangan obat yang disuntikkan ke selang infusku, yang berfungsi menyetop pendarahanku saat di rumah sakit.
Terjadi lagi, kembali aku diizinkan pulang. Kini, Ghifar yang satu mobil dengan papah Adi. Sedangkan mamah, beliau bersamaku dan mas Givan.
"Mah, belanja yuk?" aku mengganduli lengan mamah Dinda.
"Ganti baju dulu, Canda. Tuh, di paper bag. Aku udah bawa tadi." mas Givan menunjuk paper bag yang berada di samping mobil mamah Dinda.
Ini adalah mobil Chevrolet Trailblazer milik mamah Dinda. Di Aceh, kami belum memiliki mobil. Namun, di Kalimantan mas Givan memiliki sebuah mobil.
Bismillah, satu anak satu mobil dan satu rumah masing-masing.
"Maaf ya, Mah." aku merasa malu sendiri mengganti baju di samping beliau.
__ADS_1
Alasannya, karena bajuku memiliki noda darah.
Mamah Dinda hanya mengangguk, kemudian beliau berpaling ke arah lain. Ternyata, mas Givan juga membawakan CD baru juga. Ia sudah siap sedia rupanya. Entah karena perintah dari Kin.
"Mas.... Beli mie ayam bakso ceker, tapi baksonya yang jumbo tuh. Ditambah topping kerupuk kulit. Terus minumnya teh P**** dingin. Uhh, mantap." aku sudah ngiler membayangkannya.
"Mamah mau teppan chicken katsu." ujar mamah Dinda dengan menirukan ekspresiku yang seolah menyeka air l*urku.
Mas Givan terkekeh kecil. Mungkin ia melihat kami dari spion tengah mobil.
"Ke mie ayam bakso aja ya, Mah? Uang aku tak cukup. Kemarin abis buat penerbangan aja. Vendra sama Winda pun, belum dikasih jajan." mas Givan menoleh ke arah kami, saat berhenti di lampu merah.
"Mamah punya uang, Van. Kita bareng-bareng dulu, sampai kau stabil. Ayolah ke mall, Mamah pengen refreshing."
Tapi dengan mas Givan tidak memiliki uang, pasti aku yang melamun di sini. Aku di mall tidak bisa berbelanja apapun.
"Aku nyusahin Mamah terus. Maaf ya, Mah? Nanti tanggal dua lima, ada yang mau bayar meubel. Nanti kita jalan-jalan pas tanggal dua lima aja, sekalian aku bisa urus perihal cerai Mamah sama papah." mas Givan dengan wajah memelasnya.
"Ambil labanya aja, modalnya kau tetap putar. Biar meubel kau tetap stabil. Cukup tambang aja yang keteteran, Van. Jangan kau acak-acak semua."
Benar kata mamah Dinda. Jika mas Givan mengambil semua hasil meubel, pasti giliran meubel yang tidak stabil.
Jika membahas usaha dan bisnis seperti ini, aku lebih baik diam. Daripada terlihat lebih bodoh dari kenyataannya. Apalagi, kalau aku memang tidak mengerti apapun.
Mobil pun mulai berjalan kembali dengan perlahan. Cukup macet di siang hari ini.
"Ya tak apa. Kau belajar dari kesalahan kau, sambil nyusun rencana bisnis kau biar ada kemajuan. Kerjasama baru atau apa gitu, biar kau cepat stabil. Gandeng aja Putra Tunggal Berintan sama Adi Wijaya Abadi, biar Adi Wijaya tak nampak betul terpuruk. Takutnya vendor lokal dan internasional tarik kerjasama mereka, kalau tau Adi Wijaya lagi kolaps begini."
Aku hanya bisa diam, dengan melipat pakaianku yang memiliki noda darah.
"Iya, Mah. Nanti kalau ada ongkos sama pegangan, aku mau ke Kalimantan lagi. Tapi tambah pusing, Mah. Soalnya Canda begini, aku tak tega ninggalin dia dalam keadaan hamil tua."
Aku pun tak mau ditinggalkannya. Nanti aku pegangan tangan dengan siapa?
"Biar Mamah, nanti sekalian mau bawa Ria. Terus masalah operasi Canda, tadi Mamah udah ada ngobrol sama dokter. Katanya mungkin di tiga puluh enam minggu, Canda nanti diberi tindakan." dokter pun menyampaikan ini padaku.
"Memang harus kah, Mah?" suara mas Givan terdengar pasrah.
__ADS_1
"Ya harus, dari pada kau jadi duda. Adanya operasi sesar itu, biar ibu dan bayinya selamat. Kontraksi sampai dua puluh jam belum ada kemajuan, itu disarankan sesar. Karena khawatir ibunya kelelahan pas ngejan, kan itu bisa bikin bayinya terjepit. Kek kasus Mamah lahiran Ghava Ghavi dulu, Mamah kelelahan. Untungnya, bayi keluar Mamah baru tak sadar. Itu pun tak bagus, bahaya juga. Terus plasenta previa ini, ibarat kita mau keluar rumah, tapi pintunya diganjal lemari besar dari dalam. Sekuat apapun kita mendorong itu lemari, lemari itu tak bakal bergeser juga, yang ada malah turun bero. Jadi mending ikut aturan aja, dari pada kita yang merugi." jelas mamah Dinda kemudian.
Benar sekali. Jika beberapa kali aku memeriksakan diri, tetapi hasilnya tetap sama. Berarti itu adalah saran terbaik untuk diri kita.
"Mah, Canda tidur lama aja tuh aku sering cek nafas di hidungnya. Apalagi dioperasi kek gitu, aku takut Mah."
Eh benarkah?
Mamah Dinda terkekeh, "Kau bisa temani Canda waktu dioperasi, kek waktu Ghavi. Nanti misal Mamah di Kalimantan, kau hubungi aja, nanti Mamah langsung ambil penerbangan."
Mas Givan malah memukul-mukul stir mobilnya, "Aku takut, Mah. Canda jangan dioperasi."
Jika aku sih terserah saja. Yang penting itu adalah yang terbaik untukku dan anakku.
"Harus. Kau turutin saran yang ada, biar istri sama anak kau selamat." suara mamah dominan tegas.
"Memang kalau dipaksa lahiran normal tak selamat kah, Mah? Icut aja waktu lahiran Meme ada Kistanya, disarankan operasi, tapi bisa normal juga. Kistanya keluar sendiri sama bayinya."
Wah, benarkah? Aku malah baru tahu.
"Beda kasus, Givan. Kista itu ada pun, karena kondisi hamilnya Icut waktu itu." terang mamah Dinda.
"Tau ah, Mah. Apa kata nanti." mas Givan memukul-mukul stir mobilnya kembali.
Huft...
Mas Givan, mas Givan. Harus bagaimana membuatnya mengerti.
Kami jalan-jalan ke mall dengan traktiran dari mamah Dinda. Kami pun singgah ke warung mie ayam bakso ceker langgananku, hanya untuk membelikan satu porsi untukku saja. Jika untuk anak-anak, mamah Dinda membelikannya baksonya.
Yang tidak aku pahami tentang ibu mertuaku. Ia tetap bisa tersenyum dan tertawa, bahkan bisa bergurau dengan cucu-cucunya.
Sampai esok harinya. Aku masak jengkol dengan bumbu rendang. Aku masak cukup banyak, karena aku pun berniat ingin membaginya dengan Kinasya dan papah Adi juga. Ya meskipun aku membeli bumbu jadi, tapi tetap lah ada rasanya.
"Ih, papah Adi mana Kin?" aku kaget, melihat kamar yang biasa papah Adi tempati begitu rapi dan tidak ada barang milik papah Adi.
Jangan-jangan, papah Adi dibawa ibu Bilqis.
__ADS_1
...****************...