
Ia menggeleng, "Aku tak makan, ya aku dicambuk mamah. Aku di sekolah itu, jajan es yang murah gitu. Itu loh, Kak. Kalau es T*a Jus kan seribu, kalau es itu lima ratus. Jadi tuh, esnya udah diseduh pedagangnya. Pas aku beli, dia kek tinggal nuangin aja ke plastik."
Aku manggut-manggut mengerti, di pesantrenku dulu pun ada.
"Biasanya, pakai pemanis buatan. Makanya mencret, tak baik buat pencernaan anak-anak." jelasku sepahamku.
Ya, aku sadar diri. Bahwa aku orang bodoh. Itu hanya pemahamanku aja.
"Aku juga dimarahin mamah. Udah lagi sakit, dimarahin terus."
Aku sangat tidak sopan, karena malah terbahak-bahak begitu saja.
"Ihh, Kakak ipar!" Gavin memberiku pelototan tajam.
Aku langsung merangkul pundaknya, "Biar Bang Gavin tak ulangin lagi, makanya mamah ngamuk-ngamuk. Biar Bang Gavin ingat ngamuknya Mamah, kalau hampir salah langkah jajan es murah itu lagi." aku menjeda kalimatku sejenak, "Lagian, kenapa beli es murah? Memang uang sakunya berapa?" tanyaku kemudian, dengan mengusap-usap punggungnya yang mulai melebar.
Padahal, ia baru akan tiga belas tahun. Tapi dadanya sudah mulai bidang. Ya memang, tidak begitu terlihat. Namun, jika diusap seperti ini begitu terasa lebar.
Ia menoleh padaku sekilas, lalu ia mencekal tangan Ceysa yang hendak berjalan menjauh.
"Uang saku aku tujuh ribu, kalau olahraga sepuluh ribu. Masa itu, aku abis olahraga. Uang aku tinggal lima ratus, tapi aku haus." ia membuang nafasnya, "Setelah ini, aku diminta bawa air dari rumah. Pakai Tupperware, atau pakai bekas Aqua botol katanya."
Aku kembali dibuat tertawa, membuatku kembali dihadiahkan pelototan tajam dari Gavin.
"Tau ah! Kakak ipar ngetawain aku terus." Gavin malah melangkah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Bang...." Ceysa malah langsung mengejar pamannya itu.
"Sini, Dek." seru Gavin dari dalam rumah.
Aku segera bangkit, lalu mengejar Ceysa.
"Dek... Mandi dulu." aku berusaha menangkap anak yang sudah cepat berlari itu.
"Udah kau tinggal Ceysa di sini aja, Canda." mamah Dinda muncul dengan menggiring Key dan Chandra.
"Apa sih Mamah tuh?!" aku sudah cemberut hebat.
Mamah hanya melirikku. Kemudian beliau berlalu pergi.
"Iya, ati-ati." sahutku dengan memperhatikan Chandra yang mencoba mengikuti langkah cepat mamah Dinda.
Ia tertinggal, karena berpamitan denganku.
"Mamah tunggu." Gibran berlari cepat dengan mendekap Al-Qur'an dan menyampirkan baju di bahunya.
Gibran bertambah ganteng, dengan sarung ala-ala santri itu. Pasti saat ia dewasa, Gibran bertambah rupawan.
"Pamit dulu ya, Bang Gavin? Ceysa mau mandi dulu." akhirnya aku bisa menggendong si kecil bringas ini.
Dasar, Lendra kecil.
__ADS_1
Gavin mengangguk, "Nanti main lagi ya, Ceysa." ia menarik sudut bibirnya samar.
"Okeh." aku melangkah keluar dari ruang tamu ini.
Aku masih memiliki pertanyaan yang sama. Kenapa dengan pedagang makanan? Sampai mamah Dinda begitu marahnya?
Saat aku hendak masuk ke dalam ruko. Aku berpapasan dengan Ardi Fadlan, si bujang tengil tukang ngibul.
Semoga, prasangkaku salah. Semoga, yang aku lihat hanya kebetulan saja. Semoga juga, tidak ada skandal lain.
"Makasih ya, Bang?" Ria turun dari motor bongsor berwarna merah itu.
Bang Ardi juga memberikan beberapa kantong belanjaan pada Ria. Styrofoam terlihat di mataku. Sepertinya, Ria baru pulang berbelanja di toko entah di pasar.
Bang Ardi mengangguk, "Telpon aja kalau butuh Abang."
Saat ia mengatakan hal itu, ia berkontak pandang denganku.
Apa maksudnya?
Aku familiar dengan ucapannya yang seperti ini. Ia pernah mengatakannya, saat kami memutuskan untuk break.
...****************...
Skandal lagi 🤦 tapi kita cari tau dulu penjelasan Ria.
__ADS_1