
"Apa, Len?" kak Raya memutar kursi yang ada di depan bang Daeng.
"Kau udah resign?" tanya bang Daeng pada kak Raya.
"Aku udah buat surat pengunduran diri, tapi belum aku ajuin. Nanti gaji libur ini, gak ditransfer kalau aku ngajuin lebih dini." ungkapnya kemudian.
Bang Daeng manggut-manggut, "Gak perlu resign sih, Ya. Referensiin Koto masuk PT kita, buat ganti posisi Canda. Dua atau tiga bulan lagi juga, Bondeng keknya bakal resign." bang Daeng menunjukku dengan dagunya.
"Ciahhh, Bondeng gak tuh?" kak Raya terkekeh geli.
"Partner kerja baru, butuh penyesuaian lagi. Belum kalau orangnya udah pengalaman, kalau orang baru kek Canda gini. Kaku batin aku ngajarin, kerjaan dua kali lipat. Udah aku wawancara sama klien, bantu sekertaris pula buat bikin laporan. Duh... Mumet keknya nanti aku." bang Daeng menggaruk kepalanya sendiri.
"Ya udah, aku nanti obrolin lagi sama bang Koto." kak Raya bangkit dari duduknya.
"Iya, menurut aku sih gitu aja. Canda paling lama tiga bulan lagi resign." terang bang Daeng kembali.
Kak Raya hanya mengangguk, kemudian ia berjalan untuk menyapa tamu-tamunya kembali.
Pengantin yang aktif.
"Kasih apa, Bang?" aku belum merasa menyiapkan hadiah untuk kak Raya.
"Transfer aja lah nanti. Gaji Abang udah Abang transfer ke rekening Adek. Uang trip buat pegangan kita, sama modal trip bulan depan."
Hah? Kok bisa dengan percaya dirinya kami datang ke pesta pernikahan? Padahal, sovenir pernikahan tak kami bawa sama sekali.
"Nanti aku transfer deh." aku harus memahami bahwa kondisi keuangan bang Daeng belum stabil.
Bang Daeng hanya memberikan gajinya saja padaku, sebesar sepuluh juta tiga ratus rupiah. Uang trip, ia gunakan untuk biaya hidup kita sehari-hari sampai bertemu di trip kerja selanjutnya.
Lalu, uang nafkah dari bang Daeng aku gunakan untuk apa? Itulah pertanyaanku sekarang.
__ADS_1
Apa lagi, gajian itu baru masuk kemarin sore.
"Gak perlu. Buat kebutuhan Adek aja. Beli baju, beli tas, perawatan. Uang belanja Adek, belum Abang kasih."
Ya, Allah.
Aku merasakan seperti terbang. Semoga bang Daeng bukan hanya di awal saja.
"Yuk?" bang Daeng bangkit, lalu mengulurkan tangannya padaku.
Aku menyambut uluran tangannya, lalu berjalan menghampiri kak Raya dan bang Koto yang masih berpetualang.
"Ya... Nanti aku transfer ya? Makasih makan siangnya."
Aku tertawa tertahan. Jujur aku sedikit malu, karena aku pertama kali di pesta pernikahan hanya untuk numpang makan siang saja.
Kak Raya memukul pelan dada bang Daeng, kami semua melebur dalam tawa.
"Iya! Udah sana balik! Gantian tempat duduk sama yang lain." sahut kak Raya kemudian.
Mereka seperti angka sebelas. Sama-sama tinggi menjulang, tapi tubuh bang Koto cukup atletis. Mungkin karena profesinya seorang scurity.
"Mau bungkus gak, Bang?" tanya bang Koto kemudian.
Aku mencubit pinggang bang Daeng. Sungguh, aku tidak bisa lebih lama menahan malu di depan mereka.
"Boleh-boleh." bang Daeng malah menyanggupinya.
Bang Koto mengangguk. Lalu ia seperti memberi isyarat pada seseorang, yang berada di meja tamu.
"Ambil di sana, Canda. Tuh, mereka udah ngangguk." kak Raya menunjukkan bridesmaids yang berada di meja tamu.
__ADS_1
"Serius? Bercanda padahal." bang Daeng membulatkan matanya.
"Serius lah. Udah sana balik!" kak Raya mendorong lengan bang Daeng.
"Eh, sialan kau!" bang Daeng berjalan menggandengku sembari memaki kak Raya.
Kami dipaksa membawa bungkusan makanan, oleh bridesmaids penjaga meja tamu. Mau tak mau, akhirnya kami membawa bungkusan itu.
Kami melangkah ke luar dari pesta ini, kamu menuju ke halaman parkir. Namun, langkah bang Daeng langsung terhenti. Ia menoleh padaku, dengan menggoyangkan kedua lenganku.
"Ya ampun, Abang lupa. Keinget Raya nikahan aja, jadi lupa mau mampir buat jemput Chandra. Coba Adek telpon papahnya Chandra, tanya kabar Chandra. Bilang ke dia, Adek mau jemput sama Abang."
Tubuhku menegang, saat bang Daeng menyebut papahnya Chandra. Aku pun baru teringat akan rencana kami, tentang menjemput Chandra selepas kami pulang dari Banda Aceh. Namun, kami malah langsung pulang ke Padang saja.
"Ya, Bang. Nanti aku telpon kalau udah di mobil."
Akhirnya, kami melanjutkan langkah kaki kami kembali.
"Coba, Dek. Telpon cepet." bang Daeng mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran mobil di pesta ini.
Aku mengangguk, lalu langsung mencari ponselku. Segera aku mencari nama Ghifar, lalu aku berusaha menyambungkan panggilan telepon dengannya.
"Bang, sebenarnya aku tak punya nomornya papahnya Chandra. Tapi aku punya nomor adiknya kok, dia selalu ada di rumah." ungkapku kemudian.
"Ya udah, gak apa. Nyambung gak?" bang Daeng menoleh sekilas padaku.
"Nyambung, Bang." aku memperhatikan tulisan berdering dalam layar ponsel ini.
Satu detik kemudian, detik di dalam panggilan telepon mulai berjalan.
"Hallo..." aku langsung menempelkan ponselku pada telingaku.
__ADS_1
...****************...
Mulai deg-degan lagi 😳