Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD128. Push rank


__ADS_3

Namun, tiba-tiba aku teringat dengan nama ibu bang Dendi. Oh, iya. Namanya ma Amah, jelas berbeda dengan nama bu Ummu ini.


"Bu Ummu Habibah, anaknya namanya Ceria Skalane Waktu. Unik ya? Kek nama kau." aku bisa melihat garis bibir Ghifar tertarik ke atas.


"Jadi kapan pulang? Aku mau jemput Chandra, aku kangen anak." rasanya susah sekali aku mengungkapkan rasa rinduku, karena Ghifar adalah orang yang tidak mudah berbelas kasih.


"Paling nanti, kalau Kaf udah tiga bulanan. Kalau memang kangen, biar aku yang datang buat jemput kau. Kita di sini aja di Brasilia, bantu papah ngurus usahanya dulu." ajakan itu lagi yang tercetus.


"Far... Kau beristri. Aku mantan pacar kau, aku mantan ipar kau, tak pantas kita begitu Far. Apa lah, jemput-jemput bekas jandanya kakak sendiri. Jangan malu-maluin publik, tentang keluarga kita sendiri." karena pikiranku sudah mengarah ke berbagai cabang. Ghifar malah tadi mengatakan pada mamah Dinda, ia rela mengambil resiko poligami.


"Kalau Kin juga ridho, itu tak jadi masalah."


Apa ini niatnya?


"Udahlah! Males aku ngobrol sama kau." perasaan, aku sudah tidak ser-seran lagi bercakap-cakap dengan Ghifar seperti ini.


"Yang ucapan mamah tadi. Aku sama orang-orang rumah sepakat, buat nutupin masalah rumah tangga kau. Kami semua khawatir bikin keadaan mamah sama papah drop. Nadya hamil tujuh bulan. Tapi, kami selalu bilang kau yang lagi hamil. Kau paham kan? Kalau ditelepon sama mamah pun, kita cari tempat yang tak ada Nadya. Karena kita tak mungkin terang-terangan nutupin dirinya di depan mamah. Bang Givan yang handle tentang Nadya itu. Toh, mereka juga menikah siri. Bang Givan ada rencana jemput kau, masanya Nadya lepas nifas. Tolong masa itu, kau udah menikah, atau setidaknya kau sama aku. Biar dia tak bisa paksa kau buat rujuk. Lima tahun kau sama dia, apa ada yang buat kau seneng? Malah kau dikasih anaknya sama orang lain lagi. Tolong jangan mau, kalau bang Givan minta rujuk." ungkap Ghifar dengan suara lembutnya.

__ADS_1


Jadi, mas Givan menikah siri dengan Nadya?


Tapi, kenapa aku harus dengan Ghifar jika aku belum menikah?


"Aku pun tak mau balik sama dia. Cukup tau, karena perubahannya hanya untuk sesaat." ujarku kemudian.


"Kelak kau capek kerja, cobalah transaksi dengan ATM aku. Biar aku tau posisi kau." rupanya Ghifar masih ingin bercakap-cakap denganku.


"Tak perlu ngelakuin kek gitu lagi, Far. Aku mau jemput Chandra, aku udah punya kehidupan sendiri." terangku kemudian.


"Udah nikah kah? Sama siapa? Orang mana? Baik kah orangnya? Kenapa buru-buru? Udah hamil kah? Kan aku udah bilang, jangan ngejer laki-laki." urat wajahnya langsung kecewa.


"Belum, Far. Aku masih fokus kerja aja." ini adalah jawaban yang aku pilih.


"YANGGG!!!" teriakkan itu begitu nyaring.


Ya Allah, ada pula orang lepas nifas bisa berteriak sekencang itu? Hebatnya Kinasya.

__ADS_1


"Iya, Ma. Lagi push rank."


Sejak kapan Ghifar pandai beralasan?


"Udah dulu, Canda. Nanti kapan-kapan telpon lagi aja." setelah kalimat itu selesai, panggilan langsung dimatikan olehnya dengan gambaran wajah panik Ghifar yang bisa kutangkap.


Dasar, suami orang.


Aku menilik jam dinding lagi. Sekarang sudah pukul setengah empat sore. Jika malam ini bang Daeng tak datang, berarti sudah dua hari ia pergi.


Apa sih kesibukannya di luar sana?


Bisnis walet sudah tak pernah ada kabar lagi, saat aku menanyakan itu padanya. Apakah bisnis apartemennya tengah bermasalah kah? Terakhir ia bercerita, bahwa apartemennya butuh renovasi. Apa ia menjual apartemen itu? Sehingga ia tidak pulang-pulang padaku, karena proses penjualan itu?


Jika memang jam empat sore ini, ia tidak kunjung datang juga. Aku akan mencari informasi pada orang kantor, untuk menanyakan keberadaan Daengku ini.


...****************...

__ADS_1


Ke mana bang Daeng? Apa di antara kalian, ada yang ngajak Daeng buat ngamer? 🤭


__ADS_2