
Tapi ngomong-ngomong, bisa-bisanya dia kerja dengan membawa perempuan?
"Rayanya mana, Bang?" tanyaku kemudian.
Karena sedari tadi, aku belum bertemu dengan orang lain.
"Raya masih briefing. Abang izin gak ikut briefing, buat ngarahin kau tadi."
"Makasih ya, Bang?" aku selalu merepotkan orang lain.
"Enak aja makasih-makasih aja! Cium dong!" jawabnya dengan menunjuk pipi kirinya.
Mataku melebar, mungkin hampir lepas dari tempatnya. Tidak kira-kira ia menuntut.
Ia melirikku sekilas, lalu tawanya pecah seketika.
"Cepatlah stabil, biar Abang gak kasian terus sama kau. Urus surat cerai, senengin diri kau, senengin anak kau. Carilah pemimpin yang baik, yang mikirin tentang perut dan batin kau."
"Abang juga carilah muhrim yang baik." aku membalikkan nasehatnya.
Ia menoleh sekilas, lalu ia fokus mengemudi kembali.
"Abang cari muhrim yang Abang cinta. Mau perempuan itu buruk, tatoan, peminum, atau pecandu. Abang bakal terima dia, kalau Abang cinta. Karena perempuan itu bisa diperbaiki. Mereka cuma butuh imam yang baik, maka mereka pasti akan memenuhi kewajibannya sebagai makmum. Perempuan itu, tergantung bagaimana laki-lakinya." ia melirikku sekilas kembali.
Ini yang pernah Ghifar katakan, saat Nadya itu berkunjung ke rumah dan meminta tanggung jawab pada mas Givan.
"Untuk sekarang. Karena Abang belum mapan, Abang gak akan cari makmum dulu." ia tersenyum, sembari memutar stir mobilnya. Karena kini kami sudah berada di depan toko kelontong, yang memberi jalan untuk kos kami.
__ADS_1
Aku jadi teringat ucapan bang Dendi. Ia pernah mengatakan, bahwa bang Lendra adalah orang yang urut. Tujuan pertamanya adalah mapan. Jika ia sudah mapan, ia baru akan mencari makmum.
Aku baru tahu, ada orang seperti ini yang bertahan hidup sampai sekarang. Bagaimana ia saat ujian nasional? Apa soal-soal yang susah dulu, ia berusaha setengah mati untuk menjawabnya? Apa soalnya mampu ia jawab semua?
Bahkan, guru pun menyarankan untuk mengerjakan soal yang mudah terlebih dahulu. Namun, sepertinya nasehat guru itu tidak berlaku untuk kehidupan bang Lendra.
"Yuk." ia ke luar dari mobil lebih dulu.
Aku segera membuka pintu mobil ini, lalu berjalan lebih dulu ke kos milik kak Anisa.
Baru sebentar saja, aku sudah rindu dengan Chandra.
"Chandra..." sapaku, pada Chandra yang tengah berada di gendongan bang Dendi.
Chandra langsung menghentakkan kaki dan tangannya. Ia begitu girang, saat melihat wajahku muncul di hadapannya.
Aku mendongak menatap wajah bang Dendi, "Terus kek mana? Siapa yang bersihkan?" tanyaku cepat.
"Abang lah. Enis lagi Abang suruh belanja sembako buat Abang."
Aku mengambil alih Chandra dari dekapan bang Dendi.
"Makasih Pak cek. Maaf ya Chandra ngerepotin Pak cek?" aku memainkan tangan Chandra, untuk mencolek lengan bang Dendi.
"Tak apa, maklum Chandra masih kecil. Kalau Pak cek suruh nyebokin Biyung, baru Pak cek keberatan. Takut salah cebok."
Aku memukul tangannya, mulutnya usil sekali.
__ADS_1
Kami tertawa bersama, Chandra pun ikut memamerkan giginya. Padahal, aku yakin bahwa dirinya tak mengerti apapun.
"Ayo cepat, Dek." bang Lendra muncul, lalu merangkulku.
"Bentar, Bang." aku melepaskan rangkulannya, lalu berjalan menuju ke kamar kos kak Anisa.
Aku mengambil tas milikku, yang sudah terisi beberapa pakaian milikku dan Chandra.
Satu doaku yang aku harapkan kali ini. Semoga fisik Chandra kuat, karena akan aku bawa ke manapun aku pergi bekerja. Perjalanan ke luar kota, pasti cukup membuat lelah fisik dan pikiran kami. Aku harap, Chandra tidak kembali sakit karena perjalanan jauh kali ini.
"Ayo, ayo...." bang Lendra mengambil alih Chandra, lalu ia jalan mendahuluiku.
Aku bergegas mengekorinya. Namun, aku malah melirik seseorang yang baru saja membersihkan kotoran anakku.
Aku berhenti melangkah, menoleh padanya dan tersenyum manis.
"Doain aku mampu ngerjain kerjaan ini ya, Bang? Nitip kak Anisa." ucapku padanya.
Ia membalas senyumku, "Iya, tenang aja."
Ya, Allah. Rupawan sekali fotografer ini.
"Canda...."
Aku mengalihkan pandanganku, pada seorang wanita yang menjinjing kantong plastik yang cukup banyak.
...****************...
__ADS_1
Semangat jalani hari ini, Kak 😁