Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD104. Berhasil membelah


__ADS_3

Aku mengangguk mengerti, kemudian aku mulai menj*lurkan li*ahku. Aku pernah melakukannya, aku yakin ini tidak sulit.


"Sok, Abang merem. Biar Adek gak malu." mungkin bang Daeng memahami bahwa aku ragu-ragu untuk melakukannya.


Aku mulai menitikkan lidahku, di bagian bawah yang bang Daeng maksud. Di bagian paling bawah intinya, di kantong yang menyimpan dua biji berlainan bentuk itu.


Aku mendengar nafas bang Daeng berhembus kasar.


Kemudian aku mengikuti garis yang dimaksud, sampai diujung pan*kal. Setelahnya, aku menyapu dua biji yang bergerak dalam kantong tersebut.


"Batangnya, Dek. Abang gak tahan." bang Daeng mengusap kepalaku.


Aku mulai dari kepalanya. Mencium, menyapukan l*dahku. Kemudian, langsung memasukkan ke dalam mulutku.


"Bibirnya masuk, tutupi giginya. Terus jepit batangnya pakai bibir Adek." aku mengikuti instruksinya. Beberapa kali aku lakukan, untuk menaik turunkan kepalaku.


"Benturkan ke langit-langit mulut Adek. Terus, terobos sampai kerongkongan." permintaannya cukup sulit untukku.


Namun, aku tetap mengusahakannya. Pasalnya, aku tidak bisa menelan habis benda sepanjang itu.


"Biar Abang bantu. Adek rileks, biar gak gigit." aku merasakan rambutku seperti dikepal oleh tangannya.


Ia mendorong kepalaku perlahan, membuat barang yang berada di mulutku semakin dalam tenggelam.


"Ahh.."


Bang Daeng langsung menarik kepalaku kembali.


Ia menarik daguku, kemudian membingkai wajahku. Ibu jarinya terulur, mengusap sesuatu di bibirku.

__ADS_1


Senyumnya terlihat begitu bahagia, "Makasih ya? Sini gantian."


Ya Allah, ia sampai berterima kasih untuk ini? Bukankah setelah ini kita saling membutuhkan? Tapi laki-laki begitu membuatku terbang, dengan terima kasih sederhananya.


Aku terbaring di atas tempat tidur. Dasterku pun, perlahan hinggap di lantai.


Belum juga beraksi lebih lanjut, tapi keringat kami sudah saling membasahi.


"Bismillah... Adek Abang enakin." dengan demikian, ia langsung kembali beraksi dengan giginya.


Bang Daeng adalah penggigit yang handal. Aku tidak merasa sakit dengan gigitannya. Namun, remang dan semakin berminat aku padanya.


Aku mendapatkan timbal balik secara langsung. Berganti, kini dirinya berada di tengah-tengah tubuhku. Ia berjongkok di sana, sampai-sampai ia seperti menyeruput kopi.


Klek....


Punggung bang Daeng menegak, ia tersenyum penuh arti padaku.


Aku merasakan tangannya seperti melumuri intiku, lalu fokusnya teralihkan ke tengah-tengah kami.


Benar, rupanya ia sudah bermain dengan gel pelumas tersebut.


"Kalau buatan kek gini, gak begitu sakit kek yang pertama. Tapi mungkin, kita besok perlu libur dulu biar gak lecet." aku merasakan benda tumpul itu begitu licin bergesekan dengan milikku.


"Mulai ya?" bang Daeng menyetarakan kepala kami.


Bibirnya kembali mengusik telingaku. Membuatku kelojotan, karena hembusan nafas dan permainan li*ahnya itu.


"Abang!" aku mendorong dadanya, agar ia menyudahi kegiatan di telingaku.

__ADS_1


Aku tidak bisa fokus. Aku merasakan geli luar biasa pada bagian telingaku.


"Apa?" bang Daeng tersenyum menggoda, dengan menyatukan tanganku kembali di atas kepala.


"Geli..." aku tertawa kecil.


"Jangan ditiup-tiup telinga aku, kek kopi panas aja." lanjutku kemudian.


"Sengaja." ia seperti menaikkan pinggulnya sedikit.


Senyumku sirna. Aku baru sadar, ternyata intiku sudah dipenuhi oleh sesuatu.


"Biar fokusnya di telinga. Biar gak auh-auh, biar gak kesakitan." lanjutnya begitu jelas.


Tanganku terulur, meraba sesuatu di tengah-tengah tubuh kami.


Batang itu sudah tertelan sempurna. Dengan cairan gel pelumas yang begitu banyak, sampai langsung berpindah ke jariku.


"Abang....." aku melototi tidak percaya, dengan yang terjadi sekarang ini.


Ia tersenyum begitu manis, bahkan sedikit menyerempet ke genit. Bang Daeng telah berhasil membelahku, tanpa membuatku kesakitan.


Ia cerdik, atau memang licik?


Atau, skill-nya yang luar biasa?


...****************...


Jadi pengen nyoba sama Daeng Lendra 🤣✌️

__ADS_1


__ADS_2