
...**Bulan baru 😁 alur baru 😁...
...Alur jeram ya kali ini 🤯 jangan lupa pakai pelampung 🤓 awas bebatuan terjal dan arusnya kuat 🤩...
...Arum jeram kah alur jeram? 🙄...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...
Wajahnya begitu mirip dengan bang Daeng. Padahal ia masih bayi, tapi ia sudah dominan manggenya seperti ini.
"Kalau mirip kau, bisa cantik itu." komentar dari neneknya Chandra ini.
"Iya, Mah. Wajah bayi, masih berubah-ubah."
Mungkin Yang Kuasa menginginkanku, untuk selalu mengingat kembali sumber benih bidadari cantik ini. Entah apa pesan di dalamnya. Yang jelas, sampai detik ini aku masih menangisi manggenya keturunanku ini.
Aku sadar sakit hatiku, setiap kali menyadari bahwa aku ternyata masih mencintainya. Rasa itu kian memburuk, hingga akun bernamakan Noy tersebut kian aktif memberiku tap love.
Ia tidak pernah mengomentari postinganku. Tapi ia selalu meninggalkan jejaknya, dengan tap cintanya itu. Ia pun selalu hadir, setiap aku mengunggah story tentang keadaan di depan mataku.
Aku memang tidak selalu aktif. Tapi, aku juga sering iseng mengunggah foto keluarga kecilku.
"Ehh, diadzhani belum?"
Aku dan mamah Dinda tersentak kaget, saat mas Givan tiba-tiba muncul.
"Swab belum kau?! Main masuk-masuk ke ruangan bayi aja." mamah Dinda menahan dada mas Givan.
"Udah tak musim Corona. Aku udah cuci tangan." ia langsung mengambil alih anakku.
"Kecil kali kau, Nak." ia menciumi wajah gadis merah ini.
"Udah diadzanin belum, Mah?"
"Udah."
"Perempuan kah dia, Canda? Kau kasih nama siapa? Merah betul nih. Hammera sama Icut lewat nih. Humaira Arshad Warsi, bagus tuh." ia menimang bayiku.
Namun, bayi itu langsung dikembalikan lagi ke tanganku.
Mas Givan memang selalu seperti ini. Ia tidak kuat lama menggendong anak.
"Aku balik jam tiga, tak ada orang, sepi betul. Kata ibu, Canda kontraksi. Aku tadi abis beli resep dari Kin, buat Chandra sama Zio. Pilek dari kapan itu bocah?" mas Givan duduk di tepian ranjangku.
"Dari semalam. Zio nangis aja, abis jalan-jalan ke pasar malam. Mungkin dia masuk angin, abis naik odong-odong sama Kaf. Terus Chandra baperan, dia pilek karena doyan nangis. Liat yang lain diajak, Kin lupa ngajak dia, udah diem di pojokan aja, udah jebeng-jebeng." aku menceritakan drama anak-anak itu.
"Ya iya, gaya betul pasar maleman. Pilek kan jadinya?" mas Givan tidak suka jika anak-anak pergi ke pasar malam, apa lagi jika udaranya begitu menusuk.
"Aisyah aja, Dek. Kasih nama Aisyah." mamah Dinda duduk kembali ke kursinya.
"Humaira aja, Mah." ujar mas Givan.
Aku teringat akan gurauanku dulu dengan bang Daeng. Ia pernah mengatakan, bahwa jika aku memiliki anak perempuan. Maka akan diberi nama, Ceysa Jangan Seperti Ibunya.
Tapi, tentu aku tidak akan memberi nama unik itu.
"Kasih tambahan Ceysa, Mah." ucapku kemudian.
__ADS_1
"Ceysa Humaira Arshad Warsi." usul mas Givan.
"Warsi artinya apa sih, Van. Arsyad juga, kek nama laki-laki."
Namun, wajah mas Givan langsung murung.
"Terserah aja deh." ucapnya ketus.
"Ceysa Asy Syam." mamah Dinda tersenyum lebar.
"Nanti bilang ke papah, mana tau dia punya usulan lain."
"Kenapa tak Al Gasyiyah aja? Mamah, kasih nama cucu kek surat pendek." mas Givan menyatukan alisnya seperti kebiasaan Chandra.
"Hari Kiamat artinya Al Gasyiyah itu, Van. Kau kek mana sih?!" mamah Dinda mengepal tangannya di depan wajah mas Givan.
Aku dan mas Givan tertawa lepas, melihat ekspresi geram mamah Dinda itu.
"Ya udah, ya udah. Terserah Mamah aja, aku salah terus." mas Givan menutup wajahnya sendiri.
Mas Givan bangun, lalu ia memilih untuk duduk di sofa panjang yang berada di hadapan ranjangku.
Ia meluruskan punggungnya. Kemudian, memainkan ponselnya.
"Mah... Di rumah ada." ia seperti ragu-ragu mengatakannya.
"Ada siapa?" mamah Dinda berjalan menghampiri anaknya.
"Ada Putri."
Deg....
"Putri ular?"
Aku langsung terkekeh, dengan pertanyaan mamah Dinda.
"Iya, Putri Vishaka."
Mamah Dinda sepertinya tahu, serial India tentang Putri Vishaka itu.
"Kenapa kau bawa? Ada Lend*r juga?"
Mas Givan terbahak, dengan memegangi perutnya.
"Lendra?" mas Givan memperjelas nama yang mamah Dinda samarkan.
"Tak ada, Mah. Putri aja. Putri sama aku sekarang. Baru sih jalan satu bulan."
"HAH???" Aku dan mamah Dinda berseru secara bersamaan.
"Weeeee......" tangis lepas dari bayi di dekapanku langsung menggema.
"Cep, Sayang. Yayah ngagetin aja tuh." aku mengayun-ayunkan tanganku.
"Dih... Kalian yang ngagetin, Yayah yang disalahin." mas Givan tidak suka disalahkan rupanya.
"Dari kapan sama Putri? Kok bisa sih?" tanya mamah Dinda.
__ADS_1
"Iya, bisa. Tanya aja ke Putrinya langsung. Aku mau ke Zuhdi dulu ya, Mah. Mau ngobrol sama yang pegang kerjaan aku juga." mas Givan sudah bersiap mengantongi ponselnya lagi.
Ia mendekatiku, lalu ai mencium bayi yang berada di dekapanku ini.
"Berapa persalinannya? Biar aku yang bayar. Tapi minta jemput Ghavi atau yang lain aja ya? Aku sibuk nih, malam juga mungkin pulang magiin." mas Givan berkata lirih.
"Tadi katanya sih satu juta pas, udah akte." jawabku sedikit berbisik. Karena mas Givan yang mengajak berbisik-bisik.
"Waktu Chandra satu juta dua ratus ya? Padahal di bidan yang sama." ia menghitung uangnya dalam dompet.
"Iya, laki-laki sama perempuan katanya beda." jelasku kemudian.
"Nih." ia memberikan uangnya padaku.
"Kau aja sih, Mas. Masa aku ngurus pembayaran." aku masih menahan uangnya.
"Aku malu lah, kau aja. Udah bayarin, masa harus ngurus juga. Kau aja, kau aja!"
Inilah mas Givan. Ia selalu malu, jika membayar sesuatu. Memberi ibu upah, ia selalu memberinya lewat diriku. Ia selalu mengatakan malu.
"Ya udah." aku terpaksa menerima uang pembayaran tersebut.
"Udah ya! Jangan minta belikan stroller baby, apa lagi minta jatah susunya sama Guehhh." ia merapihkan dompetnya, lalu memasukan lagi ke dalam sakunya.
"Kenapa sih? Kok gitu? Aku kan istrimu, Mas." ucapku, yang langsung mendapat pelototannya.
Aku tertawa lepas, aku begitu puas mengisenginya.
"It's my dream, not her." mas Givan langsung memasang ekspresi yang sama persis dengan yang tengah viral.
Mamah Dinda sudah terpingkal-pingkal saja. Ia begitu senang rupanya, melihat sulungnya bertingkah konyol seperti ini.
"Aku pergi dulu ya, Mah." mas Givan berlalu pergi, setelah membuat kami tertawa lepas.
Mamah Dinda berjalan mendekatiku. Lalu beliau duduk di tepian ranjang.
"Givan kasih berapa?" mamah Dinda menunjuk uang yang masih aku genggam.
"Kasih buat bayar persalinan aja. Katanya udah ini aja, jangan minta stroller baby, apa lagi minta jatah susu katanya." aku menceritakan hal yang jujur.
Mamah Dinda manggut-manggut, lalu ia meletakkan tangannya untuk mengusap-usap dagunya seperti berjenggot.
"Kira-kira, gimana ya ceritanya? Kok Putri bisa sama Givan? Terus, ke mana perginya Lend*r?"
Sepertinya, ini adalah sesi ghibah.
"Keknya Putri tersepona ketampanan mas Givan, Mah." aku melihat itu, ketika Putri datang dengan masalah dan kebenaran masa itu.
"Terpesona?" mamah Dinda memperjelas kalimatnya.
"Iya, Mah. Keknya Putri terpesona gitu." ulangku kemudian.
"Terpesona gitu! Tersepona! Tersepona! Apa nih!" mamah Dinda memasang wajah kesalnya.
Aku terbahak lepas. Ya ampun, salah berbicara saja sudah fatal rupanya.
...****************...
__ADS_1
Penasaran kan sama cerita Putri tiba-tiba nemplok sama Givan ini?
Duda anak tiga, Woy 😍 tampan mempesona 😘 membuatku tersepona 😘