Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD261. Pemuda


__ADS_3

Ada hal, yang bikin aku gak semangat lagi 😢 Doakan ya, harapanku lekas tercapai 🙏 Untuk masalah Crazy Up, aku pasti usahakan 😌 semoga, gak tamat cacat ya 🙏🙏🙏😢


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bilang lah ada Biyung gitu. Ribut Ma, Ma, Ma aja." ujar Giska dengan berjalan ke arah tangga menurun ini.


"Ma, abu marah." Hadi cukup jelas berbicara.


Ia menuruni tangga dengan digendong oleh Giska.


"Ya lah, pasti marah. Hadi tak mau dengar, abu jadi marah." ia menurunkan Hadi.


Aku langsung mengamankan tralis tangga kembali, agar Hadi tidak bisa bermain di tangga. Ini demi keamanan dirinya.


Ternyata Hadi pandai mengadu juga. Padahal ia jarang berbaur dengan penghuni rumah megah itu. Tapi ternyata masalah adu mengadu, ia memiliki kepandaian tersendiri.


"Hadi ini itu, nanan. Abu marah." ujar Hadi yang membuatku merasa geli sendiri.


"Nanannya jangan diberantakin semua. Nannya, satu-satu." terang Giska.


"Nanan apa sih?" aku menaruh wadah yang aku bawa, dia atas meja bar.


"Nanan tuh mainannya. Nan, mainan. Bahasa Hadi, beda sendiri." jelas Giska kemudian.


"Ini, dari mamah." aku menunjuk wadah yang aku bawa.


"Tau dianterin, aku tak perlu masak lagi." Giska tertawa kecil.


"Itu sih memang mau Adek."


Aku dan Giska menoleh serentak ke sumber suara.


Zuhdi berdiri di anak tangga paling atas. Ia bersedekap tangan dengan menatap anaknya sinis. Sepertinya, ini masih sesi ribut dengan anak.


"Abu.... Jangan marah-marah Hadi. Hadi kabur nih." Hadi berbicara sangat cepat.


Lihatlah? Cara ia berbicara lebih baik ketimbang Chandra, yang satu tahun lebih tua dibanding dirinya.


"Ya udah, sana kabur! Kaburnya pun, pasti ke rumah masyik atau nenek." Zuhdi nyolot pada anaknya.


Isakan kecil terdengar. Kemudian, kaki Giska dipeluk oleh anaknya itu.


"Ma... Abu buang di tempat sampah aja."


Aku ingin tertawa saja. Ada-ada saja, tingkah Hadi ini.


"Hadi aja yang Ma buang di tempat sampah." tukas Giska.


Sontak saja, Hadi langsung meraung-raung dengan menghentakkan kakinya ke lantai.


"Abu buang aja, Ma." Hadi menangis sembari mengoceh.


"Cengeng!" ledek Zuhdi, dengan memperhatikan anaknya itu.


"Hadi tak cengeng! Hadi kesel, Hadi marah." ia menatap ayahnya begitu tajam.


"Ayo berantem." Zuhdi menunjukkan otot lengannya.

__ADS_1


Tepuk jidat.


Absurd-absurd keluarga Adi's Bird ini.


Hadi langsung berlari ke arah tangga. Zuhdi langsung turun, ia membantu anaknya untuk naik ke atas tangga.


"Berantem. Jushhh, dughhh, bughhhh..." mulut Hadi mengoceh, dengan tangan kecilnya mulai memukuli ayahnya.


"Itulah. Tak pernah tentram." Giska geleng-geleng kepala, ia kembali ke kompornya.


"Kadang aku mikir, karma apa sih? Sampai anak aku modelan Hadi ini." Giska seperti menggerutu.


"Banyak karma kau. Beruntung Zuhdi sabar aja." ujarku dengan cekikikan.


Giska menoleh kaget. Lalu ia pun tertawa juga.


Tok, tok....


"Kakak ipar."


Aku mengerutkan keningku, suara tamu ini begitu dekat. Seperti bukan dari pintu depan.


"Ya..." Giska berjalan ke arah sudut.


Ohh, ternyata tamu tersebut dari pintu belakang.


"Kata ma, masak nasi belum?" pemuda yang sedikit mirip dengan Zuhdi itu muncul, dengan menenteng helm berwarna merah dan kantong kresek.


Ia tersenyum padaku, dengan kepalanya yang sengaja ditundukkan agar terkesan ramah.


"Udah. Udah masak juga, tapi belum masak air. Bang Adi rewel minum air galon, meski Aq*a juga. Mintain air ke ma aja, air yang dimasak buat bang Adi gitu." Giska sibuk di depan kompor kembali.


Pemuda tersebut muncul kembali, dengan ujung rambut yang basah.


"Sama apa, Kak? Biar sekalian dibawanya." ujarnya dengan membuka kantong kresek yang ia bawa tersebut.


Di dalam kantong kresek tersebut, terdapat wadah yang tertutup rapat. Sepertinya itu panas, sampai-sampai ia mencangkingnya menggunakan kantong kresek.


"Udah." sahut Giska kemudian.


"Ini ada masakan, Kak." ia menjejer wadah tersebut, di sebelah makanan yang aku bawa tadi.


"Dari siapa itu?" Giska menilik makanan yang pemuda itu bawa.


"Dari ma."


Orang tua royal, mertua yang tidak pernah lupa dengan dirinya. Lengkap sudah kebahagiaan Giska.


Pemuda tersebut melirik ke arahku. Namun, ia cepat-cepat membuang pandangannya saat aku menoleh ke arahnya. Aku jadi tersinggung. Jangan-jangan, ada yang salah dengan penampilanku.


Aku melihat pemuda tersebut mendekati Giska. Ia berbicara dengan berbisik-bisik pada Giska. Membuatku semakin yakin, bahwa penampilanku ada yang salah.


"Giska, numpang kamar mandi ya?" ucapku dengan nyelonong pergi ke kamar mandinya.


"Oh, ya Canda." Giska telat menyahutiku.


Aku bercermin pada kaca yang tersedia. Aku pun memutar rokku. Aku berpikir, aku datang bulan, lalu menjiplak di pakaian.

__ADS_1


Namun, tidak juga.


Aku langsung keluar dari kamar mandi. Ternyata, sudah tidak ada pemuda itu.


"Salting ya?" Giska tersenyum usil padaku.


"Ihh, tak juga ya." aku memanyunkan bibirku.


Ia tertawa lepas, "Itu adiknya bang Adi, dia yang paling bungsu. Masa SD sih, aku satu kelas sama dia. Tapi pas SMP, dia berhenti setahun. Jadi pas lanjut sekolah lagi, dia adik kelas aku."


Aku dan Giska malah lebih tua Giska enam bulan. Ya memang sih, masih di tahun yang sama.


"Siapa namanya?"


Giska bertepuk tangan sekali, "Dia pun nanya nama kau. Nanti kalau dia balik ke sini, kenalan aja ya?"


Ia menunjuk diriku, "Mana tau jodoh." ia tertawa renyah.


"Apaan sih?!" aku menutupi wajahku.


"Udah tak apa. Toh Chandra juga dijamin bang Givan, Ceysa paling makan sesendok. Tak mungkin Ardi tak mampu ngasih makan."


Oh, jadi namanya Ardi?


"Aku pulang aja nih." aku tak benar-benar ingin pergi.


Giska menahanku, "Nanti dong. Kalau udah kenalan sama Ardi. Adiknya bang Adi sih, insya Allah bener lah. Tak neko-neko, ngerokok aja tak."


Aku menghela nafasku, "Aku sadar diri lah, Giska. Dia bujang, aku ada anak dua."


"Tak apa lagi, kalau memang jodoh. Aku yang miskin aja, bisa dapatin anak orang kaya."


Aku dan Giska langsung menoleh ke sumber suara. Zuhdi berada di sana, ia tengah mengayun anaknya dengan kain jarik.


"Udah tidur itu, Bang?" tanya Giska, dengan menunjuk anaknya dengan dagunya.


Zuhdi mengangguk, "Udah mabok, ngamuk aja. Segala mau nyembelih bapaknya sendiri."


Aku menahan tawaku. Ya ampun, Hadi banyak tingkah sekali.


Brakkhhhhh....


Pintu belakang rumah Giska terbuka. Pemuda yang dikatakan sebagai adiknya Zuhdi itu muncul, dengan sebuah kendi yang membuat otot tangannya terlihat.


Tuh kan?


Pemuda sini terlihat lebih menggoda, ketimbang pemuda rumahan yang mirip dengan chef Arnold.


Hitam manis, tegap dan gagah, hidung tinggi, alis tebal dan bibir yang terlihat seperti selalu tersenyum. Rambut hitam ikal, yang dicukur under cut. Terlihat alim, sorot matanya teduh. Pasti ia rajin sholat.


"Sini dulu, Di." Zuhdi melambaikan tangannya pada adiknya tersebut.


Pemuda tersebut mengangguk, ia menaiki tangga untuk menghampiri kakaknya. Zuhdi membisikkan sesuatu, yang membuat pemuda itu tersenyum simpul.


Masya Allah, ternyata ia juga memiliki lesung pipi.


"Dek Canda... Sini dulu dong." Zuhdi menaik turunkan alisnya genit.

__ADS_1


Senyumnya pun, begitu usil. Membuatku salah tingkah sendiri.


...****************...


__ADS_2