Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD57. Diminta untuk tidur


__ADS_3

Aku menoleh ke belakang, berhadapan dengan Ghava yang masih memegang kamera.


"Kak, pulang!" aku bisa melihat harapan di mata Ghava.


"Ada apa ya?" bang Lendra kini berdiri di sampingku, dengan Chandra yang bersandar manja pada bang Lendra.


Chandra terlihat mengantuk dan kelelahan.


"Aku mau ngomong sama dia." Ghava tersenyum ramah pada bang Lendra.


Aku sedikit terkejut melihat reaksi bang Lendra.


Ia menyatukan telapak tangannya di depan dada sebisa yang ia lakukan, karena lengan tangannya sedang ia gunakan untuk menyangga berat Chandra.


"Maaf, saya tidak memberi izin." tolak bang Lendra begitu sopan.


"Mari..." bang Lendra merangkulku pergi, untuk melanjutkan menuju kamar yang bang Dendi tunjuk untuk tempat istirahat kami.


"Bareng aja ya? Tapi jangan waheho." bang Dendi membukakan pintu kamar, yang akan kami tempati untuk beristirahat.


Aku dan bang Lendra mengangguk secara bersamaan.


Bang Lendra melangkah masuk, dengan bang Dendi yang kembali ke luar dari rumah keluarganya ini. Aku pun segera mengikuti langkah bang Lendra, untuk masuk dan beristirahat di kamar ini.


"Chandra tolong tidurin, Dek. Abang udah payah betul. Terus kau tidurlah!" bang Lendra melepaskan sepatunya asal-asalan.


Kemudian ia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur ini.


Aku membujuk Chandra, agar mau menyusu dan terlelap. Karena anak ini, terlihat enggan untuk tidur meski sudah terlihat mengantuk.


Chandra sok kuat menahan kantuknya.


Aku ingin buang air kecil, tetapi Chandra sepertinya belum pulas. Hal ini sudah biasa, aku harus menahannya sebentar.


Hingga beberapa saat kemudian, aku langsung bergegas menuju ke toilet di rumah ini. Orang-orang masih terlihat sibuk, pestanya pun sepertinya akan terus berlanjut sampai malam. Karena kesepahamanku, pesta hajat masyarakat umum selesai sampai masanya mengantuk tiba. Tidak seperti pesta yang keluarga papah Adi gelar. Mereka lebih memilih pesta dengan berbatas waktu, agar tetap bisa tidur tepat waktu dan memberi perhatian pada keluarga masing-masing.


Deg.....


Jantungku hampir lepas dari tempatnya.


Ghava sudah menungguku di depan pintu toilet. Sepertinya, ia tadi melihatku ke luar kamar. Lalu mengikutiku sampai ke sini.


"Kak... Aku mau ngomong." ucapnya kemudian.


Aku memandang wajahnya sejenak. Sepertinya ada hal penting yang ingin ia sampaikan.


Aku mengangguk, lalu berjalan mendahuluinya. Kami tak mungkin mengobrol di depan toilet seperti ini.


"Gimana?" tanyaku, saat kami menjumpai beberapa kursi di tempat yang tidak terlalu ramai. Lalu aku duduk di situ, dengan Ghava pun mengikuti tindakanku.

__ADS_1


"Akak udah nikah lagi?" tanyanya kemudian.


Aku menggeleng, "Belum. Kenapa memang?" aku mengerti akan tuduhannya.


"Siapa bang tato itu? Kalau memang belum, pulanglah ke kami. Akak di luar rumah sama siapa? Tinggal sama siapa? Tinggal di mana? Apa aman Chandra di tempat baru Akak?" pertanyaan Ghava tidak bisa sabar.


"Buat apa aku pulang? Aku di sana cuma mantan kakak ipar." penjelasanku pada Winda tentang bang Lendra, sepertinya tidak perlu aku jelaskan lagi pada Ghava. Toh, Winda pun pasti akan bercerita dengan Ghava.


"Di sana tempat yang aman buat Akak, buat Chandra. Tak apa mantan kakak ipar pun. Tika yang orang lain aja, bisa jadi saudara ipar karena tinggal di sana."


Memang aku akui, keluarga mamah Dinda dan papah Adi kelewat baik. Anaknya pun memiliki sifat dan sikap yang cenderung baik. Namun, bagaimana pun ceritanya. Ini sudah tidak baik, jika aku seorang mantan ipar tetapi masih menetap di sana.


"Pintu rumah kami terbuka lebar buat Akak, buat Chandra." tambahnya, karena aku masih terdiam.


"Apapun yang terjadi, pulanglah ke kami. Kalau Jawa, bukan tempat tujuan pulang Akak. Setidaknya, jadikan hunian mamah sama papah jadi tempat bernaung Akak dalam segala cuaca. Pergi dengan keadaan marah, itu tak baik Kak." aku masih menyimak ucapan Ghava.


"Kak..." Ghava menggoyangkan lenganku.


Aku menoleh, memperhatikan wajah dewasanya sekarang. Ghava terlihat lebih dewasa dengan urat dan otot yang terbentuk sempurna. Wajah ini, adalah wajah yang tidak pernah berubah kembali. Maksudku, inilah rupa Ghava sebenarnya.


Setiap usia dan pertumbuhan, wajah otomatis akan berubah menjadi semakin terlihat dewasa dan berwibawa.


"Di mana sekarang Akak tinggal?" tanyanya kembali.


"Di Padang. Tapi kerjaan pindah-pindah kota terus, tadi dari Lampung langsung terbang ke sini. Malam ini pun, langsung terbang ke Lampung lagi. Kerjaan masih numpuk." aku menjelaskan tentang kebenaran hari ini saja.


Aku tidak tahu setelah ini aku akan tinggal di mana. Karena, kak Anisa dan bang Dendi sudah tidak tinggal di Padang lagi setelah ini. Ya memang, barang-barang mereka masih tertinggal di sana. Tapi dalam chat kami, kak Anisa mengatakan ia akan ikut ma Amah di sini. Itu cukup memperjelas, bahwa memang mereka tidak akan menetap di Padang lagi.


Aku mengangguk mengiyakan.


"Ya Allah, Kak. Apa Akak sanggup lambat laun begini terus?"


Aku tidak memikirkan jauh tentang hal ini. Bahkan, kehidupanku sekarang seperti diatur oleh bang Lendra. Jika bang Lendra tidak mengajakku bekerja, atau tidak mengarahkan aku tentang ini itu. Mungkin sekarang aku masih jadi benalu untuk kak Anisa.


"Kak, pulang ya kalau udah capek. Jangan sungkan-sungkan buat kembali ke rumah. Pegang kartu nama aku, telpon aku kalau Akak mau dijemput." Ghava memberikan kartu dari kertas, tetapi berbentuk seperti KTP.


"Iya, Va." aku tidak tahu harus membuka obrolan yang bagaimana.


Aku enggan untuk menanyakan kabar mas Givan atau nasibnya sekarang. Lukaku belum sembuh. Aku takut kembali bersedih, jika mendengar ia ternyata bahagia bersama Nadya sekarang.


Ya, yang aku takutkan adalah kabar bahagia darinya.


Itu akan semakin membuatku sakit.


"Kak, boleh aku cerita keadaan di rumah?"


Aku menoleh cepat, aku ingin menjawab tidak perlu. Namun, aku malah penasaran dengan kabar di sana. Meski batinku menolak, untuk menerima kabar ini.


"Mau ngebantah?!?"

__ADS_1


Aku tersentak, mendengar suara berat itu.


"Ngapain ke luar kamar? Tidur!!!" tegas bang Lendra dengan suara yang di tekan.


Ia berpendidikan. Ia tak mungkin membentakku dalam keramaian ini. Jelas itu akan menurunkan harga dirinya secara tidak langsung.


"Ya, Bang." aku langsung meninggalkan Ghava.


Aku berjalan cepat, agar bang Lendra tak mampu memberikan pertanyaan padaku di kamar.


Semoga saja bang Lendra bercakap-cakap dengan Ghava, agar ia tidak menyidangku dengan pertanyaan tidak sukanya.


"Berani-beraninya ke luar kamar. Disuruh tidur! Istirahat! Biar gak sakit. Malah keluyuran!"


Aku langsung menutup wajahku dengan selimut.


Kenapa bang Lendra tidak mengobrol saja dengan Ghava?


Kenapa ia langsung masuk kembali?


Kan aku terpojokkan, jika sudah seperti ini.


"Kelaparan kah kau? Berburu makanan? Iya?" aku merasa tepian ranjang di sisi yang aku tiduri, seperti tertekan benda yang cukup berat.


Selimut yang menutupi wajahku tiba-tiba tersibak. Hilang entah ke mana, karena di lempar bang Lendra begitu saja.


Ia sedikit kasar menurutku. Aku takut nyawaku lenyap di tangannya.


"Lapar?" suaranya tidak menggelegar, hanya saja aku takut melihat raut wajah marahnya.


"Tak, Bang." aku menjawab, agar ia tidak terus-terusan bertanya.


"Tidur!!!" suaranya penuh penekanan.


Tidak membentak, tetapi tidak lembut juga.


"Ya, Bang." hanya itu yang mampu aku sanggupi.


Ia bangkit, lalu kembali ke sisi lain ranjang ini. Ia merebahkan tubuhnya kembali, kemudian memeluk tubuh Chandra.


Kenapa bang Lendra seperti itu?


Apa ada alasan dibalik ia tidak suka dengan aku berbicara dengan seseorang?


Apa ia memang memiliki sifat protektif? Meski pada pekerjanya.


Atau memang, ia tak ingin aku sakit? Agar pekerjaan tetap berjalan dengan baik, tanpa merepotkannya?


...****************...

__ADS_1


Harus jawab. Canda nanya tuh, Kak. ☺️


Aku tau, scene delapan saudara ini gak akan bikin puas. Tapi setidaknya, salah satu dari mereka sekarang udah tau bahwa Canda udah punya perubahan.


__ADS_2