Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD384. Bertolak ke Kalimantan kembali


__ADS_3

Aku dibuat kalap dari tidurku.


"Ada apa sih, Mas?!" aku sampai mendadak bermandikan keringat karena kaget dibangunkan.


"Ya Allah, Canda." mas Givan duduk di tepian tempat tidur dengan tangan yang gemetar.


Apa ia kelaparan?


"Ada apa, Mas?" aku langsung menyentuh lengannya.


"Ada kebakaran di lapangan. Alat berat meledak tiga, aku harus ke Kalimantan lagi."


Ya Allah, cobaan apalagi ini?


Padahal baru saja kehidupan kami stabil. Padahal baru saja ekonomi kami terkendali.


Belum selesai dengan masalah pada papah Adi dan mamah Dinda. Kini usaha suamiku digetarkan.


"Aku ikut, Mas?" aku khawatir dengan keadaan suamiku.


"Aku bakal tambah repot, kalau kau ikut." setajam itu ucapan suamiku.


Kemudian, ia menyodorkan ponselnya, "Liat, begini di lapangan."


Ya Allah, nyala api begitu besar.


"Kau bayangkan aja, Canda. Udah mana batubara, dibakar. Apa tak awet panasnya?"


Aku baru ingat, bahwa usaha suamiku batubara.


"Aku ambil penerbangan ke sana lagi ya? Kita LDR dulu tak lama, aku janji sempetin buat kabarin kau." ia menggenggam tanganku.


Aku terpaksa mengangguk. Karena mau bagaimana lagi? Aku tengah mengandung, juga aku punya anak kecil.


"Minta tolong Ria dulu. Bilang juga, nanti dibehelnya kalau aku udah balik ke sini lagi."


Hah?


Mas Givan bangkit, lalu ia langsung mengambil ransel yang kami bawa tadi.


Tidak ada baju, hanya perlengkapan Ceysa dan jaket. Karena kami berpikir, di rumah ini baju kami masih banyak.


"Aku ke rumah mamah dulu, mau ambil beberapa dokumen. Terus aku langsung berangkat ya?" mas Givan mengeluarkan kebutuhan Ceysa dari ransel itu.


"Ya, Mas. Cium dulu." aku langsung menghampirinya.


"Ya Allah, Canda." mas Givan seperti keberatan, saat aku nyosor padanya.


"Nanti ajari anak kita jangan berat sama aku lah. Nanti aku gimana mau kerja coba?" mas Givan mengomel, saat aku menciumi seluruh wajahnya.

__ADS_1


Padahal ia mau aku cium, dengan punggungnya yang sedikit menunduk ini. Tapi ia protes saja.


"Mas kan ayahnya. Masa iya begitu ke anak?" aku mengusap-usap pelipisnya.


Gantengnya suamiku.


"Udahlah, Canda. Aku buru-buru ini." ia melepaskan tanganku dari pelipisnya.


"Doain aku ya, Canda? Doain usaha aku ya, Canda? Aku request doa nih, tolong wujudin di sholat malam kau sama waktu dhuha kau." kini mas Givan tengah memelukku.


Aku terharu. Jika ia meminta seperti ini. Pasti pikiran mas Givan tidak baik-baik saja.


"Iya, Mas. Pasti. Aku doain itu semua. Aku usahain sholat sunah juga buat doain Mas." aku mengusap-usap punggungnya.


Pelukan kami terlepas, "Ya udah, jaga diri ya? Jaga anak-anak, jaga kandungan kau." mas Givan memandangku sekilas, kemudian ia melangkah ke luar kamar.


Aku mengikutinya di belakang.


"Nov.... Jaga Kakak kau ini. Abang balik ke Kalimantan dulu."


Kenapa konflik kali ini bertubi-tubi? Ditambah dengan keadaanku yang tengah mengandung. Apa author sudah memikirkan ini semua? Apa author bisa menjamin ini aman untuk bayiku?


"Bang, ada tamu." Novi malah baru masuk ke dalam rumah.


"Siapa?" aku yang malah penasaran.


Kenapa malah si Nan itu berkontak pandang dengan Novi lama sekali?


"Nando! Kau tau tak?!" suara mas Givan meninggi.


Oh, Nando namanya. Dia teman mas Givan kah?


"Memang tak sama kau?" Nando tersebut duduk di samping mas Givan.


"Tak, kau antar aku ke bandara dulu. Terus kau cari ma aku." mas Givan memainkan ponselnya lagi.


"Daerah Banda Masen, kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe ya berarti?" Nando terlihat seram.


Ditambah lagi, sedari tadi ia seperti ingin memakan Novi.


"Iya. Abis antar aku, kau ke sana langsung. Kau pastikan keadaan ma aku. Fisik beliau kek mana, ada perban atau kakinya gimana. Foto dari jauh, tapi tak usah disapa. Biarin ma di sana, cuma liat keadaannya aja. Nanti kau kirim ke aku fotonya." mas Givan sampai seperti itu pada ibunya, tapi berbanding terbalik pada ayahnya.


Jika dilihat dari kesalahan. Bukannya papah Hendra lebih bersalah ketimbang papah Adi? Tapi mas Givan bisa bersikap baik pada papah Hendra, tapi begitu kejam pada papah Adi. Aku merasa, mas Givan berat sebelah. Ia lebih berat pada ayah kandungnya sendiri.


"Ok, siap. Aku tunggu di motor." Nando itu keluar dari rumah mas Givan lebih dulu.


Ya, aku kini menempati rumah barunya ini. Di setiap ruangan, memiliki pengharum ruangan otomatis. Aku jadi lebih sering bersin, karena wangi yang begitu mencolok.


"Nov, jaga Canda. Nitip dia, Ceysa tolong awasi aja. Kalau Canda tidur, Ceysa kasih ke Ria atau ibu aja, misal kau mau kerja atau sibuk." mas Givan menghadap ke Novi.

__ADS_1


Novi mengangguk, "Iya, Bang." Novi sampai menghela nafasnya.


"Aku pergi dulu, Canda."


Aku segera mencium tangannya, "Ya, Mas. Ati-ati, jangan lupa makan." aku memandang wajahnya.


Mas Givan mengangguk, "Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." aku dan Novi menjawab bersamaan.


Aku dan Novi memperhatikan mas Givan yang bonceng di motor besar itu.


"Nando itu liatin kau aja dari tadi, Nov." ucapku, dengan menatap kepergian motor itu.


"He'em, padahal aku pakai kerudung. Jadi ngerasa penampilan aku aneh." jawab Novi dengan menangkap Ceysa yang berlari ke arahnya.


Ceysa mengitari rumah baru sejak tadi. Entah sudah berapa lama ia keliling, karena aku langsung tertidur. Mas Givan bisa memaklumi kondisiku, yang memang cepat kelelahan dan mudah tertidur.


Ia menjaga Ceysa dan mengawasi Ceysa, jika aku tengah beristirahat. Ternyata ini hikmahnya jauh dari orang tua. Mas Givan mengerti akan aku, ketika berada di rantau orang.


"Nov, temenin ke papah yuk? Ceysa sama ibu aja, kasian dia tadi di pesawat megangin telinga aja." aku berbalik badan, dengan melangkah masuk ke dalam ruang tamu.


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Tidak terlalu malam, untuk mengunjungi papah Adi.


Bukan aku tidak iba pada mamah Dinda, bukan juga karena berat sebelah. Tapi, karena papah Adi yang aku ketahui keberadaannya. Jika mamah Dinda, aku tidak tahu di mana beliau. Nomornya pun tidak aktif.


"Tidur di sana aja yuk? Mumpung besok aku libur kerja. Pak wa baru sadar juga tadi. Lagi nangis aja katanya, susah ditenangkan."


Ayah mertua, Ya Allah. Hatinya begitu rapuh, ia mudah menangis meski laki-laki.


"Ya udah, aku siap-siap dulu ya? Pesen taksi online aja dulu, Nov. Lumayan jauh perjalanannya soalnya." karena rumah sakit ini, bukan berasa di kabupaten yang sama.


"Ya, Kak."


Aku menuju ke kamar, untuk bersiap-siap.


Saat aku sudah berada di kendaraan, mas Givan mengabariku. Alhamdulillahnya, ia masih mendapatkan tiket untuk penerbangan terakhir. Pukul delapan malam ini, pesawat akan lepas landas. Mas Givan tepat waktu, ia masih bisa ikut penerbangan kali ini.


"Ceritanya gimana sih, Nov?" aku menepuk paha Novi.


Aku sengaja membuka obrolan, karena aku sudah mulai mengantuk kembali.


Novi menoleh ke arahku, ia menarik nafasnya. Lalu, membuang nafasnya perlahan.


"Ini versi yang aku tau. Kata Giska, awalnya mulanya pak wa ini.....


...****************...


Kenapa 😳 lanjutkan! Tolong lanjutkan 🧐

__ADS_1


__ADS_2