Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD203. Curhatan Canda


__ADS_3

...Crazy Up 😍 nyantai 😉...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Terus kek gimana lagi? Sebelumnya ada masalah apa? Atau dia nutupin apa?" mamah Dinda ternyata menyimak ceritaku dengan baik.


"Sebelumnya biasa aja. Tapi pas baru satu bulan menikah itu, dia sering bangun malam buat main HP. Kadang lagi telponan, kadang lagi baca dokumen. Yang kepergok aku sih dua atau tiga kali. Tapi, aku yakin dia bangun malam itu berlanjut. Karena setiap aku bangun buat sholat subuh, kan aku dulu tuh yang bangun meski akhirnya aku tidur lagi. Nah, aku selalu dapati HP dia itu lagi di-cas. Masa kita tidur, itu HP-nya ditaruh di dekat bantal dia. Berartikan ada aktivitas, yang bikin HP itu tiba-tiba dicharger." ini yang selalu mengganjal, tetapi sulit aku tanyakan.


"Terus masa Givan dulu, sebelum Nadya itu minta tanggung jawab itu gimana? Kek mana Givan dengan HP-nya?" mata mamah Dinda begitu fokus memandangku.


Aku mengingat kembali, "Mas Givan biasa aja. Mamah kan tau, mas Givan main HP kalau lagi perlu aja. Dia tak melulu main HP. Dia biasa aja di rumah, makan, tiduran, main sama anak-anak sebentar, liat TV, nyantai, ngewedang. Mas Givan itu tak mencurigakan, Mah. Makanya aku syok betul, masa Nadya datang terus minta tanggung jawab." jelasku kemudian.


Beliau manggut-manggut, ia terdiam beberapa saat.


Hingga tarikan nafasnya begitu berat, "Bisa jadi, Givan ini memang tak niat. Sedangkan si Lendra itu, bisa jadi dia niat, dia udah merencanakannya."


Aku mencerna kata demi kata.


Benar juga.


Bang Daeng memintaku resign, dengan dia sendiri yang mengatur segalanya. Lalu, bang Daeng memintaku stay di kos saja. Tidak boleh ikut dengannya ke pulau Sulawesi. Padahal, bisa saja aku ikut dia bekerja. Bang Daeng tidak bekerja langsung menghadap bos, aku bisa stay di kamar hotelnya, sembari menunggunya bekerja.


Belum lagi tentang PT. Indo Walet Internasional itu.

__ADS_1


Belum lagi dengan Batam dan segala tentengan yang ia dapatkan, setelah ia pulang dari Batam.


"Mah... Tau tak gaji eksportir itu berapa?" aku teringat akan posisi bang Daeng pada perusahaan yang bergerak di bidang walet itu.


"Kurang tau, tapi coba Mamah searching dulu." mamah Dinda merogoh saku dasternya, lalu tangannya keluar dengan ponsel yang dilapisi softcase berwarna peach.


Pasti itu softcase baru lagi. Mamah Dinda gampang bosan dengan sarung ponsel.


"Gajinya lima jutaan, Dek." mamah Dinda menunjukkan layar ponselnya ke arahku.


"Mah, mungkin tak sih satu orang bisa kerja di dua perusahaan?"


"Posisi dia kerja di apa?" mamah Dinda masih memainkan ponselnya.


"Supply chain itu ruang kerjanya luas, Canda. Rasanya, di satu posisi aja dia pasti kerepotan. Karena bukan cuma satu aja tugasnya. Nah, eksportir juga makan waktu. Dia harus pandai cakap, kerjaan dia juga cukup rumit. Rasanya tak mungkin, aneh gitu." pandangan mamah Dinda seperti menerawang.


"Nah itu. Lendra pegang dua posisi, mana dia ada kerjaan di luar kantor. Orangnya itu tak bisa ditebak, dia misterius, dia licik Mah. Tapi aku cinta sama dia. Entah kenapa, sebelum dia ninggalin aku ini, aku selalu pengen dekat dia." aku mengakui perasaan yang aku pendam.


"Bisa jadi karena kau udah hamil. Masa Mamah hamil Gavin, Mamah ngerasa berat betul. Pengen selalu nempel papah, papah tuh sampai susah buat ke ladang, buat ngatur keadaan di sana, karena Mamah selalu pengen pegang papah."


Aku manggut-manggut, sepertinya sejak saat itu aku sudah mulai mengandung. Hanya saja, aku merasa tidak yakin lantaran aku jarang melakukan hubungan biologis dengan bang Daeng.


"Oh, iya. Mah... Mas Givan minta ibu aja yang urus Key. Kata mas Givan juga, ibu katanya tak mau dibayar."

__ADS_1


Sepertinya, malam ini akan menjadi malam yang panjang.


"Mah... Nitip Hadi. Aku mau ambil saus, sama makanan lain di dapur." ungkap Giska, dengan berlalu pergi.


Saat aku menoleh ke arah makanan yang aku beli tadi. Kantong-kantong pembungkus makanan sudah kosong. Jika aku dulu memiliki uang, pasti aku akan mengunyah terus seperti Giska saat menyusui seperti ini.


"Ibu tak mau dibayar, setelah tau Chandra cucunya sendiri. Ini kan toko kau mau digarap Zuhdi. Bukannya Mamah ngusir, maksudnya silahkan kalian tinggal di toko aja, biar tak ada fitnah. Nanti di bawah itu toko, bangunan di atasnya rumah. Kata papah tuh, mau dibikin tiga tingkat, karena tanahnya tak begitu luas. Ghavi udah carikan pendaftaran untuk agen elpiji. Karena agen itu agak sulit nih daftarnya, harus ada yang keluar dulu, baru ada agen baru masuk. Maksudnya, kalau agen kan dari sananya harga dari negara, lebih murah buat kau jual lagi. Kalau untuk Key, Key biar di sini, dia bukan anak kandung kau. Silahkan kau main ke sini, tapi untuk tidur, ya kau pulanglah ke ruko itu. Tenang kok, pasti aman dan nyaman. Nanti papah bantu sampai kau stabil, tapi jangan sampai pergi dari jangkauan Mamah papah. Untuk kewajiban Givan nafkahi Chandra, pasti Mamah kasih kalau Givan belum mampu. Mamah pun udah nerima uang Givan enam puluh lima juta, sekarang dia lagi ngusahain buat ongkos ke Kalimantan. Givan ternyata susah berdiri sendiri, dua perempuan yang berstatus sebagai istrinya nyatanya tak bisa bikin Givan geser dari terpuruknya. Maaf, jika ucapan Mamah bikin kau tersinggung. Nyatanya, Givan tetap salah kaprah. Mamah ngerasanya Givan ancur dalam karir ini, setelah tau dirinya diduain Fira. Udah mana kan, Fira duainnya sama Ghifar lagi. Givan sama Ghifar tuh dari kecil tak akur. Berantem terus, mana kan badan Ghifar tuh besar, jadi dia ngelawan terus sama abangnya sendiri."


Fira ibunya Key itu. Jadi mas Givan mendapat kehancuran, setelah ia putus dengan Fira itu?


"Terus mas Givan minta ibu tetap jaga Key, Mah. Dia kata, mungkin mampu bayar setengah aja."


"Tak usah. Biar ibu bantu urus Chandra sama jaga jaga toko aja. Ria nanti lanjut les privat juga, dia harus punya pendidikan meski tak sekolah, itu pun bakal Mamah sanggupi. Biar Key, nanti Mamah bakal carikan pengasuh yang cocok. Karena dia juga udah masanya sekolah, Key mau masuk TK. Nanti pengasuhnya juga bakal anter jemput Key. Sedangkan ibu atau Ria, mereka tak ada yang bisa bawa motor. Mana kan, TK di sini lumayan jauh. Gavin sama Gibran, senin nanti mulai masuk sekolah lagi. Kasian sebenarnya mereka pindah-pindah sekolah terus, mana ajaran di Brasil sama di sini beda." ternyata ini keputusan mamah Dinda.


"Mah... Sebetulnya, mas Givan minta aku jangan dekat-dekat. Dia khawatir, soalnya dia sadar sifat buasnya." beberapa kali mas Givan mengatakan tentang kebuasannya ini.


"Untuk sekarang, kau tetap di kamar atas aja ya? Bareng sama ibu. Ria kan tidur bareng anak-anak, jagain mereka kalau kebangun malam. Biar kau tetap aman, karena tau sendiri di sini laki-lakinya memang rakus-rakus." mamah Dinda terkekeh samar di akhir kalimat.


"Aku penasaran sama rumah tangga mas Givan. Kenapa ya, kok tak kek sama aku dulu? Dia sekarang kek siapa aku, siapa kau. Kek masing-masing aja gitu, Mah. Aku pernah liat beberapa kali, mas Givan tidur di karpet, kadang di sofa ruang tamu bareng Ghavi."


Aku mengingat kembali, akan kebiasaan mas Givan dulu yang harus tidur di tempat yang nyaman. Yaitu di ranjangnya, di kasurnya dan di bantalnya.


...****************...

__ADS_1


Kasian tau sama Givan. Ternyata, yang kita sangkakan itu melesat semua. Givan bukan benar-benar selingkuh. Uang keuntungan toko pun, ia simpan buat bikin rumah. Masalahnya satu ternyata, Givan kurang berkomunikasi. Mengambil rencana dan keputusan satu pihak. Sampai Canda ada bilang, mungkin dia bakal bertahan kalau Givan ada bilang.


__ADS_2