Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD51. Batal izin


__ADS_3

"Nih, Dek. Minta tolong sekalian gilingnya."


Aku begitu syok, melihat bang Lendra melucuti pakaiannya di depanku dan kak Raya. Ia tanpa malu, hanya mengenakan ce*ana d**am saja dengan menyerahkan pakaian kerjanya padaku.


Setelah aku menyambut pakaian itu dengan gemetar, ia langsung menarik celana pendeknya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya.


Apa ia tak memiliki rasa malu?


Tunggu dulu!


Aku menjumpai sesuatu di bagian pahanya.


Ia memiliki tato lain di sana. Ia pun memiliki tanda lahir di bagian belakang tubuhnya. Tanda hitam itu berwarna lebih gelap dari kulitnya, yang terlihat jelas sekali di bagian paha kanan belakang.


Tato lain di bagian tulang paha bagian kiri atas. Tato itu seperti tulisan yang membentuk garis lurus. Aku tidak tahu pasti, tulisan apa yang terukir dengan tinta di situ.


Tapi laki-laki ini, sepertinya suka sekali mengkoleksi tato.


"Besar, Coy. Tenang, pasti diisi penuh rongganya."


Aku membulatkan mataku, kala kalimat itu begitu mulus ditujukan untukku.


"Syok betul si Canda." tambah kak Raya, membuat aku merasa campur aduk.


Aku malu, tapi aku pun merasa kesal.


"Abang tak punya malu betul keknya." aku berucap sembari melangkah ke tempat cuci.


Aku sekalian menggiling baju milik kak Raya, Chandra dan juga bang Lendra.


Aku merasa, ada orang yang mengikutiku ke ruang cuci ini.


"Yung....." teriak Chandra, ia melangkah dengan dibantu oleh bang Lendra.


Ia hanya mengenakan diapers saja. Chandra memiliki banyak biang keringat, membuat dirinya sedikit rewel karena gatal.


Ketiak Chandra disangga oleh kedua tangan bang Lendra. Membuat bang Lendra dalam posisi sedikit merunduk.


Ia begitu girang, saat bisa menggapai kakiku.


Bang Lendra tertawa lepas, ia sepertinya ikut senangnya saja melihat Chandra ceria seperti ini.


"Iyung kau gampang keselnya, Nak. Tengok Mangge lepas celana aja, udah amburadul dia." ia menggendong Chandra, lalu ia berdiri di dekatku.


Amburadul bisa diartikan seperti kacau. Itu seperti bahasa dari Jawa, tapi tidak bisa diartikan secara pasti.


"Aset itu tuh, main pelorotin celana aja. Tak malu apa?" aku masih memasang wajah kesalku.


"Gak." ia menoleh dengan tatapan polosnya.


Lalu ia kembali tertawa, saat mendapatiku masih melirik sebal padanya.


"Pakai celana da*am juga. Lagi pun di dalam ruangan. Tapi kalau di pantai, pantas juga." ia menjelaskan dengan senyum mautnya.

__ADS_1


"Keknya kau mesti beli kartu perdana sama kuota, Dek. Takut besok-besok Abang izin ke luar sama Venya, biar kau yang urus kerjaan. Kan biar nanti kita bisa komunikasi. Nanti Abang bantuin cara kirim laporannya."


Hm, begitu rupanya?


Ia akan izin bekerja untuk Venya itu.


Aku ini orang baru. Catatan pun aku masih belum paham, tapi dengan mudahnya ia ingin melempar tugasnya padaku.


"Kalau Abang izin, kita izin bareng aja. Sekalian tak ada yang kerja!" ketusku dengan meninggalkannya dari area tempat cuci ini.


Aku tidak suka dengan sikapnya yang melemparkan tugasnya seperti ini.


Aku paham ia bos di sini. Bukan berarti dirinya bisa semena-mena, karena dirinya berstatus sebagai atasan kami.


Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Biarpun hidup tanpa ponsel juga, aku masih bisa merasakan sedikit kebahagiaan. Malah aku khawatir, jika mengaktifkan nomorku lagi. Aku tidak akan tentram, karena melihat kebahagiaan mas Givan dan istri barunya.


Memang, harusnya pun aku tidak peduli.


Apa baiknya, aku mengganti nomor aplikasi chatting juga? Agar di nomor baru nanti, aku hanya menyimpan kontak orang-orang baru.


Tapi tetap saja, sosial media pasti akan menghancurkan kebahagiaanku.


"Ngambek!!!" bang Lendra mendekat ke arahku, kemudian ia menaruh Chandra di tengah-tengah ranjang.


"Ammak kau ngambekan, Dek." bang Lendra memusatkan perhatiannya pada Chandra.


"Bukan ngambek. Abang kan punya tanggung jawab di pekerjaan ini. Malah bilang mau izin, mau sama Venya. Malah titipin pekerjaannya sama aku, aku orang baru Bang. Aku aja belum paham tentang tugas-tugas aku. Dari awal juga Abang bilang, kita mampu bawa Chandra. Nanti Chandra sementara waktu dipegang kak Raya dulu, pas kita lagi kerja. Tapi sekarang, malah Abang yang milih buat izin. Nanti kek mana caranya aku kerja?" aku berbicara dalam tempo cepat.


Ia tidak menjawab, bang Lendra malah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Chandra pun mengikuti tindakannya, ia merebahkan kepalanya di atas dada bang Lendra.


Aku hanya terdiam, lalu aku memilih untuk memunggunginya. Aku sudah kesal padanya, ia tidak konsisten.


~


Esok harinya, kami bekerja seperti biasa. Namun, kali ini memakan waktu sampai lepas tengah hari. Jam dua siang, kami baru sampai di hotel kembali.


Aku memilih untuk segera menidurkan Chandra, apa lagi perutnya sudah terisi. Setidaknya, yang penting jam makan dan jam tidurnya teratur.


Sedangkan kak Raya, ia izin untuk mengelilingi kota ini. Ia pergi seorang diri, untuk mencari oleh-oleh untuk pulang ke daerahnya nanti. Ia adalah orang Medan, tapi ia merantau ke Padang.


Namun, aku merasa terganggu dengan ranjang yang sedikit bergoyang.


Aku mengedarkan pandanganku, untuk melihat laki-laki dewasa yang tadinya berada di ruangan lain.


Syok.


Aku mendapatinya tengah berada di sampingku. Ia tengah duduk dengan bersandar pada kepala ranjang, tetapi pandangannya malah fokus pada diriku. Satu tangannya masuk, seperti beraktivitas di bawah naungan selimut tebal ini.


Apa yang ia lakukan?


Gerakannya mencurigakan, seperti gerakan mas Givan yang akan mengeluarkan cairannya di atas perutku. Seperti mengurut berulang, di bagian tengah-tengah tubuhnya. Sedangkan tangannya yang lain, tengah bergerak di atas layar ponsel.


"Ngapain kau, Bang? Ngocok?" aku memberinya pelototan tajam.

__ADS_1


Namun, ia malah menunjukkan layar ponselnya.


Gila!!!


Dia mempertontonkan film dewasa padaku. Ia menunjukkan isi layar ponselnya itu.


"Ngusap aja, gak ngocok." terangnya dengan menyibakkan selimutnya.


Aku beringsut dari tempatku. Aku memutar posisi berada di sisi lain Chandra. Aku takut dengan laki-laki dewasa itu.


Bang Lendra benar-benar tidak bisa ditebak.


"Ya kenapa malah ke sini?!" aku masih menatapnya tidak percaya.


"Ini ranjang Abang, Dek."


Sungguh, aku muak padanya.


Aku mencoba memejamkan mataku, biarkan sementara waktu seperti ini. Aku tak mau melihat aktivitas kotornya.


Tinggg.....


Terdengar suara bel berbunyi.


Apa kak Raya sudah kembali lagi?


"Duh, ganggu aja." bang Lendra bangkit dari ranjang, lalu ia berjalan menuju ke luar kamar.


Kamar hotel ini, seperti rumah sederhana. Aku bahkan baru tahu, ada kamar hotel seperti ini.


"Kangen, Len."


Aku membuka mataku, saat mendengar suara asing itu.


Itu bukan kak Raya.


Wanita itu begitu agresif, ia tengah berusaha untuk bisa mencium pipi bang Lendra. Bibirnya sampai menirukan paruh burung, agar bisa mencium pipi bang Lendra.


Namun, bang Lendra terlihat tak peduli dengan wanita tersebut.


Ia duduk kembali di tempatnya, dengan memainkan ponselnya kembali.


Aku pura-pura memejamkan mataku, saat melihat wanita itu melirik ke arahku. Aku akan malu, jika menyaksikan aksi mesum mereka.


"Len...."


Aku membuka mataku sekejap, tetapi malah kejutan lain membuatku sulit bernapas.


Wanita itu sudah duduk di pangkuan bang Lendra. Namun, posisinya tidak mengan*kangi bang Lendra. Ia seperti duduk manis di ayunan.


Tepat sekali, aku mendapatkan sial. Karena wanita itu......


...****************...

__ADS_1


Wanita itu apa???? 😳 Nanggung tuh 😂🤭


__ADS_2