Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD366. Menjemput Ceysa


__ADS_3

"Nyari Ceysa sama adik ipar Saya." ucapku dengan ramah.


Aini tidak mengenakan niqabnya. Wajahnya biasa saja, tidak cantik dan cukup enak dipandang juga. Maaf, aku tidak bermaksud membuat tersinggung.


Tapi jika dibandingkan. Ya, lebih lumayan diriku.


Ah sudahlah. Jangan menambah dosa.


"Ah, iya. Tuh Ceysa." pintu dibuka lebih lebar.


Setelah aku masuk, pintu ditutup kembali. Mungkin, agar anak-anak tidak keluar.


"Adek Ceysa, dipanggil nenek. Yuk pulang." aku berjalan mendekati beliau.


"Yuk, Di?" Ceysa malah mengajak Hadi.


"Nanti ya, Hadi bilang ma dulu. Biar pintunya tak dikunci pas Hadi pulang." Hadi langsung menciptakan getaran di rumah panggung ini.


"Adiiiii...." Ceysa berlari mengikuti Hadi.


Aku membiarkan mereka masuk di salah satu kamar. Terdengar, suara Giska yang mengomel tiada henti.


Aku memilih duduk di kursi tamu. Dengan membereskan mainan anak-anak di jangkauan tanganku.


Yang membuatku tidak nyaman, Aini malah ikut duduk menemaniku.


"Kenapa tak datang pas kami undang?"


Jadi, ia masih merasa bangga dan ingin memamerkan padaku bahwa ia bisa menikah dengan Ardi?


"Aku dirawat di rumah sakit lagi masa itu." aku menjawab sesuai kebenarannya.


Giska muncul, dengan perut yang sudah begitu bulat itu.


"Aku tadi cuma sebentar aja di acara, aku sakit pinggang dari semalam." Giska langsung duduk di sampingku.


"Kenapa sih? Udah waktunya lahiran kah?" aku duduk dengan menekuk satu kakiku, lalu menghadap ke arah Giska.


Tanganku terulur, untuk mengusap perut besarnya itu.


"Semalam dipakai bang Adi. Setelahnya sakit pinggang terus sampai sekarang."


Ya, mengerti. Ditambah lagi, Giska adalah orang yang jujur.


Aku tertawa ringan, "Sama kek waktu aku ngandung Ceysa. Sakit terus kalau berhubungan. Minum air hangat, jalan-jalan sebentar, udah mendingan kok."


"Ya, biasanya pun begitu. Tapi tak reda-reda dari semalam tuh." Giska sampai mengganjal pinggangnya dengan bantal.


"Aku pun gitu, Kak. Minum obat yang dari bidan aja, mendingan juga kok."


Heh?


Aini sudah mengandung?


Ehh, bagaimana konsepnya?


Perasaan, mereka menikah belum tembus satu bulan.

__ADS_1


"Ya kau kan masih tiga bulanan, wajar kek gitu. Malahan tidak disarankan untuk berhubungan badan di trimester pertama."


Aku menelan ludahku, mendengar ucapan Giska.


Ohh, jadi lebih baik janda anak dua dong ya? Aku merasa bangga dengan diriku sendiri, karena aku mampu menjaga kehormatanku dan menjaga nashab anak-anakku.


Baru kali ini, aku bangga dengan diri sendiri. Selebihnya, aku merasa IQ-ku dibawah normal.


"Ayo, Ceysa." Hadi muncul dengan menggendong tas ransel karakter jerapah.


Giska mendengus sebal. Aku pun mengerti, dengan situasi sekarang.


"Besok Ma angkutin ranjang baru Hadi juga! Sana tinggal di nenek sekalian!" Giska mulai meninggikan suaranya.


"Iya, Ma. Minta nenek, ranjang Hadi dipindahkan ke sebelah ranjang Ceysa."


Dasar, ia menuruni sifat kentir ayahnya.


"Hadiiii!!!!" teriak Giska begitu lepas.


"Hadi mau main sama Ceysa, Ma." Hadi mulai merengek layaknya anak-anak.


"Yuk, ain." mata Ceysa mekar dengan alisnya yang sesekali bergerak.


Alhamdulillah, aku diberi kenang-kenangan terindah itu.


Ceysa menarik lengan Hadi, "Yuk." mereka berjalan ke arah pintu.


"Aduhhh, pusing betul ngurus kau." Giska malah berjalan ke dalam kamar.


"Ya itu, Bang. Segala udah bawa ransel." Giska muncul dengan mengarahkan ponselnya ke arah anak-anak.


"Ish, Hadi. Jangan nakal lah! Tungguin Ma, kasian adek bayinya. Temenin Ma, sampai Abu balik." itu adalah suara Zuhdi yang berasal dari ponsel Giska.


"Hadi mau ke nenek, Abu." terang Hadi tertuju pada layar ponsel tersebut.


"Iya nanti sama Abu. Biarin adek Ceysa pulang dulu, nanti abis maghrib Hadi datang ke Ceysa sama Abu. Temenin dulu Ma, kasian adeknya Hadi nanti nangis dalam perut."


Aku bisa melihat raut kecewa Hadi. Namun, anak itu mengangguk menurut. Ia berjalan ke arah ibunya, dengan sorot mata mengarah pada Ceysa.


"Nanti Hadi ke Ceysa abis maghrib. Ceysa pulang aja dulu, kan mau maghrib." anak yang pandai.


Aku segera bangkit, lalu mendekati Ceysa yang kebingungan.


Aku menggendong Ceysa, "Iya, Ceysa pulang dulu ya? Nanti abis maghrib Hadi ke sana ya?"


"Iya. Dadah Ceysa, ati-ati ya?" sahut Hadi.


Aku membuka pintu rumah ini, "Iya, dadah." aku langsung keluar sebelum Ceysa mengerti bahwa ia dibawa pulang.


Bisa-bisa, nanti Ceysa mengamuk lagi.


"Mau nana?" tanya Ceysa, saat aku mulai berjalan menyusuri perkampungan ini.


"Ke rumah nenek. Oh iya, bang Chandra punya mainan buat Adek Ceysa loh." aku sengaja mengalihkan perhatiannya, agar Ceysa tidak teringat pada Hadi yang tidak ikut pulang dengannya.


Lalu, sepanjang perjalanan kami mengobrol. Hingga tak terasa, akhirnya aku sampai juga di rumah mamah Dinda sebelum waktu maghrib.

__ADS_1


"Dari mana, Dek?" mas Givan sudah berada di dalam rumah.


Ia tengah menjejerkan beberapa kertas, di atas karpet ruang tamu ini.


"Adi, Yah. Ain nana." jawab Ceysa yang masih berada di dekapanku.


Aku melewatinya, aku tidak berniat melepaskan Ceysa di sini. Aku takut Ceysa mengganggu kegiatan ayah sambungnya.


"Ehh, Ceysa belum mandi?!" pertanyaannya cukup mengagetkan.


Aku memutar tubuhku ke arahnya. Karena aku, sudah beberapa langkah melewatinya.


"Belum, Yah. Kan Ceysa baru pulang main."


Alisnya menyatu, ia terlihat tidak suka dengan jawabanku.


"Ya udah, sana cepat mandikan anak-anak dulu! Dibawa orang tuh, dimandikan dulu kah apa!" di akhir kalimat mas Givan seperti menggerutu.


Aku menghela nafas. Aku tak mau meminta maaf, apa lagi merasa bersalah karena lalai memandikan anak-anak.


"Tadi Ceysa dibawa Zuhdi, sebelum aku selesai acara." jelasku kemudian.


"Kan kau bisa jemput Ceysa lebih awal. Bukannya udah waktu mepet maghrib gini. Udah tak baik anak-anak mandi terlalu sore."


Mas Givan mulai menyebalkan. Ditambah lagi, aku selalu salah menurutnya.


"Iya, iya, iya." jawabku ketus, dengan menghentak-hentakan kaki menuju kamar.


Semoga aku panjang umur, menghadapi mas Givan yang lebih banyak menyebalkannya ketimbang menyenangkan.


Beberapa saat kemudian, acara samadiah di surau telah selesai. Aku masih berkumpul dengan keluarga bang Daeng, dengan membahas masalah Ceysa yang akan dibawa ke Makassar ini.


"Jadi begitu ya? Aku kira boleh nih." ujar Ferdi, saat mendengar penuturanku.


"Buat pelipur lara Dato, maksudnya sih." tambah dato kemudian.


"Iya, Dato. Mungkin kapan-kapan, kami ngunjungin ke sana." sahutku kemudian.


"Ya udah, gak apa. Besok kami siap-siap balik ke sana. Nitip Jasmine dan juga Ceysa ya? Jaga baik-baik kenang-kenangan dari Lendra."


Air mataku sudah menggenang.


"Tanpa diminta pun, aku pasti jagain mereka." sahutku dengan suara yang tidak stabil.


"Udah, jangan nangis lagi. Kasian Lendra, Canda." mangge Yusuf menepuk pundakku.


Aku hanya mengangguk. Aku tertunduk dengan mengusap air mataku.


Yang tenang di alam sana, Bang Daeng. Aku dan keluarga, sudah menyanggupi amanatmu.


"Canda. Sini dulu, cepat!"


Hufttt, aku sudah pusing saja menghadapi keseriusan mas Givan yang tidak bisa diajak bergurau kali ini.


...****************...


Givan ribut bae 🙄

__ADS_1


__ADS_2