Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD271. Ardi pamit


__ADS_3

"Maaf ya ganggu?" bang Daeng menarik sudut bibirnya ramah.


"Mangge..." Chandra sudah menarik-narik baju manggenya saja.


"Sini." bang Daeng membuka tengah-tengah kakinya.


Chandra duduk di sana, tanpa pangku pada bang Daeng.


"Mangge bawa mainan, ada di mobil. Nanti dipindahin ya?" ucap bang Daeng pada Chandra.


"Siapa, Dek?" bang Ardi masih menoel-noel pinggangku, karena rasa penasarannya.


Aku mendekatkan mulutku ke telinganya, "Ayahnya Ceysa." bisikku kemudian.


Bang Ardi mengangguk, ia membenahi posisi Ceysa duduk.


"Ceysa... Sini, Nak. Ini Mangge loh. Sini Deket Dato." mangge Yusuf menepuk tempat di dekatnya.


Ceysa mendongak menatap wajah bang Ardi, lalu ia menoleh ke arahku.


"Mamam." Ceysa menunjuk wajah bang Daeng.


"Mamam?" aku kebingungan.


"Itu ayahnya Ceysa, bukan makanan." terang bang Ardi.


Ceysa menggeleng, "Yayah Pan."


Aku dan bang Ardi menepuk jidat bersama-sama.


Yang ia tahu, ayah ialah mas Givan.


"Bukan ayah Givan. Itu bapaknya Ceysa." jelas bang Ardi kembali.


Ceysa menatapku kembali. Ia mengedipkan matanya begitu polos, lalu ia menoleh ke arah bang Daeng yang tersenyum padanya itu.


Ia menggeleng, "Bapa Pi."


Bapa ya Ghavi.


"Itu Mangge, Dek. Manggenya Ceysa." aku buka suara, agar Ceysa mengerti.


"Ge?" ia menatapku dengan mata yang sama dengan mata yang tengah memandang lurus itu.


"Apa itu mangge, Dek?" bang Ardi menatapku dengan penuh tanya juga.


"Abang jangan ikut-ikutan nanya, aku lagi bingung ini." aku memukul pelan lengannya.


"Apa yang Adek bingungkan?" bang Ardi kadang-kadang membuatku gemas.


"Bawa sini coba Ceysanya, Canda." pinta mangge Yusuf kemudian.


Aku menggaruk kepalaku, "Susah dia kalau udah anteng gini."


Aku menatap Ceysa yang bermain ponsel, dengan bersandar pada dada bang Ardi kembali. Ceysa tidak peduli dengan tamu baru itu.


"Dek... Duduk di sana itu. Main sama...." bang Ardi menoleh padaku, "Siapa tadi namanya, Dek?" tanyanya padaku.


"Mangge sama Dato." jawabku cepat.


"Mangge sama Dato, Dek." bang Ardi merapikan rambut Ceysa.


"Dak mamam." jawab Ceysa, tanpa memalingkan pandangannya.


"Bukan suruh mamam. Main sama mangge." ujar bang Ardi.


Ceysa menaruh ponsel itu. Ia melihat sekelilingnya, kemudian tangannya menunjuk kantong plastik yang berada di bawah meja.


"Tu... Dek dah mamam." Ceysa manggut-manggut beberapa kali.


Apa ya itu?

__ADS_1


Oh, ya ampun.


"Itu mangga, Ceysa. Mangga sih, memang Ceysa udah makan. Itu Mangge, bukan mangga. Mangge itu... Ya itulah..." aku menunjuk bang Daeng.


Kemudian aku menunjuk kantong plastik yang berada di bawah meja, "Itu mangga, buah. Beda, Ceysa." lanjutku kemudian.


Orang-orang dewasa di sini malah tertawa geli. Bukannya membantuku membuat anak ini mengerti.


"Oooo...." hanya itu yang keluar dari mulutnya, dengan kepalanya yang manggut-manggut tak berhenti-henti.


"Turunin coba, Bang." aku menepuk paha bang Ardi.


Bang Ardi langsung mengangkat tubuh Ceysa. Namun, Ceysa malah menjatuhkan kepalanya ke belakang. Membuat bang Ardi urung melakukannya.


"Takut lehernya putus loh, Dek. Tak mau dia." bang Ardi menoleh ke arahku.


"Coba Abangnya yang pindah ke sini. Kami dari Banda Aceh, sengaja pengen ketemu Ceysa. Nyampe sini udah sore, pasti gak boleh jenguk kelamaan sama pak Adi." ungkap mangge Yusuf, dengan menepuk tempat di sebelah bang Daeng.


Ia menggeser posisinya, mungkin agar bang Ardi segera pindah ke sana.


Bang Ardi terlihat canggung, ia menoleh ke arahku dengan menggaruk kepalanya.


"Sana coba, Bang." pintaku lirih.


Bang Ardi mengangguk, lalu ia bangkit dengan mengangkat tubuh Ceysa yang lengket padanya itu.


"Abu...." rengek Ceysa, mungkin ia enggan untuk pindah posisi.


"Mangga pengen main sama Ceysa katanya." bang Ardi masih menggeser posisi, agar sampai di sebelah bang Daeng.


"Mangge, Abang! Bukan mangga!" aku geram betul, pada keluarga Zuhdi ini.


"Oh, iya." ia cekikikan sendiri.


Mereka bertiga sudah duduk berjejer bagai di angkot yang penuh sesak.


"Aku bikin minum dulu." aku bangkit, hendak berlalu ke dapur.


Aku mengangguk mengerti, setelah mendengar pesan dari mangge Yusuf.


Saat aku kembali, mereka tengah bercakap-cakap. Namun, langsung berhenti begitu saja saat aku datang.


"Silahkan diminum." aku menaruh tiga gelas tersebut, di hadapan mereka satu persatu.


Ceysa turun dari pangkuan bang Ardi. Kemudian, ia mengangkat gelas berisi air putih tersebut lalu menempelkannya di bibirnya.


Aduh, aduh, aduh.


"Ceysa itu buat Mangge." aku menekan suaraku.


Rasanya jidatku sudah bonyok, karena banyak menepuk jidat kali ini.


Bang Daeng terkekeh kecil, "Biarin lah, Dek." ucapnya kemudian.


"Permisi." bang Ardi pindah tempat kembali.


Kesempatan untuknya, saat Ceysa turun dari pangkuannya itu.


"Abang pulang ya?" bisiknya, saat ia berada di sampingku.


"Katanya pengen kenal." aku pun berbisik padanya.


"Udah kenalan tadi. Takut jatuh cinta, kalau duduk terlalu mepet."


Ya Allah, lambungku rasanya kembang-kempis menahan tawa.


"Ya udah. Bawain lagi mangganya nanti." ujarku dengan memamerkan gigiku.


"Ehmm, ngelunjak!" bang Ardi membogem kepalaku pelan. Namun, dialasi oleh punggung tangannya dulu.


"Udah ya?" ia bangkit, kemudian aku segera memberi jalan.

__ADS_1


"Ehh, mau ke mana?" tanya mangge Yusuf dengan pandangan tertuju pada bang Ardi.


"Pamit pulang, Pak." jawab bang Ardi kemudian.


"Memang bukan suaminya Canda?" mangge Yusuf terlihat begitu heran.


Ceysa menunjuk bang Ardi, "Tu, Abu." Ceysa menoleh pada datonya.


"Abu?" mangge Yusuf mengerutkan keningnya, dengan memandang Ceysa.


"Abu apa?" tanyanya kemudian, dengan menggulirkan pandangannya padaku.


"Abu gosok." bang Ardi memberi senyum terbaiknya, lalu melempar pandangan padaku.


Aduh, bonyok sudah jidatku.


Kini aku menepuk jidatku kembali.


Bang Daeng tertawa geli. Ia tahu sepertinya sebutan abu itu, tapi ia enggan menjelaskan.


Tadi perihal mangga, mangge. Sekarang tinggal abu dan abu gosok.


"Pamit dulu semuanya." bang Ardi menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Ya, Bang. Ati-ati." sahutku kemudian.


Ia mengangguk, lalu berjalan ke arah depan. Ia tidak membawa motornya. Ia menebeng pada Zuhdi, yang berkunjung ke rumah mamah Dinda.


Sepertinya, Zuhdi juga mengantarkan mangga untuk mertuanya.


"Ceysa... Masa mainan air?!" aku baru mengetahui, ternyata Ceysa tengah mengobok-obok gelas minum untuk manggenya.


"Abu...."


Aduh, Chandra malah kabur mengejar bang Ardi.


"Bang... Sini sama Mangge." aku berlari mengejar Chandra.


"Biar aja sama Mangge." mangge Yusuf berlari mendahuluiku.


Aku menoleh ke belakang, terlihat Ceysa memandangku dengan mata polosnya.


"Iyung...."


"Ya, Dek. Biyung balik lagi nih." aku berjalan ke sofa tamu kembali.


Bang Daeng masih duduk manis. Netranya tengah memperhatikan Ceysa.


"Ceysa basah semua, Biyung ambil baju ya? Ceysa tunggu ya, duduk sini sama Mangge." aku membawa anak itu, untuk dekat dengan bang Daeng.


"Sini, Sayang." bang Daeng menarik tangan anaknya, agar duduk di dekatnya.


Ceysa menoleh ke arah bang Daeng. Matanya selalu memandang wajah bang Daeng. Begitulah Ceysa, ketika melihat orang baru.


"Bentar ya?"


Bang Daeng tersenyum simpul, dengan menganggukkan kepalanya.


"Bu..." aku menunjuk ke arah belakang.


Ibu yang tengah duduk di dekat etalase, memberi anggukan kepala. Ia tengah menjaga Zio dan mengobrol dengan Ria.


Ria sakit, setelah berpergian jauh itu.


Aku langsung menaiki tangga, untuk mengambil pakaian Ceysa.


Bagaimana caranya Ceysa mengenal manggenya?


Ia begitu asing dengan ayah kandungnya sendiri.


...****************...

__ADS_1


Mangga, abu gosok 😆


__ADS_2