
"Mas, yang setia ya? Kasian sama aku." aku membingkai wajahnya, "Aku sampai kek gini demi melahirkan anak Mas." aku mengusap-usap pipinya.
Mas Givan melepaskan tanganku, "Iya, Cendol. Aku janji tak lama." giliran mas Givan yang membingkai wajahku, kemudian langsung memberiku banyak ciuman.
"Jangan berani angkat-angkat Ra ya? Minta tolong Papah, atau Ibu Muna." mas Givan menatap papah Adi dan ibu Muna, yang berada tak jauh dari kami.
Kami tengah mengantarkan mamah Dinda, mas Givan dan juga Ria.
"Van.... Jaga Adik Ipar Kamu ini." ucap ibu, yang berada di samping Ria.
"Iya, Bu. Tenang aja, tak akan aku hamili. Aku cabul, tapi tak jorok. Masa iya adik sendiri dipakai." menantu tidak sopan.
Aku malah ragu. Karena sepupunya saja dipakai, apalagi Ria yang bukan siapa-siapanya sebelumnya.
Semua orang terkekeh, dengan ibu yang mengusap-usap punggung mas Givan.
"Walah, Ibu tau loh gimana Kamu ini." menurutku, ibu hanya sok tahu. Karena aku tidak pernah bercerita aib mas Givan pada ibu.
"Iya, Bu. Tanya aja nanti Rianya, udah aku apain gitu. Nanti kalau kata dia iya, ya udah aku kawin dua." ia berkata, tetapi akhirnya tertawa geli sendiri.
"Serius kau, Bang?" Ria terlihat tegang.
Kami semua tertawa lepas, melihat ketakutan di wajah Ria.
"Ya lumayan kan? Nanti istri kedua Abang, buat bantu ngurus anaknya si Cendol." mas Givan merangkulku, dengan tangan yang langsung mengusap dahiku.
Gelak tawa terus berlanjut. Mas Givan sepertinya senang telah membuat Ria takut. Setidaknya, Ria nanti akan bisa menjaga dirinya sendiri dari mas Givan karena rasa takutnya.
"Mas.... Nanti telpon ya?" aku mendongak menatapnya.
"Iya, Canda. Nanti aku sesering mungkin ngabarin kau." mas Givan mencium pucuk kepalaku.
"Udah ayo, Van. Nanti belum lagi lama jemput Bilqisnya." mamah Dinda mencolek mas Givan.
__ADS_1
"Ini Ranya, Bang." mamah Dinda memberikan bayi empat puluh hari lebih itu pada mamah Dinda.
Bayi itu, sudah tidak mau direbahkan seperti posisi menggendong bayi. Ia sudah ingin disangga di bagian perut dan dada. Kepalanya sudah berani tegak, hanya saja kami yang takut lehernya belum kuat.
Papah Adi menimang cucu terakhirnya untuk saat ini. Dengan mas Givan yang melepaskanku dan berjalan ke arah anak bayinya itu.
"Jangan repotin Biyung ya, Nak? Biyung kau belum pulih betul. Jangan ngamuk aja, bobo kalau udah malam. Jangan suka begadang ya, Nak? Kasian, nanti kau malah sendirian karena Biyung kau molor." mas Givan menciumi wajah anaknya.
Ra menyemburkan air liurnya. Menurut ilmu yang aku baca di google, anak yang seperti ini tengah melatih l*dahnya untuk bisa berbicara. Cara untuk meladeninya, adalah dengan menyembur balik. Tapi jika tahu ayahnya, ia akan mengamuk. Ayahnya posesif.
Kemudian, mereka bertiga berpamitan pada kami semua. Lalu, mobil Chevrolet Trailblazer itu perlahan menjauh.
Aku akan memulai hariku tanpa aturan dari mas Givan. Tapi masalahnya, aku mulai sholat dan tidak ada yang menyuruh. Memang itu kewajibanku, tapi pasti sholatku bolong-bolong jika mas Givan jauh. Rewelnya mas Givan, cukup mujarab untuk mengaturku sholat.
"Ibu Muna tinggal di sini aja ya? Aku tak enak berduaan sama mantu." ujar papah Adi, dengan menghampiri ibu Muna.
"Iya, Teungku. Givan juga udah ada bilang." ujar ibu Muna.
Sementara waktu, ibu Muna merangkap tugas sebagai baby sitter Ra. Dengan bayaran, yang tentunya nanti akan ditambahkan.
Kami berjalan ke arah teras rumah. Kemudian duduk-duduk di sana, dengan ibu Muna yang kembali beraktivitas.
Alhamdulillah, mereka yang bekerja pada mas Givan di rumah ini. Semuanya amanah dan tidak panjang tangan. Malahan, mereka sering memberikan padaku uang anak-anak yang sering terjatuh. Ya mungkin karena mereka kerabat papah Adi sendiri, yang mungkin juga segan pada keluarga besar kami.
"Papah juga harus kerja, Canda. Mumpung mamah kau lagi di luar, Papah harus punya biaya nikah buat balikin kepercayaan mamah kau."
Ya, mungkin mamah Dinda masih ingin melihat usaha papah Adi untuk mendapatkannya. Apa ini disebut jual mahal? Atau hukuman dari kekhilafan manusia? Menurutku, manusia tidak pantas mengadili. Namun, tetap saja dalam hati kami menggerutu.
Entahlah, semoga semua ini berakhir dengan kedamaian.
"Ya, Papah pulangnya ke sini. Bantuin aku kalau malam, barangkali Ra minta begadang. Siangnya, biar ibu main di sini nemenin aku." aku beralih memandang mereka berdua.
"Masa Kakek suruh begadang nemenin Ra?" papah Adi berbicara pada cucunya, "Ya nanti Kakek kerjanya ngantuk dong?" papah Adi mencolek pipi Ra.
__ADS_1
Kebutuhan Ra cukup banyak. Ditambah lagi, bayi itu mengedot sufor juga. Sufor rendah gula, yang akan membuat tubuhnya gemuk stabil. Tidak obesitas, ataupun gemuk karena asupan gula yang tinggi. Ini atas dasar saran dari Kinasya. Karena ASI, seperti kurang terus untuk Ra. Berat badanku sampai turun drastis, dari lima puluh tujuh kilo hingga ke lima puluh kilo dalam kurun waktu selama nifas ini.
Memang umumnya seperti itu. Tapi, aku sampai terlihat kurus.
Mungkin karena saat mengandung Ra, berat badanku sampai menyentuh angka tujuh puluh kilo. Gemuk, dengan stretchmark yang cukup banyak. Ini dikarenakan kulitnya mengembang, tetapi kulit sudah tidak mampu meregang kembali. Sehingga, jaringan kulit dalam itu pecah. Ya kurang lebih seperti itu, menurut mamah Dinda.
Setelah stabil nanti, aku akan mulai belajar tentang kain dan konveksi dengan mamah Dinda. Menggunakan nama mamah Dinda, dengan produksi barang dariku.
Sebenarnya, mamah Dinda ingin menggeluti bidang ini sendiri. Tapi, ia ingin mengajarkanku berwirausaha juga. Dengan memakai nama mamah Dinda, sudah pasti produk langsung diterima dengan baik di provinsi ini.
Mamah Dinda mengatakan, agar aku punya penghasilan. Karena bilamana jodohku dan mas Givan tidak panjang, aku bisa mencari nafkah sendiri. Intinya, aku diajarkan untuk mampu berdiri sendiri. Bilamana aku menjanda, aku tidak membutuhkan belas kasih orang lain seperti pengalamanku yang sebelumnya.
"Kenapa sih gak ikut Ibu aja, Ndhuk? Ibu sendirian loh."
Aku menoleh ke samping. Cantiknya ibuku, tapi ia memilih untuk menjadi janda abadi.
"Kan deket aja, Bu. Aku juga bisa main-main ke sana kok. Aku punya rumah sendiri, sayang rumahnya kalau dikosongkan. Aku pun punya banyak anak, aku harus ngontrol mereka juga. Aku harus ajarkan mereka agama, entah kalau ilmu umum sih. Mereka pasti dapatkan di sekolahnya dan diulang sama pengasuhnya. Rasanya percuma aja gitu kan, masa ibunya lulusan pesantren dengan embel-embel Hafizah Qur'an lagi. Masa ketimbang ajarin anak rukun Islam aja tak bisa." aku teringat akan nasehat ustadzahku dulu.
Mungkin sekarang sudah waktunya, untuk mengajarkan anak-anak cinta dengan agamanya. Meski sekarang, Key masih anti dengan hijab. Jasmine masih bertanya-tanya saja tentang ini dan itu.
Jasmine terlihat begitu cerdas. Sampai ia tidak mau mengerti, bahwa Tuhan kami ada di hati setiap orang. Ia selalu bertanya juga jika disuruh untuk mengaji. Ia mengatakan, untuk apa gunanya.
Huft, andai ia mengerti bahwa manggenya suka jika dikirim surat-surat pendek. Itu membuat terang dan damai di setiap kegelapannya.
Kadangkala juga, Jasmine bertanya kenapa gerakan sholat laki-laki dan perempuan berbeda. Rasanya aku canggung, untuk menjelaskan bahwa perempuan dewasa memiliki bentuk tubuh yang berbeda. Gerakan sholat yang berbeda, sengaja untuk menutupi bentuk tubuh yang menonjol.
Aku tidak pandai menjelaskan, apalagi jika berbau hal yang sensitif dan dewasa. Mas Givan pun sama. Ia cabul, tapi ia canggung untuk memberikan anak edukasi se*s sejak dini. Ia tidak pandai merangkai kata-kata yang halus dan dipahami anak-anak.
"Ibu kok kepikiran Ria di sana. Serumah sama Givan. Ini menantu bener gak gitu loh?" ibu terlihat murung.
Papah Adi terkekeh kecil, "Bu, Givan memang anaknya begitu. Tapi......
...****************...
__ADS_1
Siapa yang was-was juga sama Ria?