
Kenapa ada laki-laki asing di sini?
Mamah Dinda seolah membuat seperti papah Adi bersalah. Tapi, ia sendiri tinggal bersama laki-laki lain.
Astaghfirullah, aku tidak boleh su'udzon.
"Makasih ya, Pak?" aku berterima kasih pada pak RT tersebut.
"Ya, Dek. Sama-sama." bapak-bapak tersebut langsung pamit pergi.
Aku menunggu rombongan keluar dari mobil. Aku juga melihat papah Adi yang dibantu keluar dari mobil dan berjalan ke rumah ini.
Mamah ke mana ya?
Kenapa tidak ada keluarnya?
"Siapa itu?" keturunan mamah Dinda saling melempar pertanyaan.
Aku mengedikan bahuku, "Tak tau. Ayo masuk aja dulu lah." aku melangkah lebih dulu.
Sedangkan Ghava, ia langsung masuk ke pekarangan rumah dan mengitari mobil yang ringsek ini. Ghavi pun berjalan ke arah kakaknya itu, ia malah membuka kap mobil yang begitu rusak parah.
Aku melempar senyum pada laki-laki yang sejak tadi hanya diam itu.
"Permisi, Pak." sapaku kemudian.
Ia mengangguk, "Silahkan, duduk aja."
Rumah ini seperti rumah tua. Lantainya, masih terlapisi semen yang plester saja. Kacanya, beberapa menggunakan kaca nako. Seperti rumah-rumah jaman dulu. Dengan tembok yang cukup rusak. Tapi kaca rumah ini bening, seperti baru dilap dengan kinclong oleh seseorang.
"Siapa, Dek?" bisik papah Adi, saat beliau baru duduk di sampingku.
Sekeliling teras rumah ini, dipagar beton sebatas paha. Bisa untuk tempat duduk juga. Aku dan papah Adi duduk di sini.
Sedangkan laki-laki tersebut, duduk di kursi lapuk yang berada di seberang kami.
Aku menggeleng, "Tak tau, Pah." aku mengedarkan pandanganku pada bangunan ini.
Apa mamah Dinda tidak takut rumahnya dimasuki ular? Rumput di sini begitu subur dan menjulang tinggi.
Aku terusik dengan Fandi yang merengek itu. Ah, aku ingin bercanda bersama bayi hitam manis itu. Pinggangku sakit, sedari tadi duduk terus.
"Papah sini aja ya? Aku mau gendong Fandi." aku berjalan ke arah Giska.
"Sama Biyung sini, Nak." aku mengambil alih bayi botak ini.
"Bisa tak, perutnya besar tuh?" Giska memperhatikan aku yang menggendong anaknya.
"Bisa, di sana juga sering gendong Ceysa. Aman aja kata dokter, yang penting anaknya tak begitu berat." aku menciumi anak laki-laki, yang mirip dengan Zuhdi ini.
Hadi mirip dengan papah Adi, adiknya ini mirip dengan Zuhdi. Bahkan netra bayi botak ini berwarna coklat tua, dengan kelopak mata yang persis seperti abunya.
__ADS_1
"Mam...." panggil laki-laki yang sedari tadi duduk di kursi lapuk, dengan melambaikan tangannya.
Aku mengikuti arahnya memandang.
Ahh, akhirnya.
"Mamah....." aku berseru, dengan menghampiri motor yang berhenti di depan jalan rumah ini.
Namun, mamah Dinda malah bersiap akan pergi lagi.
"Mam, aku udah nunggu satu jam loh. Ya ampun, tega betul." laki-laki tersebut turun dari teras rumah. Ia berjalan dan berhenti di pekarangan rumah ini.
Aku melihat mamah Dinda memperhatikan kami semua. Namun, pandangan langsung bergulir ketika melihat rajanya bangun dari duduknya dengan dibantu oleh Giska.
"Mamah buka dong pintu rumahnya. Aku udah nunggu dua jam loh, aku pengen rebahan." aku merengek, dengan berjalan ke arah mamah Dinda yang baru turun dari motor.
"Dasar, Cendol!" aku mendengar Ghifar memakiku lamat-lamat.
Biar saja, yang penting rombonganku dipersilahkan masuk oleh tuan rumah.
Aku bisa melihat laki-laki tersebut memperhatikanku. Ah, pasti ia berpikir tentang ucapanku tadi. Ia sudah ada sejak aku datang, tapi aku menunggu lebih lama dari dirinya.
Aku ingin tertawa saja.
Mamah Dinda mencolek pipi Fandi, kemudian mengusap perutku sekilas.
Ah, akhirnya anakku diusap oleh neneknya.
"Canda.... Ayo jajan sama Om Polos yuk?" Ghifar menghampiriku, kemudian mengulurkan tangan kanannya padaku.
Aku tertawa geli, kemudian memukul telapak tangannya kemudian.
"Kakak Ipar tak beres. Bang Givan, tukar tambah aja ini bang." Ghavi berbicara dengan mendongak menatap langit.
Langit, bisakah kau turunkan air es rasa cocopandan?
Aku nyelonong masuk, mengikuti langkah laki-laki yang memanggil mamah Dinda dengan sebutan 'Mam' ini. Siapa gerangan?
Rumah yang isinya cukup lengkap.
Di bawah kursi ini, ada karpet juga. Membuat kami yang tidak kebagian kursi, duduk di karpet.
"Gimana?" mamah Dinda duduk, dengan memperhatikan laki-laki itu.
"Ish, gimana apanya? Ya mana? Terbit cetak, atau mau difilmkan?" jawab laki-laki tersebut.
Aku kurang tahu pasti, berapa usianya. Tapi tidak begitu muda, tidak tua juga. Sepertinya, empat puluh tahunan. Ia memakai kemeja marun, dengan bawahan celana jeans. Kemejanya sengaja tidak dimasukkan, dengan lengan yang digulung.
Kulitnya berwarna cerah, tidak putih juga. Rambutnya ikal, tetapi dipangkas rapi. Dengan garis mata yang bertumpuk, ketika ia tersenyum.
"Jual aja lah. Aku udah tak punya nama. Aku tak mau ikut prosedur, tak mau ngantri juga. Kau ambil naskah mentah, silahkan edit sendiri. Langsung kita transaksi aja. Terserah kau tarik siapa, buat dicantumkan dengan penulis ini."
__ADS_1
Penulis hantu? Oh, seperti itu ya.
"Coba liat dulu soft naskahnya, Mam."
Aku salah paham tadi. Mamah Dinda tidak tinggal dengan laki-laki tersebut. Mamah Dinda juga, tidak pergi untuk laki-laki lain. Sepertinya, ini hanya masalah pekerjaan saja.
"Nih." mamah Dinda kembali, dengan menunjukkan layar sebuah laptop.
Laki-laki tersebut fokus pada laptop mamah Dinda, "Banyak sih, Mam? Tak pernah dibawa naik kah? Apa ada yang terbit platform?" laki-laki tersebut memandang wajah mamah Dinda sekilas.
"Tak pernah terbit platform juga. Lama vakum, sekitar lima tahunan. Pas pindah ke Brasil sementara itu, udah tak pernah eksis lagi." mamah Dinda menaruh laptopnya di atas meja.
"Boleh liat-liat judulnya ya, Mam?" laki-laki tersebut melihat ke mamah Dinda dengan menganggukkan kepalanya kecil.
"Ya, judulnya aja."
Laki-laki tersebut langsung memutar arah laptop tersebut, "Nalendra berapa episode ini, Mam? Jujur ya, dari judulnya tak terlalu menarik. Tak ada yang ikut trend gitu."
Aku malah penasaran dengan novel berjudul Nalendra itu.
"Umum aja isinya, kek yang udah-udah."
Percakapan mamah Dinda dan laki-laki tersebut masih panjang. Sampai Fandi merengek dan diASIhi oleh Giska. Sampai akhirnya, aku terbangun, karena tidak sengaja terlelap dengan bersandar lengan Ghava.
Semua mata mentertawakanku, saat aku mengusap bagian mulutku. Aku takut mengeces saja sebenarnya, kan aku yang malu sendiri.
Saat melihat ke arah tamu laki-laki tadi. Ia ternyata sudah berada di luar, dengan berjabat tangan dengan mamah Dinda.
Apa laki-laki itu sudah akan berpamitan kah?
Namun, tiba-tiba aku merasa perutku kram. Begitu kencang dan menyakitkan.
"Papah sakit kali." aku menyentuh ulu hatiku.
"Bantu itu, Far. Ada-ada aja sih, Canda. Makanya lagi duduk itu jangan tidur. Perut kau besar, kau tak akan nyaman tidur duduk.
Aku mencoba mengatur nafasku, "Papah aku ketiduran lah." aku takut melahirkan lebih awal.
Ghifar sudah berada di sisiku, "Segala duduk bisa ketiduran. Kakak Ipar, Kakak Ipar." Ghifar geleng-geleng kepala.
Ghifar menempatkan kain jarik Fandi, yang dibentangkan di bagian bawah dadaku. Lalu Ghifar menariknya perlahan, dengan posisinya yang berada di belakangku.
Lebih lega, perutku pun berangsur lemas. Ya maksudku, tidak kaku dan keras seperti tadi. Aku akan mencoba cara ini, setiap kali kram perut.
"Ada apa?"
Aku langsung mendongak, mencari sumber suara datar itu. Mamah Dinda ada di ambang pintu, dengan memperhatikan kami satu persatu.
...****************...
Cendol kek pelawak sih 😆
__ADS_1