Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD439. T A M A T


__ADS_3

Aku mengungsikan Ra ke rumah mamah Dinda. Ya, mamah Dinda dan papah Adi baru membuka kembali rumah itu.


Yang aku takutkan adalah ular, bukan setan. Pepohonan rindang yang tidak terurus, dengan beberapa tanaman hias yang mati karena kalah bersaing dengan ilalang yang tumbuh tak terkendali.


"Haduh, dari mana dulu mesti beresinnya?" papah Adi garuk-garuk kepala.


Aku mendorong maju stroller baby yang terdapat Ra di dalamnya, "Dari depan aja dulu, Pah. Panggil aja anak-anak yang lain, atau Zuhdi. Zuhdi kan kalau beres-beres begini, kerjanya cepat."


"Zuhdi ya? Kasian kalau tak diupah, lagi nganggur aja. Kasian Giska." papah Adi melirik istrinya.


Pasti mamah Dinda diminta untuk membayar upah Zuhdi. Karena uang papah Adi hendak untuk acara syukuran kecil-kecilan pernikahan siri mereka. Sekedar untuk mengeratkan tali pernikahan dan kekeluargaan kami.


"Kok liatnya ke aku?!" ketus mamah Dinda.


"Kasian loh, Dek. Anak gadis Abang, makannya daun singkong, daun pepaya, kembang pepaya, daun kunyit, daun ubi, kembang genjer, daun genjer, kangkung, sawi hijau dari halaman rumah mertuanya." papah Adi seperti mengingat jauh.


Entah sedang mencari kalimat, untuk membuat yakin mamah Dinda.


"Apa bedanya sama Givan? Dia malah tetap hidup gagah sampai sekarang, makan dedaunan begitu. Paling royal, dia makan udang. Pisang muda sama jantung pisang pun diolahnya juga." celetuk mamah Dinda.


Eh, iya juga. Suamiku jarang makan daging-dagingan, mungkin seminggu sekali. Ia mengatakan kadang mual, kadang juga alot. Entahlah, memang agak lain jika herbivora ini.


"Ya kan Giska biasanya makan royal terus." mungkin papah Adi yang kurang menerima, karena anak perempuan satu-satunya makanannya jauh dari yang beliau mampu berikan dulu.


"Selagi masih ada lauk, biarkan lah. Toh Zuhdi juga lagi berusaha, bukan diam di rumah." ujar mamah Dinda.


"Ya Zuhdi suruh ke sini, Adek yang ngupah." papah Adi sampai menggoyangkan lengan mamah Dinda.


"Iya, iya." mamah Dinda melepaskan cekalan tangan suaminya.


Aku ragu, jika mamah Dinda bisa mencintai suaminya lagi. Akankah, beliau hidup dengan laki-laki yang sudah hambar untuknya? Atau, mamah Dinda berusaha untuk belajar mencintai suaminya lagi?


Kami menyusuri rumah ini, membuka lebar-lebar pintu dan jendela. Motor bebek milik bang Daeng, masih menjadi penghuni abadi garasi rumah ini. Kendaraan itu berjejer dengan mobil tua milik papah Adi.


Mungkin motor itu masih bisa menyala, tetapi tidak ada yang mau mengendarainya. Aku pun, tidak bisa menggunakan motor. Aku hanya bisa duduk manis di belakang sang pengendara.


Rumah yang begitu lembab, sampai lumut tumbuh di temboknya. Aduh, pasti harus keluar biaya ekstra untuk membenahi rumah ini.


"Ini nih gara-gara Adek. Rumah kita ini, udah sampai di harga lima belas milyar jaman sekarang ini Dek. Malah dirusak begini." papah Adi geleng-geleng kepala.


"Iya, bisa runtuh loh." tambahku, dengan menyetiri Ra yang anteng dalam stroller baby ini.


"Lebih baik runtuh, daripada ditempati Abang sama istri barunya. Aku yang urus ini rumah dari rumah tua, sampai berbentuk rumah modern. Udah megah, malah ganti kebijakan. Ya mana bisa begitu." mamah Dinda masih membuka semua jendela yang belum terbuka.


"Betul itu." papah Adi hanya mengiyakan saja.


Mungkin agar dirinya aman.


Tidak terasa, banyak konflik dan penyelesaian yang kita lewati. Hingga tibalah kami di acara yang dinanti.


Keluarga Adi's Bird berkumpul di ruang tamu yang berukuran besar ini. Akad nikah untuk mengeratkan tali pernikahan, dilangsungkan kembali. Dengan anak cucu dan besan yang menjadi saksinya.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Adi Riyana bin Ali Hadiyana dengan Adinda binti Sodikin dengan maskawinnya berupa uang tujuh ratus ribu, Tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Adinda binti Sodikin dengan maskawinnya yang tersebut, tunai."


Semudah itu, tapi begitu dalam maknanya.


Siapa yang menikahkan? Tentu imam masjid yang bijak dan mengerti agama. Mamah Dinda dan papah Adi tidak pernah bercerai, hanya pernah merenggang saja.

__ADS_1


"Ayah...." Ceysa merengek, dengan berjalan ke arah ayahnya.


"Hsttttt...." mas Givan menaruh telunjuknya di depan mulutnya.


"Itu Kak Jasmine nakal." Ceysa menunjuk kakaknya.


Ia sudah tidak lagi cadel, bicaranya pun sudah jelas. Hanya saja, ia masih berputar mengelilingi rumah setiap hari.


Tentu semua mata tertuju pada kami. Acara sedang khusyuk, tetapi anak-anak kami mulai heboh.


Belum lagi Ra yang merengek, karena kakaknya duduk di atas paha ayahnya. Sedangkan dirinya, berada di dekapan ayahnya. Ra sepertinya tidak mau membagi ayahnya.


Ditambah lagi, Ceysa memaksa tetap berada di sana. Sehingga suara tangis anak-anak tidak bisa dihindari.


"Kak Ces bangun. Ayo ikut Ayah." mas Givan menuntun tangan Ceysa.


Aku pun mengekorinya, karena suara mas Givan sudah begitu tegas. Belum lagi, tangisan anak-anaknya yang bersahutan. Aku khawatir mas Givan murka dengan anak-anaknya sendiri.


"Bang Chandra, Kak Key, Kak Jasmine, Bang Zio, sini!" perintahnya membuat semua mata saksi melirik ke arahnya.


"Aduh, Mas. Nanti aja marahnya, aku malu." aku menggoyangkan lengannya pelan.


Anak-anak sudah mengerubungi melingkar di depan ayahnya.


"Kak Key, Kak Key ini siapa coba?" tanya mas Givan, dengan menunjuk anak sulungnya itu.


"Aku kakaknya Bang Chandra, Adek Zio, Adek Ceysa." Key menunjuk adik-adiknya.


Ra menendang kakaknya, Ceysa. Yang masih anteng di pangkuan ayahnya itu.


"Ini siapa coba?" mas Givan menahan kaki Ra.


Heh?


Jawaban macam apa?


Mana itu anakku lagi yang menjawab. Ya, itu si bang Chandra yang penuh dengan kontroversi seputar susu kotak varian rasa setiap harinya.


"Adik kau, Gondrong!"


Keluar sudah makian ayahnya.


"Tapi begitu sih, aneh."


Hah?


Aku ingin menangis saja. Masa anak segembul Ra dibilang aneh.


"Aneh apanya?" tanya Jasmine pada Chandra.


"Kok tak punya rumah kek kita?" Chandra beradu pandang dengan Jasmine.


"Iya juga ya? Aku anak mangge aja, punya rumah sendiri. Aku nyapu sendiri, bobo sendiri." timpal Jasmine.


Jika anak-anak berdebat itu, susah diberi pengertian dan sulit untuk dimengerti mereka.


"Jasmine udah jadi anak Ayah. Jasmine tiap hari makan duit Ayah. Paham ya?! Mangge dikirim doa, buat ucapan terima kasih Jasmine karena mangge udah sayang sama Jasmine dan udah kasih Jasmine batu bata buat bikin rumah." timpal mas Givan.


"Kemarin katanya aku anak ammak, sekarang diakui." Jasmine cemberut dengan melirik seseorang yang ia panggil ayah ini.

__ADS_1


"Jasmine Ayah cekik ya lepas ini?" penawaran macam apa ini?


Jasmine memegangi lehernya, "Jangan Ayah. Iya deh aku nurut ke Ayah, gak cuma ke Biyung aja."


Setidaknya, Jasmine dari awal patuh padaku. Juga setiap kali disuruh untuk beribadah atau mengaji, ia mau meski belum hafal bacaan sholat seperti Key atau Chandra.


"Jadi gini. Urutannya begini, kalian saudara semua. Satu ayah, satu ibu, meski ada yang beda mak bapak."


"Kan dari awal kita saudara selamanya, Yah." timpal Key kemudian.


"Iya, tapi ada penghuni baru di sini. Tapi kalian tak pernah mau sapa." mas Givan tetap saja ngotot meski ke anak-anak.


"Aku sering say hay, toel-toel pipi, ngajak ngobrol, tapi tetap dijambak ditabok." jawab Key.


"Iya betul, aku juga dikasarin sama Adek itu." Jasmine menambahkan.


"Kan bercanda aja, Kak." aku bukan membela Ra.


"Tapi aku tak boleh bercanda jambak-jambak rambut atau kasar begitu. Aku dimarahin Biyung pasti, apalagi Ayah." Key membela kebenaran yang ia paham, ia sampai melirik ayahnya yang pemarah itu.


"Gini, gini! Dengerin Ayah." mas Givan menarik perhatian semua anak-anak.


"Key, kakak pertama. Kak Jasmine, kakak kedua. Bang Chandra, kakak ketiga, Bang Zio, kakak keempat. Adek Ceysa sekarang jadi kakak juga, kakak kelima untuk Ra. Adik ini, adik kalian semua. Namanya Caera, dipanggil Ra. Dia masih kecil, jangan digendong-gendong ya?" mas Givan menunjuk Ra dengan senyum lebarnya.


"Ra kecil, Yah?" mata bang Daeng itu lepas menatap wajah ayahnya, Ceysa.


Aku tertawa geli di sini. Pasalnya tubuh Ceysa dan Ra, lebih besar tubuh Ra.


Mas Givan garuk-garuk kepala, kemudian melirikku bingung.


"Ya Ra besar, tapi umurnya kecil." jawab mas Givan, yang entah dimengerti tidak oleh mereka.


"Aku kan anak mangge, sama Adek Ceysa juga." terang Jasmine ngotot.


"Iya, tetap anak mangge. Ceysa juga tetap anak mangge. Tapi tetap panggil ayah, ya Ayah." sahut mas Givan.


"Aku gak mau masuk urutan, Ayah galak."


Aku terkekeh kecil, dengan menutupi wajahku. Mas Givan ditolak oleh Jasmine, sebagai orang nomor satu di rumah kami.


"Kalau tak ada dato kau, udah Ayah balikkan kau ke Sulawesi. Sana sama nenek kakek dari ammak kau." mas Givan mengancam dengan nada rendah.


Aku menepuk pundaknya, karena geli sendiri melihatnya yang kadang marah tidak sesuai porsinya ini.


Perdebatan ini, malah mengundang tawaku sejak tadi.


Terima kasih, pada penulis. Yang mau menyatukan kembali aku dengan seseorang yang bisa menuntunku ke jalan yang benar, seseorang yang tegas memberiku perintah untuk sholat. Seseorang yang begitu takut aku merasakan sakit dan merasakan hal yang paling buruk.


Terima kasih, atas semua konflik dan penyelesaian yang membuatku lebih matang dan dewasa, untuk menyikapi sebuah permasalahan.


Terima kasih, untuk pengalaman dalam scene yang bisa diambil hikmahnya untuk pembaca semua.


Terima kasih, atas pengembangan cerita dari beberapa permasalahan kehidupan yang nyata. Membuatku kini, sudah mengerti dan memahami apa yang orang lain rasakan atas kesalahanku.


Yang paling utama, terima kasih pada Yang Maha Kuasa. Karena sudah memberi kami umur panjang, rejeki yang mengalir deras, kesehatan yang selalu terjaga dan panjang jodoh.


Terima kasih, yang sudah sudi membaca sejauh ini. Dukungan dan komentar terbaik dari kalian, adalah hal yang paling kami syukuri.


Terima kasih, sampai jumpa di season selanjutnya. Bye-bye, sehat selalu semuanya.

__ADS_1


...T A M A T...


__ADS_2